OLEH: RIO

Pameran Besar Seni Lukis “Ngarai Sianok” Differenza In Dentro Uno Passa-150 Tahun Seni Rupa Sumbar- yang melibatkan seratusan perupa, telah ditutup. Ada catatan khusus bagi saya. Terutama, setelah mengunjungi ruang pameran, mengamati beberapa kali dari sejumlah lukisan yang dipajang di ruang ruangan Galeri FBSS Universitas Negeri Padang.

Ngarai Sianok sebagai objek, tentu hal menarik. Dalam pikiran saya  sebelum menyaksikan pameran, ada hal-hal baru, menarik dan ekspresif dalam gaya ungkap perupa. Saya bayangkan sebelumnya, suatu yang beragam dengan sudut pandang yang kaya, bakal ditemukan dari pameran ini. Karena, satu objek dipandang bersama-sama, kemudian dilukiskan, jelas akan melahirkan hal yang berbeda dengan kekuatan dan penafsiran bentuk yang beda pula. Tetapi, ketika pameran dibuka, saya kecewa. Semua terperangkap pola “kolot” dalam sisi pandang. Tidak ada tawaran bentuk baru yang memberikan nilai lebih sebagai sebuah iven besar.

Secara lebih khusus. Menurut saya,  pameran ini paling tidak, banyak mengekor atau mengikuti arus pelukis Wakidi (atau wakidian?). Maksudnya, secara visual cenderung merupakan lanskap biasa. Sehingga visual yang ditawarkan terasa sebagai lukisan biasa. Tidak mampu memberi “cerita lebih” kepada penikmatnya tentang “Ngarai Sianok”. Jelas, Wakidi tetap menjadi tonggak dalam hal ini.

Yang perlu diingat, sebagaimana pernah dikatakan Kuss Indarto, kurator seni rupa dari Yogyakarta; Bahwa sebuah pameran jika bicara soal masa lalu, jangan sampai muncul sebagai pemujaan masa lalu. Jika pada masa lalu barangkali isme naturalis sebuah ikon penting, kini ia tetap sebagai ikon, namun diperlukan sudut pandang ‘lebih’ di dalamnya, misalnya tidak hanya sekedar bicara naturalis. Bahwa, perkembangan seni rupa telah berkembang sedemikian pesatnya dibanding 150 tahun yang lalu.

Konsep seni lukis di zaman kini, dipandang sebagai hal penting. Bukan lagi terpengaruh masa Mooi Indie, yang mana pada masa lalu itu, seorang pribumi berbakat diajar melukis oleh Belanda. Lukisan tersebut sebagai oleh-oleh untuk menyatakan negeri jajahannya di Belanda.

Namun, dalam pameran ini (paling tidak) sebagian perupa muda, mulai menampakkan perubahan sudut pandang. Misalnya, karya Zirwen Hazry, salah satu contoh yang saya maksud sebagai kemampuan melihat sudut lain tentang “Ngarai Sianok”. Pada lukisan berjudul “Mengenal dengan Melihat”, Zirwen menawarkan lukisan yang cukup kuat dan jauh dari kesan Ngarai sebagai lanskap yang tak bicara. “Ngarai Sianok” dalam visual Zirwen, terpampang pada baju sesosok anak kecil. “Ngarai Sianok” dalam hal ini, terkesan bukan objek utama. Tetapi, dalam keutuhannya, tetap bercerita sebagai “Ngarai Sianok”.

Ada beberapa perupa muda yang mencari gaya-gaya baru, memasuki ruang kontemporer; abstrak, namun tidak matang secara konsep. Melahirkan bentuk-bentuk absurd seakan sebuah pelarian.

Secara umum,  pameran ini perlu mencatat, (seni rupa di Sumatra Barat khususnya) pameran ini sepi pengunjung. Rata-rata yang datang adalah pelukisnya sendiri dan kawan-kawannya, atau orang yang kebetulan singgah, disebabkan berada di lingkungan kampus. Karena itu, mengharapkan seni rupa maju dan diminati masyarakat, diperlukan strategi khusus. Pariwisata, salah satu hal yang juga perlu diperhatikan. Maksud saya, tanpa pariwisata yang berkembang dengan baik, seni lukis juga akan sulit berkembang. Bali dan Yogya misalnya, adalah daerah yang seni rupanya bertumbuh bersama pariwisata.(*)

Dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres, edisi, 06 Agustus 2006

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.