Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada program tahun anggaran 2007 akan menyelenggarakan kegiatan yang berskala nasional, yaitu Pameran Seni Rupa Nusantara 2007 dan Seminar Nasional Penulisan dan Kajian Seni Rupa Indonesia dengan tema : Demi Mas[s]a.

  • Undangan Kuratorial Pameran Seni Rupa Nusantara 2007
  • Undangan Penulisan Makalah Seni Rupa Indonesia 2007

PENGANTAR UMUM

Demi Mas[s]a

“Bagi mereka yang merasa terjerat oleh sejarah, dan merasa bahwa sejarah itu terjerat dalam dirinya, langkah menuju emansipasi memerlukan sesuatu yang lain”

- Goenawan Mohamad, EKSOTOPI

Sejarah tentu cerita pada suatu masa, namun keliru kita anggap sejarah melulu soal masa lalu. Ketika penulis (cerita) sejarah menghadapi bukti-bukti masa lalu, sesungguhnya ia tengah hidup pada masa kini-nya. Ia menghidupkan tafsir. Tak semua penulis sejarah, bahkan selalu berada tepat di seluruh kisah-kisah masa lalu yang diceritakannya. Sejarah memang tak hanya tentang kesaksian aktual, lebih penting justru soal kesaksian kultural. Memahami, menerima, sejarah berarti mengaitkan narasi masa lalu itu, pada kepentingan soal-soal masa kini, dengan berbagai bayangan tentang masa depan. Menerima sejarah, dengan demikian, mengandung kepentingan: jadi soal yang dipikirkan. “(Ketika) kita berfikir, maka kita pun tak bisa lepas dari merumuskan identitas-identitas, membentuk pengertian-pengertian dan kategori-kategori”. Tak ada (narasi) sejarah yang alamiah, tak memihak.

Sambil menemukan berbagai kenyataan sosial-budaya, sejarawan dan kritikus seni Sanento Yuliman memeriksa perkembangan seni rupa Indonesia. Perkembangan yang diantaranya dibentuk persepsi sejarah itu, baginya, mengaburkan kesadaran sosiologis yang sesungguhnya menentukan berbagai rumusan identitas, pengertian, dan kategori sosial seni rupa sebagai lingkup bagian masyarakat Indonesia. Sanento menjelaskannya sebagai soal pandangan yang dianggapnya telah merintangi adanya ‘kesadaran sosiologis’ dalam memahami seni rupa Indonesia dalam lingkup yang menyeluruh (lht. Lampiran Tabel “Pandangan yang merintangi kesadaran sosiologis’)

Mengikuti arah penjelasan Sanento, ada pertanyaan jelas: ‘Bagaimana kita mesti pahami jalan sejarah berbeda-beda dari berbagai tradisi seni rupa kita di tanah air?’ ―yaitu tradisi-tradisi seni rupa yang menunjukkan kenyataan berbagai kebudayaan etnik, yang tumbuh di desa dan di kota, serta mencerminkan berbagai golongan dan lapisan sosial. Bisakah kita kenal dan terima seluruh versi tentang urutan-urutan nilai (estetis) yang berbeda-beda itu, dalam rangka menjelaskan jenis-jenis atau cabang-cabang seni rupa di Indonesia, secara tertentu?

Misalnya saja. Kita temukan dua jalan guna mendekati pertanyaan itu ―yang dalam caranya kurang lebih bisa menunjukkan pertentangan. Kedua jalan itu, bagaimana pun, sama-sama punya kepentingan yang berada pada sebutan berbagai ‘konsep’. Jalan pertama, memahami konsep ‘Indonesia’ sebagai pijakan utama masalah. Kita tahu, Indonesia terbentuk sebagai komitmen politik yang sekaligus mengikat kesatuan wilayah (sebagai lokasi tempat pengalaman hidup berlangsung), nilai-nilai identitas (sebagai atribut kebangsaan), dam budaya (dalam manifestasi (ber)bahasa): Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Menerima komitmen semacam itu sebenarnya juga diiringi kesadaran menjadi ‘orang modern’. Artinya, memahami jadi ‘orang Indonesia’ berarti merumuskan identitas-identitas, membentuk pengertian-pengertian dan kategori-kategori modern itu dengan berbagai cara. Dalam berbagai kondisi lokalitas, segala pengertian dan gagasan-gagasan modern berusaha menemukan tempatnya, bahkan harus menempuh resiko membeda-bedakan segala hal yang berada di luar ke-modern-an. Alasannya, karena ‘Indonesia’ sebagai konsep kesatuan wilayah, identitas, dan kebudayaan, bagaimana pun, tumbuh dan mewarisi alam iklim pikiran modern ―mengandung, diantaranya, semangat dan keyakinan Abad Pencerahan akal, deklarasi kemanusiaan Revolusi Perancis, atau optimisme Revolusi Industri. Dengan demikian, usaha mengenal ‘seni rupa Indonesia’, pertama-tama, dimulai dengan menemukan alasan-alasan kesamaan keber-ada-annya, yaitu semangat ke-modern-an. Dari usaha mencari kesamaan itulah dikenal berbagai problematika kebedaan yang bukan hanya tentang kenyataanya, tapi juga cara menafsirannya.

Jalan kedua justru mulai dengan mengidentifikasi ‘seni rupa Indonesia’ dari berbagai keadaan yang berbeda-beda. Asumsinya, membiarkan sebutan ‘seni rupa Indonesia’ seolah adalah konsep ‘netral’ yang akan mampu menampung ke-ada-an berbagai tradisi seni rupa yang masing-masing mengandung nilai-nilai kebudayaan etnik sekaligus menunjukkan berbagai golongan dan lapisan sosial yang berbeda-beda. Kita lalu memahaminya sebagai suatu ‘mosaik kebedaan’. Boleh jadi, ini yang disebut seni rupa ‘Nusa Antara’ itu. Masalahnya, kemudian, terletak pada soal membayangkan, menangkap, lalu mengerti bentuk gambaran semacam apa yang tampak pada ‘mosaik kebedaan’ tersebut. Hipotesanya, percaya pada gambaran mosaik itu akan muncul garis-garis persamaan bentuk pengungkapan, persinggungan raut-raut pernyataan, atau nuansa maksud-maksud yang berselaras diantara berbagai kebedaan. Berpijak pada persinggungan-persinggungan dan keselarasan itu lah kita menyebut adanya ‘kesamaan’.

Kedua jalan itu menunjukkan dinamika caranya masing-masing ―yang satu ‘mencari kebedaan dari kesamaan’, yang lainnya ‘mencari kesamaan dari kebedaan’. Dalam prosesnya, kedua cara itu mesti mengghadapi ‘sisi yang lain’ (liyan, the other) dari masing-masing sasarannya ―baik yang liyan dari kesamaan, maupun dari kebedaan. Bagi keduanya, paling penting tentu bukan soal hasilnya jadi persis seperti ‘apa’, selain bagaimana proses untuk membentuk dan menyusun hasil tersebut. Perkara ‘hasil’ adalah bagian dari dinamika cara itu berlangsung. Hasil itu, dianggap berhasil ataupun tidak, toh mesti muncul sebagai gambaran dari suatu proyeksi (visi) ―sekali pun memproyeksikan gambar yang terus mengalami perubahan. Di titik ini kita sadari pokok utama yang hendak diungkap Sanento, yaitu: perubahan. Kita tahu, apa yang ang tetap dari berbagai gejala alam dan budaya tentu saja adalah perubahan. Gejala perubahan ini lah masalahnya, kerena dalam prakteknya mengalami percepatan proses akibat modernisasi dan globalisasi sosial dan budaya.

David Harvey, seorang pemikir dan ahli geografi, menjelaskan proses modernisasi dan globalisasi sosial-budaya itu dalam kaitannya terhadap masalah ‘pemetaan ruang yang bersifat sosial dan politis’. Terutama terhadap situasi sosial-budaya yang kini dikenal sebagai perkembangan ‘masyarakat konsumsi’, ‘masyarakat tontonan’, ‘masyarakat pasca-industri manufaktur’, atau disebut ‘pasca-modernitas’ (postmodernity) itu, ia pahami sebagai suatu tahap perubahan yang mendasar dalam ‘rezim politik-ekonomi ruang’ (politico-economic regim of space)(5. Artinya, telah terjadi cara tafsir baru dalam memandang ke-ada-an ruang sebagai manifestasi kekuasaan politik dan ekonomi. ‘Penguasa’ masyarakat pasca-industri manufaktur adalah kaum pemodal yang tak harus memiliki berbagai perangkat kerja secara konkrit. Di Indonesia, pertumbuhan pasar modal adalah salah satu indikator untuk menunjukkan perkembangan masyarakat semacam ini.

Pun di tempat kita, bahkan hingga kini, soal paling ‘obyektif’ dan jadi kepercayaan umum untuk menunjukkan ke-Indonesia-an adalah soal ke-ada-an ruangnya, wilayah yang kita sebut sebagai kepulauan Nusantara. Lingkungan ini pula yang membentuk perbedaan sosial budaya berbagai kebudayaan etnik di kita, selama ini. Sejak berabad-abad lalu wilayah kepulauan Nusantara adalah jalur pelintasan budaya yang paling aktif dan dinamis, dalam berbagai bentuk interaksi sosial, politik, dan kepercayaan dari berbagai peradaban besar dunia. Hingga kemudian terbentuk pengalaman interaksi dengan barat yang dikukuhkan sejarah kolonialisasi. Pengalaman kolonial itu lah yang membentuk persepsi baru tentang ke-ada-an wilayah kepulauan itu sebagai ‘Indonesia’, dan jadi ‘tanah air’ bagi bangsa yang merdeka.

Bagi masyarakat barat, kolonialisme tentu bukan cuma petualangan biasa. Di balik berbagai upaya itu juga berkobar semangat juga persepsi tentang kemajuan masyarakat yang didorong berbagai optimisme revolusi sosial, budaya, dan teknologi. Tanah koloni adalah sumber bahan mentah bagi roda revolusi industri. Dalam sejarah transformasi sosial dan teknologi semacam itu, barat merintis pengenalan versi kemajuan sosial budaya yang disebut kondisi masyarakat modern, atau modernitas, di Indonesia. Menurut Harvey, dalam transformasi teknologi dan sosial kondisi modern itu berlangsung semacam bentuk dialektika yang menghubungkan kemajuan sosial dengan prinsip-prinsip perkembangan dunia penciptaan dan kreativitas, termasuk ekspresi kesenian. Pada satu sisi, berlangsung semacam ‘kekacauan ruang’ (spatial disruption) akibat munculnya kondisi-kondisi ‘ketidak-tetap-an baru yang bersifat me-ruang dalam pengalaman menjalani kehidupan modern’ (new spatial impermanence of modern life). Sementara itu di sisi lain, justru berlangsung keyakinan estetik yang bersifat individual (modernisme) yang terus-menerus berusaha mengambil jarak ruang pada setiap kondisi seperti itu, sebagaimana juga menunjukkan berbagai bentuk nostalgia terhadap berbagai gambaran ‘kondisi akar muasal’ serta situasi ruang hunian manusia yang dibayang-bayangkan ‘ideal’―yang seolah-olah tetap: ‘gemah ripah loh jinawi’.

Dalam berbagai contoh, sering kita temukan ekspresi seni yang menunjukkan situasi keterdesakkan, pengasingan, atau peminggiran subyek manusia dalam situasi perubahan ruang (tempat) yang serba cepat dan dramatis ―semisal, berubahnya lingkungan alami jadi kampung yang sibuk, desa yang jadi kehidupan kota, kota yang menjelma jadi metropolis, bahkan metropolis yang lalu jadi megapolis, yang seluruhannya tidak menjadikan setiap (subyek) manusia yang hidup di dalamnya jadi bagian yang turut menentukan. Alih alih menggambarkan sikap optimis dan rasa memiliki berbagai kemajuan, banyak ekspresi seni justru berbalik menyampaikan pesan yang bertentangan dengan pencapaian sosial, kultural, dan teknologis semacam itu dengan cara mengajukan kritik, atau menunjukkan berbagai gambaran lain yang berbeda demi menyiratkan situasi asal dan ideal yang mungkin terbayangkan. Ini lah yang kemudian dianggap sebagai dasar semangat keyakinan estetik modernisme, yaitu: sikap berjarak (individu, seniman) terhadap berbagai manisfestasi kemajuan agar bisa bersikap kritis, demi berbaikan perinsip kemajuan itu sendiri.

Pada tahap perkembangan modernitas, ‘waktu’ menyebar dan memadat dalam dimensi ruang. Artinya, kepentingan memikirkan ‘waktu’ (kecepatan, percepatan) menguasai dan mengatasi segala pertimbangan yang menyangkut keberadaan ruang. Ruang yang sedianya dibayangkan ‘netral’ dan bisa menampung segala kepentingan manusia yang menghidupinya itu tergusur pergerakkan kepentingan dimensi waktu, demi kemajuan sosial kultural. Gerak kemajuan itu tak lain adalah manifestasi berbagai prediksi, perencanaan, dan pengukuran (rasional, ilmiah, dan teknologis) berkenaan segala keadaan ruang sebagai potensi dan modal kemajuan hidup manusia di masa mendatang. Kolonialisasi ruang dari proyek modernitas yang tak kunjung henti ini menghasilkan akibat yang menghendaki banyak korban. Para korban adalah ‘subyek’ manusia dan masyarakat itu sendiri yang mesti menghadapi berbagai akibat perubahan ruang. Akibat yang menghasilkan kebingungan situasi berada dalam, dan rasa menjadi bagian dari, ruang yang sedianya menyiapkan jaminan identitas kultural yang mapan(6. Telaah David Harvey memberi gambaran yang lebih kompleks lagi dalam menjelaskan proses globalisasi dunia. Jika modernisasi dan proyek modernitas adalah proses yang memadatkan kondisi ruang dalam suatu satuan waktu (misalnya, dalam hitungan efisiensi, efektifitas, dan angka kecepatan pertumbuhan); maka globalisasi, dalam perpektif Harvey, bahkan adalah proses pemadatan yang sekaligus meleburkan dimensi ruang dan waktu. Dengan teknologi internet, misalnya, seseorang secara seketika dan instan bisa mengalami berbagai tempat dan kejadian. Harvey sekaligus memperingatkan: inilah masanya seseorang atau masyarakat mengalami kebingungan akan orientasi ruang dan waktu, secara bersamaan. Bagi analisa kebudayaan, hilangnya orientasi ruang bisa mengakibatkan rasa bingung seseorang atau masyarakat akan identitas-nya (secara personal, sosial, maupun kultural); sementara kebingungan akan dimensi waktu akan mengaburkan orientasi sejarah. Saat pengertian ‘masa’ dan ‘massa’ itu melebur, Yasraf Amir Piliang menyebutnya sebagai ‘dunia yang dilipat’, kita menghadapi semacam realitas yang dirampatkan secara bersama, antara soal-soal: yang individual dengan ‘yang khalayak’, ‘yang lalu dengan yang kini’, ‘yang di sini dengan yang di sana’.

Bandung, Maret 2007

Rizki A. Zaelani

CATATAN:

  1. Goenawan Mohamad, Eksotopi, dlm EKSOTOPI Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas, (Jakarta: PT Pusaka Utama Grafiti, 2002), hlm. 5.Goenawan Mohamad menanggapi apa yang semula dikatakan Theodore Adorno: “Berfikir berarti mengidentifikasikan”. Ibid. hlm.4
  2. Lht. Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa, dlm DUA SENI RUPA, Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman, ed. Asikin Hasan, ( Jakarta: Yayasan Kalam, 2001), hlm.23-24. Pengerjaan bagan pikiran saya susun sendiri.
  3. “Ketika berfikir, . . . (kita) membentuk serta menggunakan konsep. Membentuk serta menggunakan konsep berarti menguasai keanekaragaman dan sengkarut fenomena di luar kesadaran, dan serentak dengan itu meletakkan mereka di dalam satu kurungan yang sama, dan membekukan mereka sampai terjadi kesamaan: suatu proses abstraksi”, ungkap Goenawan Mohamad, op.cit. hlm.4.
  4. Lebih jauh. Lht. David Harvey, The Condition of Postmodernity: An Enquiry Into the Origins of Social Change, (Oxford: Blackwell, 1989).
  5. Komentar ini dijelaskan Steven Connor meneruskan penjelasn Harvey. Lht. Steven Connor, Postmodernism and Cultural Politic, dlm Postmodernist Culture, An Introduction to Theory of the Contemporary, (Oxford: Blackwell Publisher, 1997), hlm. 254-5

 ***

 

UNDANGAN KURATORIAL PAMERAN SENI RUPA NUSANTARA 2007

PENGANTAR

Tema karya-karya dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2007 hendak membuka tabir masalah seni rupa di era globalisasi dan industrialisasi (seni). Meski istilah ‘industrialisasi’ dan ‘globalisasi’ sudah lama jadi pembiaraan kita, namun baru dekade tarakhir sajalah keduanya menunjukkan pengaruhnya yang jelas dan mendalam pada perkembangan seni rupa Indonesia. Munculnya berbagai pameran seni rupa internasional berskala besar yang melibatkan para seniman Indonesia, perkembangan ‘pasar seni’ rupa, pertumbuhan jurnal dan majalah seni rupa, aktifnya lembaga-lembaga Balai lelang seni rupa, hingga berkembanganya ‘industri pendidikan’ seni rupa di masa kini, kian meneguhkan kepercayaan kita. Bahwa soal-soal yang berkaitan dengan penciptaan dan apresiasi karya seni rupa tak lagi terbatas pada keberadaan ruang konkrit dan kehadiran kita fisik; karena jaringan informasi dan interaksi yang kian luas membawa berbagai kemungkinan yang tak bayangkan oleh pengalaman penciptaan dan penerimaan karya seni rupa Indonesia sebelumnya.

Sungguh demikian, proses penciptaan karya seni toh tetaplah suatu notasi pergulatan kreatif demi pendapat dan keyakinan (yang bersifat individual). Ruang dan pengalaman hidup secara konkrit bagi seorang seniman, bagaimanapun, tentulah ibarat lautan bagi kolam gagasan penciptaan karyanya. Maka, bagaimanakah di masa kini, soal identitas dan pendapat personal yang bersifat lokal itu mesti menyatakan sekaligus resonansinya yang bersifat global (internasional)? Bukankah perkembangan seni rupa di kampung halaman kita, Indonesia, punya masalah yang demikian khas? Bagaimana mungkin kita bisa berwawasan lokal, nasional, dan internasional secara sekaligus ? (untuk diskusi lebih lanjut, lht. lampiran makalah ‘demi mas[s]a’)

Dengan menimbang tema perhatian kita pada kepentingan persoalan ‘masa’ (waktu) dan ‘massa’ (khalayak, publik), setidaknya, kita bisa punya beberapa cara menyusuran masalah. Misalnya, saja:

Pertama, memahami persoalan ‘masa’ (era, waktu) sebagai tema-tema perhatian yang mengandung masalah pergulatan pengalaman menyangkut, misalnya:

  1. ‘Tanda-tanda pengalaman kejadian’: persitiwa yang telah terjadi, dilihat pada kesadaran pada masa kini.
  2. Pembuktian tetap hidupnya pembelaan kita pada ‘semangat jaman’ (zeitgeist) yang (tetap) kita perjuangkan.
  3. Mencermati kaitan-kaitan persoalan yang sama, yang terjadi di masa lalu, masa kini, bahkan (dibayangkan) mungkin juga di masa mendatang.

Kedua, membaca permasalahan seni rupa melalui perhatian kita terhadap persoalan tentang ‘massa’. Artinya, kita bisa menyatakan tema-tema perhatian, misalnya, tentang:

  1. Problematika pencitaan karya akibat berkembangan selera massal yang dominan terhadap cara pandang dan cita rasa individual seniman yang bersifat khas.
  2. Potensi kecenderungan gaya dan cara penampakkan karya yang beriring dengan cara penerimaan umum (publik) yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan selera massal (kebudayaan massa) sebagai titik tolak persoalan karya seniman yang (justru) bersifat personal.
  3. Menimbang aspek penerimaan publik, secara massal, tersebut sebagai pokok penting pekembangan seni rupa mendatang, yang selayaknya mendapatkan artikulasi pendapat yang bersifat individual.

Ketiga, menggali kaitan masalah persoalan ‘masa’ dengan ‘massa’, yang tak hanya menempatkan persoalan seni rupa dalam wilayah persoalan di Indonesia saja, tapi juga bersifat jaringan persoalan yang bersifat global:

  1. Masalah perayaan cita rasa dan nilai kebudayan massa sebagai konsekuensi dari runtuhnya legitimasi sejarah seni rupa sebagai pusat penilaian yang bersifat formal.
  2. Cita rasa dan nilai-nilai kebudayaan populer sebagai potensi kreatif yang bersifat kritis dalam rangka merayakan semangat ke-kini-an.
  3. Cita rasa dan nilai-nilai kebudayaan populer yang ternyata juga memiliki masa perkembangannya yang bersifat historis.

PESERTA PAMERAN

  • Peserta pameran adalah seniman perorangan atau kelompok, warga negara Indonesia, di seluruh wilayah Indonesia.
  • Seniman non-warga negara Indonesia yang menetap dan telah bekerja di Indonesia selama minimal 3 tahun, serta tertarik menggerjakan karya-karya dengan tema dan persoalan Indonesia (Nusantara).

KARYA

  • Karya yang dipamerkan terutama adalah adalah: foto, video, obyek, kain, kaca, dan ekspresi karya-karya kria lainnya, selain juga: lukisan, gambar, dan patung yang bersifat konvensional.
  • Material & teknik pengerjaan karya bebas, terutama dengan penekanan ekperimentasi material dan teknik pengerjaan.
  • Karya yang bersifat instalatif tidak melebihi pemakaian ruang seluas 150 x 200 x 300 (t) cm. Karya dengan cara pemasangan yang khusus, diharuskan melampirkan gambar kerja pemasangan karya.
  • Ukuran maksimal karya (lukisan) 200 x 200 cm; minimal 100 x 100 cm; Berat maksimal karya 20 kg. Kecuali untuk karya-karya dengan katagori non-lukisan, spt: fotografi, obyek, dll.
  • Karya yang dipamerkan dibuat dalam kurun waktu pembuatan tahun 2006 – 2007.
  • Biaya pengerjaan karya adalah tanggung jawab calon peserta pemaran.

PROPOSAL KARYA

  • Karya diusulkan melalui gambar (image) berbentuk data digital dengan resolusi besar untuk kepentingan pencetakan katalog (dalam rekaman CD, atau dilampirkan sebagai foto dengan ukuran minimal 10R.
  • Setiap karya dilengkapi dengan data-data karya (tahun pengerjaan, teknik, material, ukuran).
  • Usulan karya instalatif yang harus dipasang secara khusus harus dilengkapi dengan penjelasan/ manual cara memasang karya.
  • Setiap calon peserta bisa mengusulkan karya untuk dipamerkan maksimal 3 buah karya, masing-masing dilengkapi dengan penjelasan konsep karya.
  • Setiap calon peserta WAJIB melengkapi proposal usulan karya dengan DATA DIGITAL (file) keterangan biodata (dengan data kegiatan pameran 3 tahun terakhir).
  • Setiap calon peserta WAJIB melengkapi proposal dengan Biodata/ CV serta fotokopi keterangan identitas diri (KTP/ Passport).
  • Proposal usulan karya dikirimkan paling lambat tanggal 11 Mei 2007 (cap pos)
  • Proposal dikirim ke:

Panitia Pameran Seni Rupa Nusantara 2007

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta Pusat (kode pos 10110)

Tel: 021-34833955 / fax: 021-3813021

Email:

galnas@indosat.net.id

rizkizaelani@yahoo.co.id

atau andre_tebe@yahoo.com

SELEKSI KARYA

  • Seleksi proposal usualan karya yang akan dipemerkan dilakukan oleh kurator Galeri Nasional Indonesia, yang menangani pameran ini, yaitu: Rizki A. Zaelani & Mamannoor
  • Jumlah karya terseleksi yang dipamerkan dari masing-masing peserta, mutlak ditentukan oleh kurator.
  • Peserta dengan karyanya yang terpilih sebagai materi pameran akan diinformasikan melalui surat atau media informasi lainnya.

PENGEPAKAN & PENGIRIMAN KARYA

  • Peserta pameran WAJIB mengerjakan pengepakan masing-masing karyanya secara baik. Pengerjaan pengepakan bisa dilakukan secara kolektif maupun individual. Kerusakan karya akibat pengepakan yang tidak baik merupakan tanggug jawab pihak seniman yang mengirimkan.
  • Biaya pengiriman karya ke Galeri Nasioal Jakarta adalah tanggung jawab setiap peserta yang akan berpameran.
  • Pengembalian karya bisa sekaligus oleh peserta.
  • Galeri Nasional Indonesia bertanggung jawab mengirimkan kembali karya-karya yang dipamerkan kepada para peserta pameran berdasar pada data pengiriman karya yang diberikan oleh tiap peserta.

DISPLAY KARYA

  • Pemasangan karya adalah hak dan tanggung jawab kurator pameran.
  • Karya-karya dengan cara pemasangan yang khas, JIKA dianggap perlu, akan dipasang dengan bantuan senimannya.

PUBLIKASI & PROMOSI

  • Galeri Nasional Indonesia berhak menggunakan gambar (image) karya peserta pameran untuk keperluan publikasi & promosi pameran.
  • Publikasi & promosi pameran dilakukan melalui pencetakan: poster, katalog, dan undangan pameran; serta penyebaran press release ke media massa (cetak maupun elektronik)

PEMBUKAAN PAMERAN

  • Pembukaan Pameran Seni Rupa Nusantara 2007 : ‘demi mas[s]a’, akan dilakukan pada hari Rabu, 11 Juli 2007, pukul: 19.30 WIB.
  • Pembukaan pameran akan diresmikan oleh Menteri Kebudayaan & Pariwisat RI
  • Peresmian pameran akan dihadiri para undangan yang terdiri dari: seniman, pengelola galeri, pemerhati seni, mahasisiwa, media massa, dan masyarakat pecinta seni.
  • Peserta pameran berhak meminta sejumlah undangan tanpa alamat kirim untuk dimanfaatkan secara personal. Peserta yang membutuhkan undangan tanpa alamat kirim bisa mengajukan permintaan secara tertulis kepada panitia pameran.
  • Peserta pameran dihimbau untuk bisa menghadiri acara pembukaan, tetapi pihak Galeri Nasional Indonesia tidak menanggung biaya kedatangan peserta ke Jakarta.
  • Panitia pameran bekerja sama dengan lembaga terkait bisa mengeluarkan surat rekomendasi dan keterangan kesertaan berpameran bagi para peserta pemeran yang membutuhkannya. Peserta yang membutuhkan surat keterangan semacam ini bisa mengajukan permintaan secara tertulis kepada panitia pameran.

SEMINAR NASIONAL SENI RUPA INDONESIA (2007)

Peserta pameran yang bisa hadir ke Jakarta untuk mengikuti acara peresmian pameran akan bisa menghadiri kegiatan Seminar Nasional Seni Rupa Indonesia (2007) di Galeri Nasional Indonesia (Ruang Seminar), pada tanggal 12 – 13 Juli 2007

PENANGGALAN WAKTU PENTING

  • Batas Waktu Pengumpulan Proposal (foto) Karya: 22 May 2007 (cap pos)
  • Sidang Seleksi: 24 Mei 2007
  • Pengumuman Peserta Pameran: 28 Mei 2007
  • Konfirmasi Kesediaan Paserta Pameran: 4 – 8 Juni 2007
  • Pengiriman Karya: 2 – 7 Juli 2007
  • Pemasangan Karya: 8 – 10 Juli 2007
  • Pembukaan Pameran: 11 Juli 2007
  • Akhir Pameran: 27 Juli 2007
  • Pembongkaran Display Karya: 27 – 28 Juli 2007
  • Pengiriman Kembali Karya: 6 Agustus 2007

 ***

 

UNDANGAN PENULISAN MAKALAH SENI RUPA

PENGANTAR

Dewasa kini tengah berlaku perubahan iklim intelektual, sistem pengetahuan, cara berfikir, hingga perkembang-biakan data dan informasi yang berlangsung cepat, tanpa batas. Situasi itu menguak cakrawala persoalan baru bagi perkembangan seni rupa Indonesia, sekaligus juga menunjukkan berbagai kabut persoalannya (lht. lebih jauh pada makalah ‘Demi Mas[s]a’).

Pun iklim persaingan yang bersifat global tak terhindarkan, tak lagi mudah ditawar. Istilah ‘persaingan’ atau ‘bersaing’, bagaimanapun terasa tak sedap ditujukkan bagi pembicaraan tentang ekspresi seni, toh kini jadi penanda dan barometer setiap perkembangan seni rupa, di seluruh dunia. Sesungguhnya, persaingan itu tak hanya berlaku bagi perkembangan yang disebut ‘seni rupa Indonesia’, tapi bagi seluruh jenis praktek dan pemahaman seni rupa di Indonesia. Siapkah kita?

Soal daya saing, tentu saja, membutuhkan pengkajian masalah-masalah kompetensi dan kemampuan untuk berinteraksi. Bagi suatu perkembangan seni rupa, ihwal daya saing itu mesti dipetakan. Dalam suatu pemetaan ―yang artinya juga adalah ‘abstraksi’―, kita bisa kenal kelebihan dari sesuatu, dan juga batasnya. Dengan demikian, kita akan berani memproyeksikan suatu jenjang penilaian dalam situasi dan kondisinya yang bersifat khas. Maka, membicarakan soal perkembangan seni rupa dalam perspektif skala pertimbangan tertentu saja (semisal: Internasional -Nasional; Nasional – Lokal; dan Internasional – Lokal) tak harus dihadapi dalam keadaan tegang secara filosofis. Soal skala itu ‘cuma’ masalah orientasi kita guna memahami persoalan.

Persoalan utama di kampung halaman kita, Indonesia, adalah karakter perkembangan seni rupa yang masih kuat diwarnai kekuatan penyebaran arus informasi dan interaksi yang tidak merata (bahkan tidak ‘berimbang’) terjadi di berbagai tempat. Masalahnya, tentu bukan berarti bahwa lokasi perkembangan seni rupa paling banyak punya informasi mesti disebut yang paling ‘baik’ atau ‘maju’; atau sebaliknya. Masalahnya justru berada pada soal seberapa ‘dalam’ kita serap/ adaptasi berbagai informasi itu. Apakah itu juga menyangkut bagian dari kepentingan kita mengenal dan memahami ‘seni rupa Indonesia’, secara produktif? Seminar ini ditujukan demi menggali informasi dan pemahaman yang lebih baik dan mendalam terhadap berbagai perkembangan seni rupa Indonesia, di seluruh wilayah Nusantara.

TEMA & SUB-TEMA MASALAH

I. SOSOK & KARYA

Penjelasan tentang dedikasi dan pemikiran sosok: seniman, pemikir, pemerhati, maupun pecinta seni rupa Indonesia merupakan bahan pembicaraan yang masih langka, hingga saat kini. Tema pembahasan mengenai ‘Sosok & Karya’, bisa berkenaan dengan, misalnya:

  1. Karya-karya seni rupa yang merefleksikan sikap, pemikiran, atau gagasan khas serta penting seniman yang mengerjakannya.
  2. Tulisan atau aktivitas di bidang seni rupa yang merefleksikan sikap, pemikiran, atau gagasan seorang pemerhati/ aktivis seni rupa (kritikus, kurator, pengulas, pendidik seni, dll) Indonesia.
  3. Karya-karya koleksi atau akivitas di bidang seni rupa yang merefleksikan sikap, pemikiran, atau gagasan seorang pecinta/ pendukung seni rupa (kolektor karya, apresitor, patron, administrator seni rupa) Indonesia.

II. PROSES APRESIASI & PENERIMAAN KARYA

Pembicaraan tentang kecenderungan praktek dan pemikiran dalam proses apresiasi seni rupa Indonesia (dalam bentuknya sebagai kritik seni maupun ulasan teoritis) merupakan tema kajian yang semakin penting pada masa kini. Tema pembahasan mengenai ‘Proses Apresiasi & Penerimaan’ karya seni rupa bisa berkenaan dengan, misalnya:

  1. Kecenderungan kritik & ulasan seni rupa
  2. Pemikian teoritis perkembangan seni rupa
  3. Kasus reaksi dan penerimaan publik

III. JEJARING & INFRASTRUKTUR SENI RUPA

Informasi, pengenalan, dan interaksi antar berbagai lembaga seni rupa di berbagai wilayah di Indonesia sebagai suatu jaringan kerja sama yang bersifat mutualistis dan produktif membangun infrastruktur seni Indonesia yang kuat dan mandiri merupakan tema pembicaraan yang kian vital dan turut menentukan arah pertumbuhan seni rupa Indonesia. Tema pembahasan tentang ‘Jejaring & Infrastruktur seni rupa’ bisa berkenaan dengan, misalnya:

  1. Problematika kejaring & kelambagaan seni rupa pada tingkat orientasi & praktek
  2. Gagasan bagi pola interaksi & pengembangan jejaring & infrastuktur seni rupa di Indonesia

FORMAT TULISAN

  • Tulisan dibuat dalam bahasa Indonesia. Kutipan dalam bahasa asing telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
  • Jika digunakan catatan kutipan dan buku-buku referensi, harap ditempatkan dibagian akhir tulisan (Endnote).
  • Panjang tulisan minimal 1200 kata, maksimal 2500 kata (pada kertas ukuran A4 dengan tipe huruf ‘New Times Roman’, ukuran 12, spasi 1,5).
  • Penulisan judul dan sub-judul dicetak tebal (Bold).
  • Nama Penulis ditempatkan di bawah Judul, lengkap dengan keterangan daerah asal.
  • Artikel disertai dengan lampiran CV/ Biodata penulis dengan foto diri.

PESERTA

  • Warga Negara Indonsia yang telah memiliki indentitas resmi (KTP/ SIM/ Passport).
  • Warga Negara Asing yang telah menetap di Indonesia, minimal selama 3 tahun; berminat terhadap persoalan seni rupa Indonesia, serta lancar berbicara dalam bahasa Indonesia.
  • Makalah bisa dibuat oleh seniman, penulis/ peneliti/ pemerhati seni rupa, wartawan seni & kebudayaan, mahasiswa, maupun para peminat dan pecinta seni.

BATAS WAKTU PENYERAHAN MAKALAH

  • Tanggal terakhir menyerahkan usalan tulisan adalah 11 Mei 2007 (cap pos, untuk pengiriman makalah cetakan) atau 14 Mei 2007 (melalui surat elektonik/ e-mail)
  • Tulisan (cetakan) di kirim ke:

Panitia Seminar Nasional Seni Rupa Indonesia 2007

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta Pusat (kode pos 10110)

Tel: 021-34833955 / fax: 021-3813021 

E-mail:

galnas@indosat.net.id

rizkizaelani@yahoo.co.id

 atau  eddyyoga@yahoo.com

SELEKSI

  • Seleksi usulan tulisan akan dilakukan oleh Dewan kurator Galeri Nasional, yaitu: Rizki A. Zaelani, Agus Burhan, Mamannoor, Indah C. Utoyo
  • Sidang seleksi berlangsung tertetutup dan keputusan Dewan Penyeleksi tak bisa diganggu gugat.
  • Tulisan terpilih akan menjadi bagian dari materi presentasi dan pembahasan dalam acara seminar nasional : Penulisa Seni Rupa Indonesia 2007.
  • Para penulis tulisan terpilih akan di undang untuk mempresentasikan tulisannya dalam seminar nasional Penulisa Seni Rupa Indonesia 2007
  • Para penulis tulisan terpilih akan mendapatkan surat pemberitahuan dan undangan partisipasi secara resmi.

PRESENTASI MAKALAH

  • Judul serta SUB-TEMA tema SEMINAR NASIONAL SENI RUPA INDONESIA 2007 akan ditetapkan kemudian setelah diperoleh masukan dan gambaran pemikiran yang diajukan para calon pemakalah.
  • Penyelenggaraan Seminar dilakukan pada hari Kamis & Jumat, 12 – 13 Juli 2007 (Pukul: 09.00 – selesai )
  • Tempat penyelenggaraan seminar adalah Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.
  • Presentasi dan acara tanya jawab dalam seminar dilakukan dalam bahasa Indonesia.
  • Setiap pemakalah menyiapkan sendiri seluruh bahan presentasi pendukung lain yang diperlukannya, seperti, misalnya: gambar, bagan penjelasan, contoh obyek, dll.
  • Penayangan bahan presentasi pedukung berupa gambar atau bagan bisa dilakukan dengan menggunakan alat Overhead Projector (OHP), LCD Projector, monitor TV, atau DVD/VCD Player. Seluruh peralatan akan disiapkan pihak Galeri Nasional Indonesia.
  • Setiap pemakalah yang membutuhkan alat-alat presentasi eletronik diharuskan memberitahukan pihak panitia, paling lambat satu minggu sebelum penyelenggaraan acara Seminar.
  • Jika diperlukan, pemakalah juga bisa melakukan contoh peragaan (demostrasi) praktek. Seluruh keperluan (alat, bahan, SDM) untuk kepentingan peragaan (demonstrasi) disiapkan oleh masing-masing pemakalah yang bersangkutan.
  • Pihak Moderator dalam kegiatan seminar akan ditetapkan oleh pihak panitia
  • Seminar hanya terbuka bagi para undangan khusus yang ditetapkan oleh panitia.

PERJALANAN & AKOMODASI

  • Biaya perjalanan luar kota setiap pemakalah akan ditanggung Panitia, dari tempat asal ke Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) & kembali ke tempat asal.
  • Setiap pemakalah, secara masing-masing, memesan tiket perjalanan luar kota menuju ke Jakarta. Biaya perjalanan akan diganti oleh pantia di Jakarta, dengan menunjukkan tiket atau catatan biaya perjalanan.
  • Akomodasi setiap pemakalah ditanggung dan disiapkan oleh pihak Panitia.
  • Jadual kedatangan setiap peserta (pemakalah) ke Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) pada tanggal 10 – 11 Juli 2007. Pada tanggal 11 Juli 2007 pukul: 19.30 WIB akan berlangsung pembukaan PAMERAN SENI RUPA NUSANTARA 2007, sehingga kedatangan para pemakalah paling lambat pada tanggal 11 Juli 2007 pada sore hari.
  • Lokasi tujuan kedatangan peserta adalah: Galeri Nasional Indonesia (GNI)

PUBLIKASI

  • Publikasi kegiatan SEMINAR NASIONAL SENI RUPA INDONESIA 2007 dilakukan melalui pencetakan poster dan undangan kegiatan.
  • Tulisan terpilih yang menjadi materi seminar, setelah mengalami revisi (jika dianggap perlu) akan diupayakan untuk diterbitkan sebagai buku.

REKAPITULASI PENANGGALAN PENTING:

  • Batas Pengumpulan Usulan Makalah: 22 Mei 2007
  • Sidang Seleksi Makalah: 25 Mei 2007
  • Pengumuman Makalah Terpilih & Penetapan Tema: 28 Mei 2007
  • Konfirmasi Kesediaan Pemakalah: 4 – 8 Juni 2007
  • Tanggal kedatangan ke Jakarta: 10 – 11 Juli 2007
  • Seminar Nasional SENI RUPA INDONESIA 2007: 12 – 13 Juli 2007

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.