<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Komunitas Seni Belanak</title>
	<atom:link href="http://belanak.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://belanak.wordpress.com</link>
	<description>http://belanak.wordpress.com/</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Nov 2008 19:14:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='belanak.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6c0841e452cb108b9e73458dd94d85d5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Komunitas Seni Belanak</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sebuah Interpretasi Luas</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/11/03/sebuah-interpretasi-luas/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/11/03/sebuah-interpretasi-luas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 19:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:Nasbahry Couto 
Dasar pengetahuan penulis adalah bidang visual arts (seni rupa, desain, dan arsitektur) yang diluaskan ke bidang budaya visual (visual culture). Artikel yang penulis tulis, tentu tidak ingin ke luar dari referensi ini.  Jika ada pembaca ingin membawa ke luar konteks ini, mungkin karena pembaca memiliki referensi lain. Jika pembaca ingin mendalami pemikiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=228&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Oleh:Nasbahry Couto </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dasar pengetahuan penulis adalah bidang <em>visual arts </em>(seni rupa, desain, dan arsitektur) yang diluaskan ke bidang budaya visual <em>(visual culture)</em>. Artikel yang penulis tulis, tentu tidak ingin ke luar dari referensi ini.  Jika ada pembaca ingin membawa ke luar konteks ini, mungkin karena pembaca memiliki referensi lain. Jika pembaca ingin mendalami pemikiran penulis lebih dalam, ada dua buku yang bisa dibaca, yang penulis tulis tahun 2008. Yaitu <em>Dimensi Teknologi dalam Seni Rupa</em> (DTS) yang memfokuskan kajian ke tradisi teknik Seni Rupa sepanjang zaman dan sedikit menyinggung teknik seni dg. Komputer. dan satunya lagi <em>Budaya Visual Seni Tradisi Minangkabau</em> (BVTM)<strong><span style="color:#ff0000;">*</span></strong> yang memfokuskan kajian ke arsitektur tradisi.  Tulisan  di bawah ini, adalah beberapa  cuplikan kedua buku itu, yang penulis coba rangkai dengan artikel terdahulu “Sebuah Perenungan Terhadap Kecendrungan Seni dan Budaya”. Dan, mudah-mudahan dapat memperjelas maksud artikel itu.</p>
<h6><span id="more-228"></span> <span style="color:#ff0000;">*)</span> <span style="color:#808080;">bab 3 dari buku ini pernah di seminarkan di TMII, Jakarta. Dibukukan dalam bentuk bunga rampai tahun 2003, (editor) Prof. Dr. Edy Sedyawati, yaitu Warisan Budaya Tak Benda Masalahnya Kini di Indonesia. Depok: PPK &amp; B. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia atas bantuan UNESCO.</span></h6>
<p style="text-align:justify;">Tentang budaya visual penulis tulis dalam buku BVTM, 2008 , sbb;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Pada awal akhir abad ke 20 cara melihat kebudayaan mulai disederhanakan, misalnya dengan membagi kebudayaan masa kini yang sedang berjalan dan kebudayaan masa lalu. (Sedyawati, Edi, 2003). Kebudayaan masa lalu dibagi lagi atas warisan budaya yang  dapat dilihat (tangible cultural heritage) dan warisan budaya yang tidak terlihat (intangible cultural heritage). ( BVTM, hal 15-16)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentang gaze: ( penulis tulis dalam buku BVTM)</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">sbb.…………cara melihat manusia. Yaitu bagaimana cara seseorang memandang orang lain. Produk film, animasi atau video umumnya dibuat untuk melihat bagaimana tampilan visual orang-orang, dan tokoh (manusia), manusia jadi raja, kucing jadi manusia, robot jadi manusia dsb. Pokoknya manusia. Demikian juga saat melihat seorang tokoh pimpinan, melihat potret, menilai gambar atau lukisan pada dasarnya yang kita pandang adalah visualisasi manusianya berdasarkan persepsi gender. Jika kita menafsirkan orang kurang tepat jika dipakai istilah denotatif atau konotatif. Umumnya interpretasi terhadap benda dan orang tidak pernah sama. Dalam melihat benda-benda, umumnya kita menipiskan perbedaan yang ada. Sehingga kita mencari peluang untuk kesatuan pendapat tentang yang terlihat, misalnya dalam kegiatan ekonomi. (BVTM.2008. hal.4)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentang perbedaan persepsi terhadap  bahasa visual dan bahasa verbal : ( dalam buku DTS) sbb:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Kata-kata atau bahasa, dapat menerima maksud arti simbolis dan juga bisa terlepas dari arti awalnya dan atau bergeser artinya. Kata hitam (black), misalnya, pada awalnya (di Amerika) di maksudkan sebagai lambang keturunan orang Afro-Amerika. Dalam pengertian selanjutnya ternyata makna black telah bergeser dan tidak lagi dipakai untuk menunjuk orang keturunan Afrika. Di Indonesia tahun 70-an kalau berjoget (bergoyang) disebut “asoy”, generasi sekarang tidak mengenal lagi arti kata itu, kecuali di pasar disebut orang “kantong asoy” sebagai kantong plastik (mungkin  karena goyangannya). Jadi sebuah kata adalah sebuah konvensi tentang makna simbolik. Konvensi itu dapat bergeser maknanya menurut waktu. Dengan pemahaman ini, kita mudah mengerti, kenapa pengertian seni berubah dari waktu ke waktu ( DTS. hal. 57)</p>
<p style="text-align:left;">Lambang kata yang mempergunakan bahasa Inggris hanya dipahami oleh orang yang pandai berbahasa Inggris berikut pergeseran konvensi artinya. Sedangkan lambang yang murni visual (bukan kata-kata) dapat ditangkap oleh siapapun tampa harus belajar lebih dahulu tentang konvensi simbolik visual yang dipakai. Lambang non verbal lainnya &#8212; yang dapat dipahami secara langsung oleh seseorang&#8211; tanpa harus belajar terlebih dahulu, yaitu lambang-lambang yang dihasilkan oleh bunyi, gerak dan isyarat termasuk lambang seni suara (auditif art). Masing-masing kebudayaan dan di zaman yang berbeda, dapat berbahasa visual menurut caranya masing-masing. Dan memikirkan maknanya menurut caranya masing-masing pula. Mungkin hal ini pula yang menjadi penghalang untuk merumuskan sebuah kategori  dan atau konsep seni (Barnes 2002). (DTS, Bab III, tentang dimensi sosial budaya dalam seni)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentang Interpretasi visual dalam kebudayaan ( dalam buku BVTM)</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Umumnya prasangka sosial tentang tafsiran visual, timbul karena kebekuan dan konvensi tentang makna visual itu (Robert H. McKim, 1980). Bagi orang Hindu, sapi adalah suci, bagi orang barat makanan. Bagi Yahudi dan Islam babi itu haram. Berjilbab itu tanda orang Islam (Indonesia), di Malaysia juga, tetapi di daerah tertentu sekarang dilarang (karena  menyembunyikan kalung salib di dadanya). Sedangkan bagi orang Jawa rumah adalah istana (gender laki-laki), bagi orang Minang rumah adalah suku (gender perempuan). Cara orang Jawa dan orang Minang melihat rumah kediamannya dalam satu sisi bisa berlainan. ( BVTM, 2008. Bab I)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Walaupun bahasa visual itu dapat ditangkap secara langsung oleh pengamatnya, namun bagi kebanyakan orang akan terjadi interpretasi luas secara pribadi. Dalam banyak hal, bahasa visual dapat disalah-artikan sesuai dengan latar belakang budaya dan pemikiran yang dikembangkannya. Misalnya, kita sering bereaksi terhadap pesan visual tanpa disadari, dan lebih meyakini pendapat kita yang dibentuk oleh selera (taste) pribadi, dan oleh lingkungan sosial budaya. Kita bisa gagal, untuk mengenali isyarat (cues) bahasa visual itu, karena makna atau artinya dipengaruhi oleh kebijakan dan nilai sosial budaya, atau bahkan oleh pilihan kita sendiri.<strong><span style="color:#ff0000;">*</span></strong></p>
<h6><span style="color:#000000;"><strong><span style="color:#ff0000;">*)</span> </strong></span><span style="color:#808080;"><strong>Penulis telah menulis beberapa buku yang diterbitkan oleh UNP Press Padang, diantaranya yang terbaru (2008)  adalah  buku Dimensi Teknologi dalam Seni (DTS) dan buku Budaya Visual seni tradisi Minangkabau (BVTM). Tiap buku berisi  hampir 300 halaman.  Bagi yang memerlukan uraian lebih lanjut tentang tulisan ini dapat dibaca dalam buku ini. Untuk mendapatkannya, Anda dapat menghubungi via email <a href="mailto:nasbahry.couto&amp;yahoo.co.id" target="_blank">nasbahry.couto&amp;yahoo.co.id</a></strong></span><span style="color:#808080;"><strong>.</strong></span></h6>
<p style="text-align:justify;">Jadi bahasa verbal dengan bahasa visual itu memiliki kemiripan dalam hal interpretasi lanjut. Tetapi dalam tangkapan pertama,  makna kedua bahasa itu bertolak belakang. Perbedaannya adalah sebagai berikut : sebuah kata, kalimat atau paragraf (kumpulan kalimat) tidak sertamerta ditangkap maknanya tanpa mengenal  dan atau sepakat tentang maknanya. Oleh karena itu jika kurang memahami, dapat dilanjutkan dengan melihat kamus, encyclopaedia, teori, artikel dan penjelasan  tambahan lainnya. Sebaliknya, sebuah bahasa visual dapat ditangkap langsung tanpa perlu kesepakatan tentang maknanya. Makna luas  bagi keduanya adalah soal lain, sebab berkaitan dengan interpretasi pribadi, kesepakatan sosial budaya dan atau pembelajaran tentangnya. Hal ini memungkinkan terjadinya diskrepansi makna. Dalam  bahasa visual peristiwa interpretasi ini disebut “afterimage” dan dalam dunia bahasa verbal  disebut “konotasi” atau interpretasi luas.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai afterimage ini ditulis dalam buku DTS, antara lain:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Cerita yang tercipta secara in absentia adalah cerita yang secara imajinatif muncul di pikiran apresiator setelah melihat gambar (afterimage). Sebuah karya seni rupa seperti lukisan disebut memiliki unsur narasi jika lukisan itu mengandung elemen cerita, misalnya adanya peristiwa, tokoh, seting, waktu, sudut pandang, dan vokalisasinya secara visual. (Dimensi Teknologi dalam Seni , 2008. hal 44-45)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tulisan penulis tentang meme dan KISS dalam tajuk “Sebuah Perenungan Terhadap Kecendrungan Seni dan Budaya” bisa saja salah interpretasi. Ini adalah akibat interpretasi luas. Sebab referensi penulis dengan referensi pembaca bisa berlainan dalam menangkap momentum simbolik (konvensi) kata-kata yang penulis tulis. (seperti yang penulis terangkan di atas).</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa ilmu pengetahuan (science)  merupakan sebuah evolusi berpikir manusia yang sistematis dan teratur sesuai dengan bidangnya masing-masing.  Tetapi karena ilmu pengetahuan itu cendrung terfragmentasi, maka cara memandang sesuatu masalah bisa  berlainan. Artinya bukan hanya karena konvensi simbolik kata saja yang dapat membedakan pendapat, tetapi juga cara memandang sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai perbedaan cara memandang ini penulis tulis dalam buku  (DTS), sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Antara seniman (artist) dan ilmuan (scientist) mencoba memandang dunia untuk memperoleh sesuatu secara acak dan melalui berbagai pengalamannya. Keduanya mencoba untuk memahami dan menghargai dunia dan menyampaikan pengalaman mereka kepada orang lain. Namun cara mereka menyatakan diri sangat berbeda: ilmuan belajar dan melihat secara kuantitatif dan menemukan konsep-konsep serta hukum-hukum kebenaran universal. Seniman memilih persepsi-persepsi kualitatif (qualitative perceptions) dan mengaturnya menjadi ungkapan pribadi serta pemahaman kultural. Sebuah karya seni, pada dasarnya berubah-ubah dalam kacamata artistik, karena di pengaruhi oleh seniman maupun oleh selera publik. Validitas sebuah pernyataan artistik hanya ada pada pada suatu waktu dan tempat. (DTS, 2008. hal. 20)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian penulis mengkritik kecendrungan ini (DTS) , sbb:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Kritik terhadap pandangan ini adalah bahwa manusia pada dasarnya tidak dilahirkan berdasarkan kualitas persepsi seniman, karena persepsi manusia bisa berbeda dengan cara pandang seniman yang berubah menurut waktu. Oleh karena itu logis jika seni dapat dikaji berdasarkan persepsi umum yang meliputi pandangan semua orang. (DTS. 2008.hal.20)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mengenai kecendrungan  seni kontemporer penulis menulis dalam DTS sbb:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Sejak seni itu mulai dipikirkan orang, ada suatu gejala bahwa teori seni yang dibangun hanya berdasar pelaku seni, padahal tidak harus selalu begitu. Jika kita berpijak ke pelaku seni, maka proses pikiran dan kreasi menjelaskan baik aspek intuitif maupun logik seniman. Pengetahuan intuitif ini, berhubungan erat dengan apa yang disebut oleh Bourdieu (1990) sebagai logika praktik (logic of practice), atau sebuah permainan (being in-the-game) dimana strateginya tidak dapat diprediksi, tetapi muncul dan beroperasi pada waktu dan menurut kebutuhan gerak dan tindakan yang spesifik oleh pelaku seni. ………Kemudian…… Secara tidak sadar, mendalami seni berarti belajar menjadi psikolog tetapi tidak pernah menjadi psikolog yang asli.………………….( DTS. Hal.2)</p>
<p>Dapat dipahami bahwa, pandangan psikologi seni abad ke-20, selalu melihat seni sebagai hasil proyeksi kejiwaan dan mengabaikan seni sebagai sebuah proses yang melibatkan pengamat atau pemakai seni. Padahal kedua sisi itu tidak memiliki perbedaan yang prinsip, bukankah pelaku seni juga menikmati dan sekaligus pengamat seni ? Dua pandangan ini, antara yang mementingkan aspek psikologi internal (dimensi kejiwaan) dan yang menekankan aspek psikologi persepsi (pengaruh objek fisik) terhadap manusia (receiver) dianggap sebagai titik awal berbagai persoalan seni yang sebenarnya, yang menggiring kita ke teori seni, yaitu teori proses. ( DTS. Hal.2)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mengenai salah satu cara untuk memahami  proses berkarya dalam bidang seni dan desain  penulis menulis dalam DTS. 2008. hal. 28</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Aplikasi konsep seni dan desain hanya dapat dipahami,  jika kita mengerti tentang sistem instruksional dalam komunikasi,  misalnya perbedaan sistem instruksi (pesan)  komunikasi antar manusia yang difungsikan hanya untuk diingat (remember) dan untuk dilaksanakan (use) antara lain: Fakta (fact), Konsep (concept), Aturan (rule) dan prosedur (Procedure).  Dalam dunia pembelajaran, fakta hanya untuk diingat, tidak untuk ditindaki, sedangkan kata (pesan) konsep disamping untuk diingat, bisa juga untuk ditindaki dan atau untuk tindakan (action). Fenomena seni dan desain akan sangat berbeda jika dilihat dalam konteks fact, concept, rule dan procedure. Sistem instruksional itu, adalah hasil riset bahasa yang dilakukan untuk mengatasi kekacauan sistem perintah dalam tubuh militer  Amerika. Kemudian dipakai pula dalam dunia pendidikan untuk meluruskan sistem instruksi dalam mengajar. Yaitu yang kita kenal sekarang dengan “Tujuan Instruksional Umum dan Khusus (TIU, TIK). Sistem ini dikaitkan dengan teori Bloom (1957) tentang tiga aspek pengembangan diri manusia dalam belajar, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam  seni, dapat dipakai untuk meluruskan dan atau menjelaskan pengertian  konsep-konsep  dan  teori, serta perbedaannya/aplikasinya dalam praktik seni rupa dan desain. (DTS, hal 28)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Salah satu uraian penulis dalam buku itu adalah tentang konsep realisme: apakah realisme itu fakta, konsep, dalil atau prosedur ? ( penulis tulis dalam buku DTS) sbb:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Realisme……..Dia bukanlah sebuah dalil atau teori untuk sebuah tindakan (rule)  dan bukan pula sebuah instruksi prosedural sebuah tindakan (procedure)  Konsep realisme adalah sebuah kategori atau klassifikasi (konsep). Dia ibarat sebuah peta jalan untuk menuju sebuah tujuan. Dia telah mengikat tentang cara berkarya, dan sedikit banyaknya telah membayangkan pula bagaimana karya itu harus dibuat. Dia adalah sebuah kategori, untuk mencapai kategori itu diperlukan sebuah cara atau teknik, yaitu cara untuk meniru sepersis mungkin, tanpa memberi interpretasi atau ilusi dalam pencitraannya. Disinilah kita melihat hubungan konsep realisme dengan teknik, cara dan selanjutnya teknologi …………. (DTS hal.28)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kutipan sebelumnya dalam buku DTS, adalah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Dari hirarki di atas kita sebenarnya telah menggeser posisi pelaku seni sebagai individu yang mutlak sebagai penentu dan pengamat karya seni. Sekarang, seniman dilihat sebagai bagian dari lingkungan, sosial-budaya, dan atau  dunia interpretasi. Hal ini dapat diterima, bukan karena pergeseran teori pelaku seni ke teori proses, tetapi karena perolehan konsep sebenarnya adalah hasil lingkungan. Hasil pembelajaran, analisis, dan atau pengamatan (individual-sosial). Sebaliknya konsep-konsep dan interpretasi dari pengamatan itu justru dipakai untuk menciptakan karya seni&#8211; bukan lagi dalam bentuk wacana kategori&#8211; tetapi dalam bentuk aksi, tindakan, maka oleh seniman konsep itu (dia) menjadi kategorisasi (konsep lain) sebagai konsep teknik dalam berkarya. Selanjutnya……konsep realisme, idealisme, ekspresionisme, abstrak jika dipakai dalam dalam tindakan berkarya yang muncul adalah cara-cara, metoda atau teknik untuk mencapai tujuan kategorisasi itu (DTS. Hal 27)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Konotasi atau polemik yang timbul dari tulisan penulis adalah, jika ada alur pemikiran yang dikembangkan untuk menciptakan blok-blok pemikiran seperti pemikiran filosofis komunitas yang ketat, dengan tradisi dan konvensi cara berpikir mereka sendiri. Itu hak mereka dalam kebebasan berpikir sesuai dengan bidangnya masing-masing. Namun penulis tidak berpikir untuk mengundang polemik pembaca, karena tidak memiliki kemampuan untuk itu. (sebab pendidikan penulis belum sampai S3,  dan lagi pula penulis bukan pakar di bidang ilmu lain, cuma saja penulis rajin membaca. Teman seangkatan penulis dahulu  di seni rupa ITB ( thn.70-an) seperti  Jimmy Supangkat, Wagiono, Setiawan Sabana, dll. Sudah di kenal orang. Apa salahnya kalau penulis  juga ikut bersuara, karena dahulu kami dididik oleh guru yang sama)</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis anggap jika ada kecendrungan ke sana, hal itu adalah sebuah social prejudice saja dalam berpikir.  Seakan-akan ada klaim bahwa pemikiran ini salah dan itulah yang  benar. Seakan-akan kita perlu pula memutus rantai sejarah, bahwa evolusi berpikir logis manusia itu bukan dimulai dari Yunani, evolusi sosial manusia itu bukan dimulai dari Babilonia, Mesi. Dan kebekuan persepsi manusia (oleh religiolitas tertentu) bukan dibuka sejak zaman pencerahan (renaisans), dan kecendrungan berfikir manusia abad ke 20 bukan proteksionistis dst.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan penulis tentang “Sebuah Perenungan Terhadap Kecendrungan Seni dan Budaya, sebenarnya memperluas premis-premis Richard Dawkins, yang menulis buku The Selfish Gene, 1976). Tajuk itu, penulis kaitkan dengan sistem pembelajaran manusia melalui peniruan atau evolusi peniruan yang disebut memepleks. Penulis mencoba memisahkan konsep kreasi dengan imitasi, inovasi dengan duplikasi, memisahkan antara kreator dengan replikator. Penulis mencoba menjelaskan penularan seni, ilmu dan teknologi yang disebut  meme dan dampak negatif-positifnya. Dipihak lain penulis mencoba menarik filosofi desain, mencoba merenungkan filosofi itu dengan dunia tindakan (aksi) dalam kebudayaan kita untuk memunculkan persepsi baru yang disebut  KISS, yang pada dasarnya bernuansa kritik. Penulis cuma tahu, bahwa dalam dunia tulis dan  sastra, ada dua fokus kritik. Satu mengarah kepada substansi isi tulisan atau sastra (kritik struktural), lainnya adalah ke arah kritik sosial (social criticism). Dua arah ini kemudian diwarnai oleh berbagai aliran filsafat. (Atmazaki, 2007).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas, jelas bahwa arah kritik itu di tujukan kepada kritik sosial. Landasan filosofis yang dipakai adalah bidang desain yang belum banyak dikenal orang, dengan dasar  bahwa penulis sudah puluhan tahun mengajar di Arsitektur dan pernah pula terlibat menyusun buku ajar teori arsitektur)<br />
KISS (Keep it Simple, Stupid) adalah salah satu filosofi desain. Yang lain, adalah seperti “user oriented “ (User-centered design) dan “use oriented” (Use-centered design) dsb. Secara sederhananya, demi pelayanan kepada pemakai desain (limitations of the end user), yang lain demi kesempurnaan desain itu sendiri (focuses on the goals and tasks associated with the use of the artifact). KISS adalah demi kepraktisan, kesederhanaan untuk keluar dari masalah yang kompleks dan rumit. Demi untuk kepentingan perancang sendiri agar tujuan yang dianggap benar tercapai. Lagi pula,…. sebagai sebuah tindakan, bukan hal yang baru, sebab sudah lama dilakukan di Indonesia ( Cuma penulis, banyak orang yang tidak sadar, dan sekarang dibuka dengan persepsi baru sebagai sebuah pencerahan.)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam dunia desain, faktor eksternal (eksplisit) desain adalah pemakai, ekonomi, lingkungan, sosial dan budaya. Faktor internal (implisit) desain  adalah fenomena yang implisit terkandung dalam desain itu sendiri (kesempurnaan bentuk, fungsi, tinjauan ekonominya, keindahan, kenyamanan, dsb). Desain adalah fenomena yang rumit dan kompleks jika dikaitkan dengan faktor eksternal, misalnya fenomena pemakai, ekonomi, manajemen, gaya hidup, budaya, budaya-teknologi lokal dst.</p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian yang sama juga dialami bidang seni, faktor eksplisit seni adalah pembuktian berbagai hal sehubungan eksistensi karya seni, misalnya hubungan seni dengan pemakai (user), ekonomi, budaya komunitas, sosial, pendidikan, …… yang mengespresikan juga gaya seni, gaya hidup, gaya intelektualitas dsb. Unsur implisit adalah fenomena yang terjadi antara seniman dan karyanya.</p>
<p style="text-align:justify;">KISS dalam seni bisa terjadi jika pelaku seni memutus rantai faktor eksternal itu. Contoh, pembuat sinetron atau  yang hanya peduli dan atau dikendalikan pemilik penyiar TV agar dapat uang, dan kurang peduli lagi kepada pemirsanya suka atau tidak suka. Katanya, pemirsa akan mencari siaran TV yang disukainya karena ada pilihan penyiar lain ( sebagai demokrasi seni). Atau seniman yang hanya peduli kepada galeri untuk membuat karya tertentu, peduli kepada kurator, tanpa pengembangan dirinya sebagai seniman sebagai bagian dari lingkungannya. Atau pameran rame-rame tampa sosok kategori yang kuat. Penulis pernah mendengar anekdot seperti ini: “ si A itu tadinya tukang sapu di Taman Budaya. Karena dia sering menonton pembacaan sajak, lalu dia mencoba untuk membuat sajak pula, lalu….sekarang menjadi penyair top”  (entah benar entah tidak). Hal itu tidak salah. Namun pekerjaan “seniman” jatuh menjadi pekerjaan tukang, atau karya seni anak-anak. Yang cendrung tidak punya dasar kekuatan intelektual, dan atau eksistensinya tidak perlu terkait dan dipertanggungjawabkan kepada lingkungan sosial-budayanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi ada sebuah suasana pasar swalayan dalam kebudayaan  moderen kita, yang tidak lagi mempunyai induk atau fokus yang disebut kebudayaan intelektual Indonesia, kebudayaan dan intelektual lokal. Praktik tukang atau anak-anak penulis lihat, karena orang menafikan (mengingkari) “intelektualitas” sebagai bagian dari kegiatan seni. Kesalahan ini sebenarnya sudah berantai, coba lihat, dalam kurikulum pendidikan kita, seni hanya bagian ketrampilan, bukan intelektual. Contoh yang lain adalah pagelaran “dangdut”, yang penulis anggap menafikan intelektualitas itu. Hauser dalam Sociologi of Arts (1981), memang tidak mengenal KISS, dia mengenal “seni massa “ atau “budaya massa” (mass culture) dan mengajukan premis tentang kematian seni moderen, dan pandangan ini  mungkin kurang relevan lagi untuk masa sekarang.<strong><span style="color:#ff0000;">*</span></strong></p>
<h6><strong><span style="color:#ff0000;"> </span></strong><strong><span style="color:#ff0000;">*)<span style="color:#808080;">Penulis pernah menulis bahwa, tugas pemerintah bukan hanya  untuk mengatur  institusi seni dan budaya, tetapi memberi arahan yang benar. Museum misalnya, bukan museum antropologi, tetapi museum yang berisi kebudayaan dan hasil pikiran  seniman atau kebudayaan yang sedang berlangsung hari ini. Pusat budaya misalnya, bukan untuk tempat seniman bertengkar, tetapi untuk tempat pembinaan apresiasi diantaranya untuk pembinaan profesi, asosiasi dan pengakuan atas eksistensi profesi seniman atau budayawan. Contoh lain misalnya pemisahan antara  mana seni Timur (lokal)  atau Barat (modren)</span></span></strong></h6>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan yang lalu, penulis mencoba mengillustrasikan beberapa tokoh  seperti Berger (seniman) dan G. Sullivan (akademisi), dan beberapa contoh pratik riset untuk seni. Pentingnya informasi ini bukan untuk memerlihatkan bagaimana dunia seni itu seharusnya berlangsung dalam masyarakat. Tetapi bagaimana pembinaan dunia seni itu  di mancanegara sebagai bagian dari pembinaan kebudayaannya dan pendidikan intelektual individu, yang kemudian mempengaruhi kebudayaan dunia. Bagaimana seni dan budaya itu di tumbuhkan oleh pemikiran individu, bukan oleh kelompok orang (institusi atau kekuasaan), yang justru lebih kepada membatasinya kalau bukan menghalangi. Seni dan budaya itu seharusnya adalah sesuatu yang hidup dan tumbuh,  bukan hanya  membanggakan apa yang telah terjadi di masa lampau  sebagai sesuatu yang statis dan direkayasa.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Secara umum, yang penulis maksud dalam tulisan itu pada dasarnya,  diarahkan untuk mengkritisi kebijakan dan tindakan (action) dalam seni dan budaya tanpa inovasi.  Kalaupun inovasi beku atau terhambat. Maka ada jalan keluar lain,  yaitu riset  seni (penelitian) sebagai dasar kreasi. Kalau ini juga akan mengundang kritik karena dianggap berbau akademis. Riset yang dilakukan Berger, penulis anggap tidak berbau akademis. Tetapi sangat manusiawi, atas dorongan nalurinya sendiri terhadap lingkungan sosialnya. Contoh yang berbau akademis adalah kegiatan G. Sullivan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam desain, KISS hanya sebuah wacana, sebab bagaimana dia dilaksanakan tergantung metoda yang dipilih. KISS artinya menyederhanakan masalah yang rumit ( S= simple), efisiensi waktu dan biaya. KISS bukan tindakan bodoh (S= stupid), tetapi tindakan mengabaikan berbagai masalah lain yang relevan atau masa bodoh, arti kedua kata ini berbeda.  Salah satu contoh adalah penerapan standarisasi, model atau tipe. Metoda ini dipakai demi efisiensi.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh yang lebih tajam, ada dalam dunia desain. Aplikasinya sangat banyak. Mulai dari rumah standar, bangunan standar, terminal standar, pelabuhan standar dst. Model-model ini diterapkan tanpa riset desain eksternal yang mendalam, karena proyek disusun dengan cara berpikir linear, bukan lateral, sebab tujuan dan sasaran (goal) telah di tentukan, standar telah ditentukan (kalaupun ada disebut kajian akademis, penulis masih kurang yakin akan hal itu. Akibatnya banyak proyek yang mubazir, tidak cocok  dengan lingkungan, dsb.  Rekan penulis seprofesi guru, pernah berkata bahwa terminal kota yang berhasil desainnya hanyalah terminal Ragunan di Jakarta. Lainnya gagal, apalagi di kota Padang (terminal Bingkuang Padang yang sekarang hanya jadi sarang tikus).  Model, tipe, standar adalah dalam rangka generalisasi, tetapi ada yang keliru, yang bisa jatuh ke “trial an error”</p>
<p style="text-align:justify;">Peniruan (memepleks) adalah sistem penyebarannya. Sedangkan metoda terapan konsep perancang atau seniman, bisa macam-macam. Tergantung kebutuhan,  diantaranya melalui model. Misalnya realisme dalam seni rupa adalah sebuah model.  Dalam seni dan desain dikenal metoda trial and error  (craft), metoda  seniman (inspirasi, black box), metoda glass box (analisa-sintesa), metoda problem solving, dsb. (tentang ini penulis uraikan dalam BVTM, bab. II). Bahwa riset standarisasi memang cocok dan perlu dikembangkan untuk faktor internal produk, dan akan rawan untuk eksternal. Sebab fenomena benda/fisik dengan fenomena sosial budaya sangat berbeda. Sebagai contoh, siapa yang menjamin jika Standar  Manajemen ISO di Jepang, sama dengan di Indonesia sedangkan manusianya, budayanya  dan kinerjanya sangat berlainan (kecuali di atas kertas/ statistik) ?</p>
<p style="text-align:justify;">Akibat sampingan dari KISS adalah krisis profesi. Karena melalui standarisasi, model, atau tipe, seseorang yang bukan ahlinya, misalnya seorang sarjana bidang (X) bisa menjadi pelaku penting  di bidang (Y) karena kepangkatannya. Dia cukup mempelajari petunjuk pelaksanaan (juklak) dari model atau standar kinerja. Akibatnya, yang penting bagi seseorang adalah posisi, pangkat,  bukan prestasi atau kompetensi sesuai dengan keahliannya. Contoh lain misalnya, model kurikulum standar, standar nilai dan seterusnya, lalu standar itu diterapkan tanpa melihat dulu keadaan dan situasi eksternal. Yang benar, mungkin adalah Penilaian Standar Sekolah itu sendiri (PSS). Oleh karena standar itu perlu, maka boleh saja terjadi standar ganda, hal ini dapat terjadi dimanapun di dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia ilmu itu teratur, tertib, terklasifikasi, ternyata berbeda dengan dunia aksi karena tujuan dan metoda untuk aplikasinya berbeda. Umumnya bidang keprofesian tertentu di Indonesia belum duduk dan untuk dilindungi oleh Undang-Undang. Pemerintah juga bingung, banyak sekolah di buat oleh masyarakat, tetapi profesi di masyarakat tidak jelas, tidak di atur. Jadinya beberapa pekerjaan untuk kepentingan masyarakat bisa jatuh ke praktik KISS  )<span style="color:#808080;"><strong><span style="color:#ff0000;">*</span></strong></span></p>
<h6><span style="color:#808080;"><strong><span style="color:#ff0000;">*)</span></strong></span><span style="color:#808080;"><strong><span style="color:#ff0000;"> <span style="color:#808080;">Sebagai contoh, penulis pernah terlibat di dalam proyek dinas ( X). Hal ini terjadi karena rekan penulis sebagai pemilik perusahaan mengetahui bahwa penulis ahli tentang bangunan tradisional. Tetapi dalam TOR (KAK) dinas (X) disebutkan  syarat konsultan harus memiliki ahli  budaya (bukan ahli seni rupa tradisional). Artinya ahli budaya itu bisa siapa saja seperti  satrawan, seniman bebas. Sertifikasi tentang siapa ahli budaya itu belum ada sampai sekarang. Dinas (X) menganggap ahli budaya itu adalah lulusan antropologi (jika budaya itu adalah tari dan nyanyi, penulis yakin lulusan antropologi itu tidak pandai menari atau menyanyi). Jadi penulis anggap hanya mengarang-ngarang saja, karena tidak di jamin orang antropologi itu juga ahli budaya. Kita sering membanggakan memiliki kebudayaan yang tinggi dan besar, tetapi sosok pelaku budaya, profesinya tidak jelas. Boleh dikata yang disebut budayawan itu adalah hantu. Dia ada tetapi tidak ada. Pengetahuan dinas (X)  tentang ahli seni rupa itu baru sebatas melukis atau menggambar. Mereka tidak mengetahui, kalau perluasan bidang ilmu seni rupa itu  kepada budaya visual dan juga desain. Bidang-bidang yang terkait dengan seni rupa dan desain &#8211;yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak&#8211; umumnya belum mendapat perhatian dalam masyarakat kita. Apalagi untuk aplikasinya di lapangan. Ini salah satu contoh, bagaimana bidang kebudayaan kurang mendapat perhatian pemerintah, kecuali untuk menari dan menyanyi. Praktik KISS itu berlangsung secara tidak disadari dalam kehidupan kita. Penulis melihat banyak  proyek dan pekerjaan di dalam masyarakat dikerjakan bukan oleh bidang pendidikannya. Setahu penulis baru ada delapan profesi yang dilindungi oleh UU. Yang mapan adalah profesi dokter dan advokat sebagai warisan jaman Belanda. Dokter dan advokat bisa memberikan tarif  tertentu terhadap profesinya dan kerjanya dianggap profesional, lainnya baru dianggap sebagai pelayan masyarakat, termasuk guru dan seniman.</span></span></strong></span></h6>
<p style="text-align:justify;"><strong>Meniru saja tidak bisa, lagi…</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah mencatat bahwa bangsa peniru nomor satu  di dunia adalah Jepang,  kenapa ? Waktu Jepang hancur lebur oleh bom atom tahun 1942, yang ditanya kaisar Jepang kepada menterinya cuma satu,  berapa sih profesor (artinya guru) yang masih hidup, coba hitung katanya. Kumpulkan dan beri fasilitas untuk mendidik bangsa Jepang yang masih tersisa ! Menurut cerita, sejak “restorasi Meiji” mereka telah mencoba menyalin dan menterjemahkan semua ilmu Barat ke tulisan dan bahasa Jepang, yang dibaca orang Barat-pun saat itu tidak bisa. Kemudian mereka memisahkan mana yang ilmu Barat dan mana yang ilmu Timur, keduanya sama-sama diperdalam dan dikembangkan dalam dunia pendidikannya (catatan: kalau kita justru dicampuradukkan, lihat saja di sekolah seni dan desain, mana ada pembagian jurusan seni Timur dan Barat, bentuknya menjadi tak karuan,  Barat yang men-Timur atau sebaliknya, akhirnya juga tidak meng-Indonesia). Kurang dari 1 abad setelah Restorasi Meiji, semua bangsa di dunia terpesona kepada negara kecil itu yang mampu menguasai ilmu Barat (karena memepleks?). Jadi mereka (Barat) sebenarnya “tertipu”, kalau tidak dikalahkan. Setelah ketahuan, barulah buru-buru mereka keluarkan undang-undang hak cipta. Sekarang kita tidak bisa sembarang meniru, karena ada undang-undang yang mengaturnya. Coba saja sekarang, terjemahkan buku asing, anda mesti minta izin ke penerbitnya atau penulisnya di luar negeri.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai meme ini dan konteksnya dengan seni penulis kemukakan dalam DTS sbb.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">MacKim (1991), menjelaskan bahwa dalam bidang apapun membuat ciplakan atau (copy) adalah tabu (dilarang). Seperti banyak kelas-kelas seni kontemporer mengkopi itu adalah sesuatu yang salah. Tetapi mengkopi dianggap kreatif jika dipakai sebagai alat seleksi visi. Sepanjang sejarahnya dapat dibuktikan bahwa seniman kreatif belajar sendiri melalui penciplakan (copying). Tetapi yang dicopy bukan karyanya, tetapi alat dan teknik untuk mengembangkan ide sendiri. Jadi timbul pertanyaan, bagaimana jika yang dicopy itu adalah konsep, prinsip, pikiran, atau teori orang lain  ? (DTS, hal 11)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sokongan untuk meme, penulis tulis dalam  buku (DTS) sbb:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Ciri dari ilmu pengetahuan adalah pengembangan dan inovasi, bukan replikasi (peniruan), walaupun dalam pengembangan ilmu terdapat kecendrungan duplikasi dan memepleks. Namun, kenyataannya kita mereplikasi pikiran-pikiran orang lain melalui kutipan buku atau pikiran, lalu menuliskan dalam sebuah tulisan &#8211; di samping kita menjelaskan pikiran-pikiran kita sendiri &#8211; atau mengajarkannya pada orang lain. Dapat dikatakan bahwa pendidikan bidang apapun penuh dengan tindakan replikasi pengulangan atau peniruan dan atau meme. Hal ini dipahami karena proses belajar manusia bertahap dan berkesinambungan. Kita mesti mengulangi apa yang telah ditemukan orang lain untuk memahami apa yang ada pada masa kini atau mempelajari apa yang dipelajari generasi sebelumnya. Dan itu dilakukan sejak usia dini  (DTS, 2008. hal .11)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Uraian selanjutnya penulis menjelaskan kesulitan mempelajari bidang seni dalam buku  DTS sbb:</p>
<blockquote><p>Ilmu seni memang ibarat sebuah belantara luas yang menyesatkan, yang siap menelan dan menerkam setiap orang yang memasukinya. Jika seseorang memasuki tampa rambu-rambu yang jelas, maka di jamin dia tidak bisa ke luar lagi dari rimba belantara itu. Melalui ilmu seni kita bisa tersesat ke ilmu pengetahuan tentang manusia (humanisme), seperti psikologi, psikologi persepsi, antropologi, estetika, atau tersesat ke ilmu aplikasi seperti semiotika, retorika visual, komunikasi visual, desain produk, teknologi dan seterusnya. (DTS. 2008. hal.12)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan ini penulis coba merangkum sbb:</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis menyimpulkan, kesalahan  kita bukan hanya dibidang pendidikan melulu, tetapi juga dalam sosial-budaya, yang kurang mendapat perhatian selama ini. Sebelumnya jika  kita menunjukkan kekayaan budaya, selalu dari pamer tari dan nyanyi ke mancanegara. Mana ada pamer pikiran atau ilmu (intelektual) sebagai cara untuk menunjukkan kebudayaan yang tinggi, bahwa pendidikan dan manusia kita juga nomor satu. Sebelumnya mata tertuju hanya pada ekonomi, yang hanya memakmurkan pelaku ekonomi, bukan memakmurkan pelaku pendidikan untuk membina manusia, demi kemajuan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai tahun 2005-6 profesi guru, baru mendapat dukungan yang benar dari pemerintah. Pendidikan mungkin juga ada baiknya dipolitikkan, misalnya untuk menata lapisan sosial kelas menengah terdidik seperti yang dicontohkan India seabad yang lalu. Sertifikasi guru/dosen dan imimg-iming penggajian sekian kali lipat dapat dilihat  sebagai menata strata  sosial kelas menengah terdidik. Asal jangan salah sasaran, karena sertifikasi, terutama dicanangkan hanya berdasarkan kepangkatan, bukan kemampuan atau kompetensi (praktik KISS). Dimana orang yang “galia” ( bhs. Minang= cerdik) tidak produktif bergaji tinggi bisa goyang-goyang kaki, sedangkan yang pandai, produktif, bergaji kecil, banyak pekerjaan,  tetap  frustasi.  Yang ada sekarang adalah sisa-sisa penyakit lama, kekacauan profesi,  dan yang sampai konflik dalam interen profesi, mudah-mudahan itu bukan akibat praktik KISS, lagi</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalam. Padang, 21 Oktober. 2008</p>
<p style="text-align:justify;">
<h6><span style="color:#808080;">Nasbahry Couto adalah guru, orang Minang yang beristerikan orang Sunda (Cimahi Bandung). Sekarang tinggal di daerah terpencil di dusun Kurao Kapalo Banda, Gunung Sarik Padang. Yaitu sebuah daerah yang jauh dari pusat kota  Padang, yang jalannya masih tanah dan berbatu-batu (tidak diaspal), sering di landa banjir dan nampaknya kurang mendapat perhatian pemda. Tinggal di daerah yang adat dan agama Islamnya yang masih kental, solidaritas sosialnya masih tinggi,  di mana anak-anaknya (Minang-Sunda) dididik dalam nilai-nilai budaya kampung (Minang-Padang) yang agak berbeda dengan budaya urban. </span></h6>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=228&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/11/03/sebuah-interpretasi-luas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EngageMedia workshop in Padang, Sumatra</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/09/06/engagemedia-workshop-in-padang-sumatra/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/09/06/engagemedia-workshop-in-padang-sumatra/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 23:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA BELANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[EngageMedia conducted a workshop in Padang, Sumatra, with local arts community organisation, Komunitas Seni Belanak, to local artists and students, interested in independent online video.

These workshops form part of a series being undertaken by EngageMedia during August/September 2008. Anna Helme led these workshops, presenting the material in English, with Bahasa Indonesia translations done by Mirwan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=221&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.engagemedia.org/" target="_blank">EngageMedia</a> conducted a workshop in Padang, Sumatra, with local arts community organisation, Komunitas Seni <strong><span style="color:#808080;">Belanak</span></strong>, to local artists and students, interested in independent online video.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin-left:10px;margin-right:10px;border:2px solid #000000;" src="http://www.engagemedia.org/Members/andycat/images/p1050192.jpg/image_preview" alt="" width="288" height="162" /></p>
<p>These workshops form part of a series being undertaken by EngageMedia during August/September 2008. Anna Helme led these workshops, presenting the material in English, with Bahasa Indonesia translations done by Mirwan Andan from <a href="http://ruangrupa.org" target="_blank">Ruangrupa</a>.</p>
<p>The first session was conducted at a local &#8216;warnet&#8217; &#8211; an internet cafe &#8211; on 28th August 2008, in conjunction with <strong><span style="color:#808080;">Belanak</span></strong> community. The session started with the background to the EngageMedia project, the reasons for choosing free and open source software, an explanation of video compression for online distribution, and a comparison between EngageMedia and corporate video sites like youtube.</p>
<p>The practical session went for two hours, covering the open source Media Coder software, designed for compressing video into formats suitable for online distribution. Following on from this, participants created accounts on EngageMedia.org and were shown through the process of uploading videos onto the Engagemedia website.</p>
<p>The second session, later in the afternoon, was done at the <strong><span style="color:#808080;">Belanak</span></strong> community&#8217;s house. This session was a talk covering the latest technologies for distributing video online, such as syndication feeds, using Miro as a tool for downloading and screening, the Transmission.cc network, community TV, online/offline distribution models and how these technologies can adapt into the Indonesian context.</p>
<p><em>Source: <a href="http://www.engagemedia.org/" target="_blank">http://www.engagemedia.org/</a></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/221/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/221/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=221&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/09/06/engagemedia-workshop-in-padang-sumatra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.engagemedia.org/Members/andycat/images/p1050192.jpg/image_preview" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Premiere y presentación de la Película EL CARRUAJE</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/09/06/premiere-y-presentacion-de-la-pelicula-el-carruaje/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/09/06/premiere-y-presentacion-de-la-pelicula-el-carruaje/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 22:50:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[BERITA BELANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[el despacho, la Embajada de los Países Bajos en México y la Cineteca Nacional tienen el agrado de invitarle a la premiere de la película y presentación del DVD del documental:
El Carruaje
que tendrá lugar el lunes 22 de septiembre de 2008 a las 19:30 hrs. en la Sala 4 Arcady Boytler de la Cineteca Nacional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=216&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="margin-left:10px;margin-right:10px;border:2px solid #000000;" src="http://www.paisesbajos.com.mx/pages/activities/spanish/postal_carruaje_frente.jpg" alt="" width="232" height="314" /><strong>el despacho,</strong> la Embajada de los Países Bajos en México y la Cineteca Nacional tienen el agrado de invitarle a la premiere de la película y presentación del DVD del documental:</p>
<p><strong>El Carruaje</strong></p>
<p>que tendrá lugar<strong> el lunes 22 de septiembre de 2008</strong> a las 19:30 hrs. en la Sala 4 Arcady Boytler de la Cineteca Nacional en Av. México Coyoacán 389 Col. Xoco 03330 Del. Benito Juárez<br />
++++</p>
<p>El Carruaje. (México, Holanda e Indonesia 2008) HDV/DVCAM, 107 min<br />
Un documental dirigido por el artista visual Diego Gutiérrez en colaboración el cineasta holandés Kees Hin.</p>
<p>Con el apoyo de Stichting DOEN, Rijksakademie van Beeldende Kunsten, CONACULTA-FONCA, Forum Lenteng y <strong>Komunitas Seni Belanak</strong></p>
<p>Hablada en indonesio, holandés, inglés y español.<br />
Subtítulos en español.</p>
<p><em>Source: <a href="http://www.paisesbajos.com.mx/" target="_blank">http://www.paisesbajos.com.mx </a></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/216/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/216/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=216&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/09/06/premiere-y-presentacion-de-la-pelicula-el-carruaje/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.paisesbajos.com.mx/pages/activities/spanish/postal_carruaje_frente.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gesekan Biola Anak-anak nan Memukau</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/08/25/gesekan-biola-anak-anak-nan-memukau/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/08/25/gesekan-biola-anak-anak-nan-memukau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 22:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[BERITA BELANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 23 Agustus menjelang sore hari, sebuah atraksi orkestra ditampilkan dengan begitu sempurna di Taman Budaya Padang, pada pembukaan pameran lima tahun komunitas Belanak. Pameran tersebut mengangkat tema Apresiasi Urban. Anak-anak usia sekolah dengan piawai memainkan berbagai alat musik biola, terompet, lira, flugel, talempong gitar, drum band dan lainnya. Penampilan musik itu dibawakan orkestra Kota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=211&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="margin-left:10px;margin-right:10px;border-color:#000000;border-style:solid;border-width:2px;" src="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/logo_apresiasi_urban.jpg" alt="" width="189" height="89" />Sabtu 23 Agustus menjelang sore hari, sebuah atraksi orkestra ditampilkan dengan begitu sempurna di Taman Budaya Padang, pada pembukaan pameran lima tahun komunitas Belanak. Pameran tersebut mengangkat tema Apresiasi Urban. Anak-anak usia sekolah dengan piawai memainkan berbagai alat musik biola, terompet, lira, flugel, talempong gitar, drum band dan lainnya. Penampilan musik itu dibawakan orkestra Kota Padang, yang umumnya anak-anak usia sekolah dasar. Mereka dengan seksama menggesek dawai biola, agar musik yang dimainkan sempurna dan mampu menggugah penonton.</p>
<p><span id="more-211"></span></p>
<p>Baru saja musik itu mengalun, penonton memberi apresiasi melalui tepuk tangan yang meriah. Mamad, salah seorang pelatih musik mengatakan hanya butuh waktu satu bulan mempersiapkan konser musik ini. Apa lagi musik tersebut digabungkan dengan pameran lukisan yang berbeda aliran satu sama lainnya.</p>
<p>“Kolaborasi musik dengan lukisan ini muncul karena saya ingin pencinta musik, juga bisa menikmati karya lukisan seniman kita. Kan tidak ada salahnya dua seni dicintai sekali jalan, musik dan lukisan,” kata Mamad kepada Singgalang di sela-sela pembukaan pameran.</p>
<p>Dikatakannya, dengan menampilkan dua atraksi musik dan lukisan akan mendatangkan penonton yang lebih banyak dari sebelumnya, apalagi hal ini sangat jarang terjadi di Sumbar.</p>
<p>Hal itupun diakui wartawan senior asal Sumbar yang hingga kini berkiprah di media media nasional, Yurnaldi.</p>
<p>“Pembukaan pameran yang dibarengi musik ini pertama kalinya dilakukan di Sumbar dan ini patut mendapat apresiasi dari penonton. Apalagi grup orkestranya kebanyakan dari anak-anak sekolah dasar. Ini benar-benar sebuah kemajuan yang bagus dalam dunia seni kita,” sebut Yurnaldi.</p>
<p>Arrifa, 7,5 tahun sebagai salah seorang pemain biola mengaku puas dengan atraksi yang mereka tampilkan.</p>
<p>“Saya senang tampil dalam pembukaan pameran ini, apalagi pembukaan pamerannya dibarengi musik. Hal ini sebuah pengalaman baru buat saya,” papar pemain termuda dibanding pemain biola lainnya dalam grup orkestra Padang.</p>
<p><img class="alignright" style="margin-left:10px;margin-right:10px;border:2px solid #000000;" src="http://www.hariansinggalang.co.id/images/stories/demo/foto/pamer.jpg" alt="" width="200" height="267" />Kecintaan Arrita, pada musik terutama biola berawal dari sebuah konser di televisi. Waktu itu ia baru berumur lima tahun. Lalu orangtuanya memberi support agar dia eksis dalam musik, yakni biola.</p>
<p>“Ada rasa kagum dalam hati saya ketika pemain biola memainkannya di televisi. Sejak saat itu saya jatuh cinta pada biola, mama dan papa pun memberi support pada saya. Hingga sekarang saya masih mencintai biola tapi bukan berarti saya akan menjadi pemain biola selamanya,” jelas murid SD Kartika I/II Padang itu.</p>
<p>Untuk tampil dalam konser orkestra tersebut butuh persiapan yang matang. Selama satu bulan penuh dia bersama teman-temannya yang lain berlatih dengan giat, agar konser tersebut tidak mengecawakan penonton.</p>
<p>Para pemain biola yang duduk di sekolah dasar itu umumnya datang bersama keluarga, dengan gagah mereka duduk di atas kursi di panggung mini yang telah disiapkan panitia. Para orangtua anak yang tampil itupun bangga karena anak-anak mereka menampilkan musik yang memukau dihadapan para undangan, yang berasal dari berbagai kalangan.</p>
<p>Setelah orkestra Kota Padang selesai menggelar atraksinya, orkestra INS Kayu Tanam pun, tampil dengan tak kalah bagusnya dengan orkestra dari kota bingkuang itu. Okestra INS Kayu Tanam membawakan beberapa lagu populer, lagu Minang dan Hyme INS Kayu Tanam karya Bachtiar Said dengan aransemen Siswandi, SPd.</p>
<p>Okestra Kota Padang anggotanya tergabung dalam tiga komunitas (grup musik Savero, Bintang dan mahasiswa sendratasik), sedangkan orkestra INS Kayutanam adalah siswa jurusan musik.</p>
<p>Sementara, pameran lukisan Komunitas Belanak tersebut dibuka Pimpinan Harian Padang Ekspres, Sutan Zaili tersebut menampilkan sekitar 53 karya Komunitas Belanak, dan karya undangan, seperti pelukis ternama Sumbar.</p>
<p>Ibrahim, kurator mengatakan pameran Apresiasi Urban itu menceritakan tentang perguliran infromasi yang bersifat interpolasi secara besar berjalan dari satu titik ketiti-titik lainnya. Penampakan yang dimaksud tentu bukan karena mayoritas dipresentasikan dari daerah ke pusat. Namun lebih kurang seperti melihat jejeran toko-toko yang beraneka ragam yang menjual produk-produk yang sama.</p>
<p>“Acara ini kami gelar untuk merangsang aktivitas kesenian, sehingga kian menantang para seniman untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya. Pembuktiaan ini tidak hanya secara personal namun juga secara komunal kompetitif,” jelasnya.</p>
<p>Masing-masing karya Komunitas Belanak tersebut sudah dihargai kolektor minimal Rp5 juta/lukisan sedangkan nilai tertingginya mencapai puluhan juta rupiah. Setiap lukisan tersebut memiliki makna tersendiri, yang didapat dari pengalaman pelukis itu sendiri. Pameran yang digagas komunitas Belanak dan difasilitasi UPTD Taman Budaya Sumbar itu akan berlangsung hingga Jumat 29 Agustus mendatang.</p>
<p><em>Dimuat pada di Harian Singgalang, Senin, 25 Agustus 2008</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/211/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/211/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=211&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/08/25/gesekan-biola-anak-anak-nan-memukau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/logo_apresiasi_urban.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.hariansinggalang.co.id/images/stories/demo/foto/pamer.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pameran Wahana Pembelajaran</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/08/24/pameran-wahana-pembelajaran/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/08/24/pameran-wahana-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 21:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[BERITA BELANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Padang, Padek &#8211; UPTD Taman Budaya Sumbar kembali memamerkan karya-karya terbaik dari perupa Sumbar. Pameran ini sekaligus bertepatan lima tahun keberadaan Komunitas Seni Belanak. Pameran dibuka oleh Pemimpin Umum Harian Pagi Padang Ekspres, H St. Zaili Asril, di galery Taman Budaya Sumbar, Sabtu, kemarin, yang akan berlangsung hingga Jumat, (29/8) mendatang.
Zaili Asril dalam sambutannya mengatakan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=203&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="margin-left:10px;margin-right:10px;border:2px solid #000000;" src="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/logo_apresiasi_urban.jpg" alt="" width="189" height="89" />Padang, Padek &#8211; UPTD Taman Budaya Sumbar kembali memamerkan karya-karya terbaik dari perupa Sumbar. Pameran ini sekaligus bertepatan lima tahun keberadaan Komunitas Seni Belanak. Pameran dibuka oleh Pemimpin Umum Harian Pagi Padang Ekspres, H St. Zaili Asril, di galery Taman Budaya Sumbar, Sabtu, kemarin, yang akan berlangsung hingga Jumat, (29/8) mendatang.</p>
<p>Zaili Asril dalam sambutannya mengatakan, pameran seni mempunyai makna dan arti tersendiri bagi para perupa dalam menciptakan karya seni. Melalui pameran ini, kata Zaili, dapat menjadi wahana pembelajaran dan peningkatan apresiasi keseniannya.</p>
<p><span id="more-203"></span>“Kita semua bisa menyadari, banyak perupa-perupa Sumbar yang mempunyai karya seni bagus, namun ada di antara mereka yang belum pernah mendapat kesempatan pameran. Nah, melalui pameran ini dapat memberi kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan hasil karyanya kepada masyarakat umum,” ujar Zaili.</p>
<p>Selain itu, lanjutnya, pameran bisa menjadi ajang perkenalan, baik karya konvensional, alternatif maupun karya-karya eksperimen, khususnya, bagi publik seni rupa dan masyarakat umumnya. “Melalui pameran bisa muncul tanggapan kritis dan respons positif masyarakat terhadap hasil karya para perupa. Sekaligus meningkatkan hubungan antara perupa dengan kolektor dan pemerhati seni,” ungkap Zaili.</p>
<p>Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, Asnam Rasyid mengungkapkan, pameran seni rupa ini bertujuan menggali potensi ruang seni bagi para perupa. Pameran, tambahnya, juga merupakan suatu pertanggungjawaban dan ajang dialog dengan publik yang lebih luas, khususnya bagi pecinta dan pengamat seni.</p>
<p>Kurator seni, Ibrahim menjelaskan pameran kali ini mengambil tema “Apresiasi Urban” menampilkan sebanyak 53 karya seni, yang terdiri dari karya kolaborasi dan personal dari komunitas seni belanak, mencakup seni lukisan, patung, grafis, performance art dan lainnya. Beberapa dari karya seni tersebut pernah di tampilkan pada pameran seni di Jakarta dan Yogyakarta. (mg15)</p>
<p><em>Dimuat pada di Harian Pagi Padang Ekspres, Minggu, 24 Agustus 2008 </em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/203/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/203/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=203&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/08/24/pameran-wahana-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/logo_apresiasi_urban.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Apresiasikan Urban di Taman Budaya</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/08/22/apresiasikan-urban-di-taman-budaya/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/08/22/apresiasikan-urban-di-taman-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 21:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[BERITA BELANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Padang, Padek &#8211; Dalam upaya pengembangan seni dan budaya serta peningkatan apresiasi seni masyarakat khususnya di bidang seni rupa, UPTD Taman Budaya Sumbar kembali menggelar pameran seni. Kali ini, UPTD Taman Budaya akan menampilkan karya seni dari komunitas seni belanak bertajuk “Apresiasi Urban” pada 23 Agustus hingga 29 Agustus mendatang di galeri Taman Budaya.
Ibrahim, dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=207&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="margin-left:10px;margin-right:10px;border:2px solid #000000;" src="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/logo_apresiasi_urban.jpg" alt="" width="189" height="89" />Padang, Padek &#8211; Dalam upaya pengembangan seni dan budaya serta peningkatan apresiasi seni masyarakat khususnya di bidang seni rupa, UPTD Taman Budaya Sumbar kembali menggelar pameran seni. Kali ini, UPTD Taman Budaya akan menampilkan karya seni dari komunitas seni belanak bertajuk “Apresiasi Urban” pada 23 Agustus hingga 29 Agustus mendatang di galeri Taman Budaya.</p>
<p>Ibrahim, dari komunitas seni belanak mengatakan dalam pameran itu nantinya akan dipamerkan sebanyak 53 karya seni, terdiri karya kolaborasi dan personal dari komunitas seni belanak. Dimana beberapa dari karya seni tersebut pernah ditampilkan pada pameran seni di Jakarta dan Yogyakarta.<span id="more-207"></span>Tujuannya, kata Ibrahim, untuk memperkenalkan hasil karya seni dari perupa-perupa komunitas seni belanak kepada masyarakat umum, sekaligus memberikan dorongan kepada para kolektor baik dalam maupun luar Sumbar untuk mengoleksi karya seni dari perupa Sumbar.</p>
<p>“Secara komunitas, kita ingin meningkatkan apresiasi masyarakat serta membangun image terhadap karya seni di Sumbar. Bahwasanya, karya seni yang dihasilkan oleh perupa Sumbar tidak kalah dibanding perupa-perupa daerah lainnya,” ujar Ibrahim sembari mengatakan pameran komunitas seni belanak tersebut akan dibuka langsung Pemimpin Umum Harian Pagi Padang Ekspres, Sutan Zaili Asril.</p>
<p>Sementara, Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, Asnam Rasyid mengatakan Taman Budaya sebagai fasilisator berusaha untuk memfasilitasi para seniman dalam memajukan kesenian. Salah satunya adalah dengan menggelar berbagai pameran karya seni bekerjasama dengan para perupa atau komunitas seni yang ada di Sumbar.</p>
<p>Strategi itu, katanya perlu untuk diwadahi guna mengekspresikan potensi-potensi kesenian yang dimiliki para perupa Sumbar agar diketahui masyarakat umum dan juga dapat mendorong pertumbuhan kolektor seni.</p>
<p>“Sumbar merupakan daerah yang kaya dengan para perupa. Namun, hasil karyanya banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat umum. Maka dari itu, Taman Budaya sebagai fasilisator dalam pengembangan seni dan budaya di Sumbar dapat berperan dalam menghidupkan karya seni dari para perupa,” ujar Asnam didampingi Kasi Pagelaran Taman Budaya, Mardanis dan penata, Indra Budiman. (mg15)<br />
<em>Dimuat pada di Harian Pagi Padang Ekspres, Jumat, 22 Agustus 2008 </em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/207/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/207/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=207&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/08/22/apresiasikan-urban-di-taman-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/logo_apresiasi_urban.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas Seni Belanak: Apresiasi Urban</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/08/09/apresiasi-urban/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/08/09/apresiasi-urban/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 20:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[IVEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Pameran Seni Rupa 5 Tahun Komunitas Seni Belanak
&#8220;APRESIASI URBAN&#8221;
Taman Budaya Sumatera Barat
23 &#8211; 29 Agustus 2008
Abel Azonda Mahardika Mahadikta, Adjie, Beni Yusra, Cornelis, Debby Nurianto, Dicky Friandi, Dodi Pribadi, Dwi Agustyono, Erianto ME, Erlangga, Fariko Edwardi, FS Sutan, Hamid, Henda Rotama, Hendra Sardi, Hengki Romi Pozla, Irwandi, Ibrahim, Indra, Ismail Zulpikar, Iswandi, Jerry Rinaldo, Jupriani, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=122&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Pameran Seni Rupa 5 Tahun Komunitas Seni Belanak</strong></p>
<h1 style="text-align:center;">&#8220;APRESIASI URBAN&#8221;</h1>
<p style="text-align:center;"><strong>Taman Budaya Sumatera Barat<br />
23 &#8211; 29 Agustus 2008</strong></p>
<p>Abel Azonda Mahardika Mahadikta, Adjie, Beni Yusra, Cornelis, Debby Nurianto, Dicky Friandi, Dodi Pribadi, Dwi Agustyono, Erianto ME, Erlangga, Fariko Edwardi, FS Sutan, Hamid, Henda Rotama, Hendra Sardi, Hengki Romi Pozla, Irwandi, Ibrahim, Indra, Ismail Zulpikar, Iswandi, Jerry Rinaldo, Jupriani, Khriz Atmaja, Khalid Arafah, M Ridwan, M Zikri, Maizal Fitra, Maradoni, Marwan, Nasrul, Novria Darman, Osmulyadi, Pariyanto, Rajudin, Randi Pratama, Rifki Afebri, Riosadja, Romi Armon, Roni Kurniawan, Roni Sarwani, Rudi, Rudi Mardiansyah, Siska Yuliana, Syafrizal (Kojal), Syafrizal, Syahrial, Tomi Halnandes, Yasrul Sami Batubara, Yermen Syarief, Yulfa Haris Saputra</p>
<p>Kurator: Ibrahim</p>
<p><strong>Pembukaan / Opening:</strong><br />
Sabtu, 23 Agustus 2008 | Pukul 15.00 WIB</p>
<p><strong>Diskusi Seni:</strong><br />
Senin 25 Agustus 2008 | Pukul 10.00 WIB<br />
Bersama: Asmudjo J Irianto (Seniman &#8211; Kurator), Rifki Efendi (Kurator Independen)</p>
<address><strong>Informasi:</strong><br />
</address>
<address> Sekretaiat Komunitas Seni Belanak,<br />
</address>
<address> Jl. Bhakti, gang Bhakti II No. 20 Kel. Dadok-Tunggul Hitam, Padang<br />
</address>
<address> Kontak: +6281374374448 (Ibrahim), Ismail Zulpikar (+6281374694454)<br />
</address>
<address> Email: belanak_padang@yahoo.com<br />
</address>
<address> Website: http://belanak.wordpress.com/</address>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/selebaran.jpg" alt="" width="500" height="706" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=122&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/08/09/apresiasi-urban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/selebaran.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pameran Seni Rupa di Galeri Taman Budaya: Syukur Masih Ada Cahaya</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/07/13/pameran-seni-rupa-di-galeri-taman-budaya-syukur-masih-ada-cahaya/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/07/13/pameran-seni-rupa-di-galeri-taman-budaya-syukur-masih-ada-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 19:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[IVEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[OLEH: YUSRIZAL KW
Kanvas itu berlatar hitam. Tak menjadi legam karena, sesudut kecil di kanan bawah, ada lentera memendarkan cahaya kemerahan. Cahaya kecil itu, memang tak mampu mewarnai hitam yang luas, namun memberi suasana yang sunyi, kadang kalau lama menikmatinya terasa romantik. Kehadiran lentera itu seakan berpesan, betapa bermaknanya cahaya ketika kita memaknai kelam atau hitam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=118&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>OLEH: YUSRIZAL KW</strong></p>
<p>Kanvas itu berlatar hitam. Tak menjadi legam karena, sesudut kecil di kanan bawah, ada lentera memendarkan cahaya kemerahan. Cahaya kecil itu, memang tak mampu mewarnai hitam yang luas, namun memberi suasana yang sunyi, kadang kalau lama menikmatinya terasa romantik. Kehadiran lentera itu seakan berpesan, betapa bermaknanya cahaya ketika kita memaknai kelam atau hitam dengan hakikat “syukur ada cahaya”. Sekaligus, hal itu, bisa pula kita siratkan, sebagai optimisme baru seni rupa Sumatra Barat: Ada cahaya harapan.</p>
<p><span id="more-118"></span></p>
<p>Demikian setidaknya bisa kita tafsir sebagai narasi deskriptif dari lukisan berjudul “Penerangan”, karya Sabri Marba (100&#215;200cm), yang dipamerkan bersama 57 karya lainnya, di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumatra Barat, 6-12 Juli 2008.</p>
<p>Hal menarik, pameran kali ini, di ruang pameran yang cukup representatif untuk Sumatra Barat, dengan karya perupa usia muda yang juga (untuk Sumatra Barat) cukup mencerahkan. Setidaknya, dengan galeri seni rupa dan pameran perdananya ini, kita digerakkan untuk berpikir dan berharap positif. Rata-rata pelukis usia muda (terutama yang lahir tahun 80-an), menawarkan pencerahan gagasan dan narasi ucap pada pemaknaan kanvas tak sekadar ruang dua dimensi, tetapi memberi energi estetik dan upaya orisinalitas.</p>
<p>Lukisan “Shutdown”, Feriko Edwardi, dominan hitam, memperlihatkan sosok hitam bersila membelakang. Dominasi hitam membuat tubuh telanjang itu bagai bayang-bayang hitam nan kuat. Latar depannya, layar digital, di sudut kiri atas sebuah kursor panah menunjuk simbol “Turn Off”. Wacana yang digitalistik coba ditawarkan, pada lukisan ukuran 160&#215;145 cm itu, seakan membisikkan, kehidupan sesungguhnya adalah kadang sosok “gelap” yang tengah terkoneksi pada percepatan teknologi dan informasi, melakukan pencarian untuk pengakhiran: shutdown! Atau, kita bisa tercekat dengan realita yang ditawarkan pelukis Hamzah, Mantekno dan Menteknoman (mixed media), yang intinya berbisik: kita sedang diteknologikan/digitalisasi atau sebaliknya.</p>
<p>Lukisan “Penerangan” dan “Shutdown”, memperlihatkan kekuatan ide dan eksplorasi sebagai sebuah pencapaian ruang estetik yang menawarkan tafsir tak berhingga. Rona-rona “kesenyapan”, pada pameran kali ini, cenderung dominan. Walau kita juga bisa melihat sebuah letupan pada pilihan bentuk dan warnanya, namun ketika kita juga mencoba “menaratifkan” ide, tema, dan pola eksekusi perupanya dalam bentuk pemaknaan, terasa ada pembebasan diri yang menyeret ke ruang lebih sepi dan kontemplatif.</p>
<p>“Tak ada sesiapa (kecuali kita)” setidaknya kita bisa mendapatkan dugaan kata tersebut pada lukisan “Nostalgia (140&#215;160 cm) karya Muhammad Ridwan. Lukisan dengan kesan tekstur kulit kayu ini, menggambarkan dua anak kecil di ban pelampung, berpegangan tangan dengan ekspresi yang gundah. Begitu juga pada lukisan “Jalan Teduh” (145&#215;185) karya Syahrial. Jejeran pepohonan memanjang (menjauh) di sisi kiri kanan dan jalan yang tampak gersang, adalah suasana yang mempertanyakan:seberapa pentingnya hidup dijalani kalau sunyi mencekam, atau seberapa pentingnya sunyi jika senyap adalah sebuah wadah kontemplatif untuk pencarian.</p>
<p>Wacana-wacana “imajinatif”, paling tidak demikian, kita bisa resapi dari upaya mengorisinilkan benda yang ditawarkan serta memberinya nilai, yang pada awal barangkali bermula pada bentuk yang sederhana dan remeh temeh dalam keseharian kita namun menjadi bermakna di atas kanvas, seperti apel (Tak semanis yang Dibayangkan) karya Harnimal, akrilik 140cmx200cm, kelapa muda (Di Atas Bayang) karya Khriz Atmaja 145&#215;145, jamur (Parasit) karya Rajudin, 180&#215;140 cm,  dadu (Taruhan) karya Dwi Augustyono 145&#215;145, Kardus (Ada Apa di Balik Kardus) karya Yunis Muler 140&#215;160 cm, dan lainnya.</p>
<p>Artinya, kita dipertemukan realitas baru dari hal-hal keseharian kita, bisa saja menjadi pesan sosial, budaya atau hal yang filosofis sifatnya. Atau jempol kaki kita merasa “diinjak” oleh Zirwen Hazry melalui lukisan akrilik ballpoint di atas kanvas “Dream”, yang memaparkan dengan nakal, seorang anak menyodok bola bilyar dengan rokok terselip di bibirnya, sementara satu kakinya di dalam bingkai hamparan padangrumput dan satu lagi kakonya di bingkai kardus. Lukisan ini terasa menohok imaji sosial kita, sekaligus berpesan hidup adalah permainan yang posisi kita bisa di dalam (pelaku) atau di luar (penonton), atau senantiasa berganti posisi.</p>
<p><strong>Nilai dan Penguatan Imej </strong><br />
Menikmati 48 lukisan yang dipajang dalam pameran ini, sebagaimana catatan kuratornya, Syafwan Ahmad, ada beberapa kecenderungan style dan bahasa visual. Pertama realis (minimalis), yang menggarap detail, baik figur manusia maupun alam benda. Kemudian corak naturalis, kaligrafi dan abstrak atau nonfiguratif.</p>
<p>Mereka yang mematok pada abstrak atau nonfiguratif, mengomunikasikan seperangkat nilai dan sarat makna. Komposisi bentuk, warna, bidang, tekstur dan lepasan garis, dibahasakan sebagai citraan imaji, yang sesungguhnya membangun ruang tafsir yang pemaknaanya lebih menukik kepada ide yang bersuara, tema yang menawarkan tafsir cerita atau deskripsi pesan tersirat.</p>
<p>Naturalisme, keterpesonaan pada panorama alam Minangkabau, adalah pesan hijau dan simbol budaya sebagai padu-padan, alam dan budaya sebagai ranah peradaban. Ada rumah adat / bagonjong. Setidaknya kehadiran lukisan tersebut menjadi melihat situasi lingkungan saat ini. Kita merasa tenang, kala misalnya mengingat global warming atau illegal logging, saat di depan kita disuguhkan lukisan “Menunggu Pulang” (140&#215;200) Abdul Hafiz, “Peninjauan” ( 100&#215;70) Armansyah Nizar, “Nagari Simpang Sugiran” (90&#215;60) Firman Ismail, “Kampung” (80&#215;120) Erinaldi, “Dharmasraya” (200&#215;240) Nazar Ismail, “Pulang (50&#215;60) Idran Wakidi dan Zainal Ahmad dengan Istana Pagaruyung (90&#215;70).</p>
<p>Tentu ada catatan menarik dalam pameran ini. Setidaknya, untuk Sumatra Barat, kecenderungan kontemporer, keberadaan abstrak (minimalis), sebagai suatu yang tengah memikat, walau di Jakarta, Bandung dan Yogya hal demikian sudah lama. Dimana, perupa muda usia, sebagian masih kuliah, kekuatan ide, orisinalitas bentuk dan media, menjadi perhatian dan ruang yang dimaksimalkan eksplorasinya. Tak jarang kadang kita merasa tengah menikmati puisi, yang diksinya seakan baru saja keluar dari ranah intuisi.</p>
<p>“Ketika Berat Menjadi Ringan” (140x 140) karya Irwandi dan “Mencawan” (140&#215;185) karya Syafrizal kita amati, imaji yang ditawarkan adalah penyulingan ide dan makna untuk diksi yang mengkristal. Tetapi bentuk yang ditawarkan sesungguhnya ingin citraan dari ruang tafsir penikmat, sebagaimana kita membaca letupan “Merah-merah yang Berkilau” (145&#215;145) karya Indra, sebagai suasana ambigu, untuk menegaskan keberadaan ide, bentuk dan pesan sebagai sebuah suasana bagi temuan dan keberadaan intuisi atau imaji.</p>
<p>Dalam pameran ini juga ikut perupa penting lainnya seperti Amrianis, Amir Syarif, Amril M.Y. Dt. Garang, Alza Adrizon, Armen Nazarudin, Cornelis, Debby Nurbianto, Alberto, Dwi Augustyono, Erianto ME, Frans Nanda, FS Sutan, Harmonis, Hanafi, Hamid, Herisman Tojes, Henda Rotama, Hengki Romi Pozia, Ismandi Uska, Ismail Zulfikar, Jon Wahid, Minda Sari, Mislendri, Nofri Anton, Ramli Aziz, Romi Armon, Syafei, Tomi Halnandes, Yul Febrianto, dan Zulhelman.</p>
<p>Secara keseluruhan, lukisan yang dipamerkan, saling memperkuat citra individu sebagai pelukis, dan dunia seni rupa secara lebih substansi di Sumatera Barat. Pameran ini, jelas, juga bisa sebagai momen untuk saling menoleh, pelukis beda generasi, berkarya dengan tetap berkaca dan membaca, agar tak menjadi katak dalam tempurung.</p>
<p>Setidaknya, pameran kali ini, seperti apa yang ditegaskan Kepala Taman Budaya Drs. Asnam Rasjid, peeksposan perupa muda yang kuat dengan ide, bentuk dan pencapaian baru. Artinya, ruang pameran yang kata Asnam terbaik untuk level Taman Budaya se-Indonesia ini, memang harus mengetatkan kriteria kuratorial, agar kelak memang karya terpilih yang bisa tampil di sana. Karena, imej dan kekuatan apresiasi harus dibangun dengan acuan dan tantangan yang jelas.</p>
<p><em>Dimuat pada di Harian Pagi Padang Ekspres, Minggu, 13Juli 2008</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=118&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/07/13/pameran-seni-rupa-di-galeri-taman-budaya-syukur-masih-ada-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Art Award 2008: Pengumuman dan Pameran</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/07/03/indonesia-art-award-2008-pengumuman-dan-pameran/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/07/03/indonesia-art-award-2008-pengumuman-dan-pameran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 23:56:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[IVEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Minggu, 6 Juli 2008, telah diumumkan hasil penjurian IAA 2008. Keputusan Dewan Juri adalah bahwa dalam IAA 2008 ini tidak ada pemenang utama (pemenang 1, 2 dan 3) melainkan 5 (lima) karya pilihan juri, yaitu:


 Seeing The Paradise (Instalasi Video) karya Banung Grahita.
Kirab Budaya (Fotografi) karya Johan Ies Wahyudi.
Coagulation # 1 (Patung) karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=116&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada hari Minggu, 6 Juli 2008, telah diumumkan hasil penjurian IAA 2008. Keputusan Dewan Juri adalah bahwa dalam IAA 2008 ini tidak ada pemenang utama (pemenang 1, 2 dan 3) melainkan 5 (lima) karya pilihan juri, yaitu:</p>
<p><span id="more-116"></span></p>
<ul>
<li> Seeing The Paradise (Instalasi Video) karya Banung Grahita.</li>
<li>Kirab Budaya (Fotografi) karya Johan Ies Wahyudi.</li>
<li>Coagulation # 1 (Patung) karya Faisal Habibi.</li>
</ul>
<ul>
<li>War For Fun (Inastalasi) karya Gatot Indrajati.</li>
</ul>
<p>Masing-masing mendapatkan hadiah berupa uang Rp. 15.000.000,- dan trofi IAA 2008.</p>
<p>Adapun daftar Finalis Indonesia Art Award ART AWARD 2008 adalah:</p>
<ul>
<li>Ab Soetikno, Judul Karya : Gunduk – Instalasi (Jakarta)</li>
<li>Agung &#8220;tato&#8221; Suryanto, Judul Karya : The Blue Down – Instalasi (Surabaya)</li>
<li>Andreas Eko Sardjono Harwindyo, Judul Karya : In Bush We Trust – Video (Tangerang)</li>
<li>Arlan Kamil. Dr, Judul Karya : Seksikah Aku – Patung (Yogyakarta)</li>
<li>Badari Mustaq, Judul Karya : Nasib Kompor Bledug – Instalasi (Yogyakarta)</li>
<li>Banung Grahita, Judul Karya : Seing the Paradise – Instalasi Video (Bandung)</li>
<li>Budi Adi Nugroho, Judul Karya : Sleeping Gaia – Patung (Bandung)</li>
<li>Cecilia Patricia Untario, Judul Karya : Love – Instalasi (Bandung)</li>
<li>Djoni Basri, Drs., Judul Karya : Para Pecundang – Patung (Malang)</li>
<li>Faisal Habibi, Judul Karya : Coagulation # 1 – Instalasi (Bandung)</li>
<li>Febie Babyrose, Judul Karya : Pamali Siah – Video (Jakarta)</li>
<li>Gatot Indrajati, Judul Karya : War for Fun – Instalasi (Yogyakarta)</li>
<li>Hedi Hariyanto, Judul Karya : Contact # 2 – Instalasi (Yogyakarta)</li>
<li>Iip Ipan, Judul Karya : Mari Membaca – Lukisan (Bandung)</li>
<li>Januri, Judul Karya : Planting Houses – Patung (Yogyakarta)</li>
<li>Jenny Lee, Judul Karya : Save Us – Patung (Surabaya)</li>
<li>Johan Ies Wahyudi, Judul Karya : Kirab Budaya – Lukisan (Sukoharjo)</li>
<li>Joni Ramlan, Judul Karya : Jakarta Memang Manis – Lukisan (Mojokerto)</li>
<li>Lidyawati, Judul Karya : Try Me – Patung (Jakarta)</li>
<li>Lutse Lambret Daniel Morin, Judul Karya : Laba-laba – Patung (Yogyakarta)</li>
<li>M. Sigit Budi S, Judul Karya : Done…. – Video (Jakarta)</li>
<li>Maulana M Pasha, Judul Karya : Jalan Tak Berujung – Video (Jakarta)</li>
<li>Nesther Sinaga, Judul Karya : Good Morning In Sto &#8211; Off – Instalasi (Bogor)</li>
<li>Novanda Yudha Bakti (nino), Judul Karya : Anjing Sosis – Patung (Yogyakarta)</li>
<li>Nur Abdiansyah, Judul Karya : Water Gun – Video Art (Makassar)</li>
<li>Otty Widiasari, Judul Karya : Rumah – Video (Jakarta)</li>
<li>Pandu Mahendra Utomo, Judul Karya : I Want Your Oil – Instalasi (Yogyakarta)</li>
<li>Propagraphic Movement, Judul Karya : Poster Awal Tahun dalam &#8220;BBM&#8221; – Poster/Grafis (Jakarta)</li>
<li>Putut Wahyu Widodo, Drs., Judul Karya : In The Name Of God (Blood for oil) – Instalasi (Semarang)</li>
<li>Riyanto, Judul Karya : Senam Muka – Video (Bandung)</li>
<li>Saroni, Judul Karya : Menunda Kematian – Instalasi (Yogyakarta)</li>
<li>Tisa Granicia, Judul Karya : I am going hunting – Patung (Bandung)</li>
<li>Tommy Tanggara, Judul Karya : Reformasi racing team – Instalasi (Yogyakarta)</li>
<li>Widya Sena Pradipta, dkk., Judul Karya : architecture is our playground – Video</li>
<li>Wilman Hermana, Judul Karya : Flags of Our Father # 2 – Patung (Bandung)</li>
<li>Yohanes Paganda Halasan H, Judul Karya : Octopus garden – Photography (Jakarta)</li>
</ul>
<p>PAMERAN para finalis diselenggarakan pada tanggal 7 s/d 13 Juli 2008 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=116&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/07/03/indonesia-art-award-2008-pengumuman-dan-pameran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pameran Pembukaan Manifesto Disesaki Pengunjung</title>
		<link>http://belanak.wordpress.com/2008/05/21/pameran-pembukaan-manifesto-disesaki-pengunjung/</link>
		<comments>http://belanak.wordpress.com/2008/05/21/pameran-pembukaan-manifesto-disesaki-pengunjung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 21:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Seni Belanak</dc:creator>
				<category><![CDATA[AKTIVITAS BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[IVEN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belanak.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS &#8211; Animo masyarakat menyaksikan Manifesto, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia sekaligus peresmian Tangan Patung Ruang Publik Penanda Baru Galeri Nasional Indonesia, Rabu (21/5) malam, relatif besar. Lebih 500 masyarakat dalam dan luar negeri, memadati arena pameran. Pameran yang dikuratori Jim Supangkat, Rizky A Zaelani, Kuss Indarto, dan Farah Wardani itu menampilkan 354 seniman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=112&subd=belanak&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="margin-left:10px;margin-right:10px;float:left;" src="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/manifesto.jpg" alt="" width="100" height="96" />JAKARTA, KOMPAS &#8211; Animo masyarakat menyaksikan Manifesto, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia sekaligus peresmian Tangan Patung Ruang Publik Penanda Baru Galeri Nasional Indonesia, Rabu (21/5) malam, relatif besar. Lebih 500 masyarakat dalam dan luar negeri, memadati arena pameran. Pameran yang dikuratori Jim Supangkat, Rizky A Zaelani, Kuss Indarto, dan Farah Wardani itu menampilkan 354 seniman (karya) dari 15 provinsi yang masih eksis dari angkatan 60-an hingga saat ini. Karya yang ditampilkan cukup beragam, ada karya berupa lukisan, patung, grafis, multimedia dan instalasi, hingga karya-karya seni media baru (video art, fotografi, dan lain-lain).</p>
<p><span id="more-112"></span>Jim Supangkat mengatakan, pameran ini adalah manifesto artistik yang sekaligus membawa kesadaran nasional dalam bingkai persepsi dan ekspresi &#8220;art&#8221; sekalihus &#8220;seni&#8221;. Tajuk Manivesto pameran ini, sambungnya,  tidak dimaksudkan untuk menampilkan suatu konsep seni rupa Indonesia atau suatu pemikiran seni yang menelurkan formulasi seni beridentitas Indonesia.</p>
<p>&#8220;Pameran Manifesto ini mengangkat pengertian &#8217;seni&#8217; dan &#8217;seni rupa&#8217; yang subversif dari dunia &#8216;bawah tanah&#8217; ke permukaan dan menjadikannya keyakinan utama dalam praktik seni rupa dan pembacaan karya seni rupa,&#8221; katanya.</p>
<p>Para perupa yang berpameran kali ini antara lain Zirwen, Sigit Santoso, Ivan Hariyanto, Eduard, Misbach Tamrin, Teguh Ostenrik, Nasrul, Chusin Setiadikara, M Yatim, dan Joko Sulistiono.</p>
<p>Bersamaan dengan pembukaan pameran Manifesto, juga diresmikan patung ruang publik penanda baru Galeri Nasional Indonesia yang berjudul &#8220;Tangan&#8221; (Hand) karya Prayitno Saroyo, seniman kelahiran Semarang, 12 Januari 1957.</p>
<p>Menurut Kepala Galeri Nasional Tubagus &#8216;Andre&#8217; Sukmana, patung Tangan terpilih dari 58 karya dari 53 pematung. &#8220;Setelah melalui proses penjurian telah terpilih salah satu karya patung terbaik dari empat karya nominasi. Kemudian pada akhir tahun 2007 rancang patung pemenang utama tersebut telah berhasil didirikan menjadi sebuah patung monumental, penanda baru Galeri Nasional Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Tubagus, patung monumental Tangan diperlukan dalam rangka mempertegas Galeri Nasional Indonesia sebagai salah satu landmark yang berada di kawasan budaya di Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta.</p>
<p>Galeri Nasional Indonesia yang mempunyai koleksi 1.700 karya mulai dari karya Raden Saleh hingga seniman setelah itu, adalah salah satu lembaga kebudayaan yang menangani perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan koleksi seni rupa modern dan kontemporer, serta mengelola kegiatan seni rupa, baik nasional maupun internasional.</p>
<p>Lima juri untuk menentukan karya patung monumental penabda baru Galeri Nasional Indonesia tersebut adalah Wiyoso Yudhosepurto sebagai ketua, bersama Rita Widagdo (wakil ketua), Yuswadi Saliya, Iriantine Karnaya, dan Asikin Hasan masing-masing sebagai anggota.</p>
<p>Pada acara pembukaan pameran Manifesto dan peresmian patung Tangan, juga ditampilkan performance art Lebur: Akin &amp; Amity, karya kolaborasi SS Listyowati, Rewind-Art dab Sakit Kuning Collectivo.</p>
<p><em>Dari: <a href="http://www.kompas.com/" target="_blank">Kompas.com </a></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/belanak.wordpress.com/112/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/belanak.wordpress.com/112/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/belanak.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/belanak.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/belanak.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/belanak.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/belanak.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/belanak.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/belanak.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/belanak.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/belanak.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/belanak.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=belanak.wordpress.com&blog=883168&post=112&subd=belanak&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belanak.wordpress.com/2008/05/21/pameran-pembukaan-manifesto-disesaki-pengunjung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b935e82feff8203d3cc73f219ab4effa?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">belanak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i165.photobucket.com/albums/u57/belanak_padang/manifesto.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>