Oleh:Nasbahry Couto
Dasar pengetahuan penulis adalah bidang visual arts (seni rupa, desain, dan arsitektur) yang diluaskan ke bidang budaya visual (visual culture). Artikel yang penulis tulis, tentu tidak ingin ke luar dari referensi ini. Jika ada pembaca ingin membawa ke luar konteks ini, mungkin karena pembaca memiliki referensi lain. Jika pembaca ingin mendalami pemikiran penulis lebih dalam, ada dua buku yang bisa dibaca, yang penulis tulis tahun 2008. Yaitu Dimensi Teknologi dalam Seni Rupa (DTS) yang memfokuskan kajian ke tradisi teknik Seni Rupa sepanjang zaman dan sedikit menyinggung teknik seni dg. Komputer. dan satunya lagi Budaya Visual Seni Tradisi Minangkabau (BVTM)* yang memfokuskan kajian ke arsitektur tradisi. Tulisan di bawah ini, adalah beberapa cuplikan kedua buku itu, yang penulis coba rangkai dengan artikel terdahulu “Sebuah Perenungan Terhadap Kecendrungan Seni dan Budaya”. Dan, mudah-mudahan dapat memperjelas maksud artikel itu.

el despacho, la Embajada de los Países Bajos en México y la Cineteca Nacional tienen el agrado de invitarle a la premiere de la película y presentación del DVD del documental:
Sabtu 23 Agustus menjelang sore hari, sebuah atraksi orkestra ditampilkan dengan begitu sempurna di Taman Budaya Padang, pada pembukaan pameran lima tahun komunitas Belanak. Pameran tersebut mengangkat tema Apresiasi Urban. Anak-anak usia sekolah dengan piawai memainkan berbagai alat musik biola, terompet, lira, flugel, talempong gitar, drum band dan lainnya. Penampilan musik itu dibawakan orkestra Kota Padang, yang umumnya anak-anak usia sekolah dasar. Mereka dengan seksama menggesek dawai biola, agar musik yang dimainkan sempurna dan mampu menggugah penonton.
JAKARTA, KOMPAS – Animo masyarakat menyaksikan Manifesto, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia sekaligus peresmian Tangan Patung Ruang Publik Penanda Baru Galeri Nasional Indonesia, Rabu (21/5) malam, relatif besar. Lebih 500 masyarakat dalam dan luar negeri, memadati arena pameran. Pameran yang dikuratori Jim Supangkat, Rizky A Zaelani, Kuss Indarto, dan Farah Wardani itu menampilkan 354 seniman (karya) dari 15 provinsi yang masih eksis dari angkatan 60-an hingga saat ini. Karya yang ditampilkan cukup beragam, ada karya berupa lukisan, patung, grafis, multimedia dan instalasi, hingga karya-karya seni media baru (video art, fotografi, dan lain-lain).





KOMENTAR