OLEH:RIO

Komunitas Seni Belanak, 1 – 15 Desember lalu menggelar berbagai kegiatan kesenian dengan tajuk besar acara Art Day is Today. Peristiwa budaya ini berlangsung atas kerjasama Belanak dengan Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi (Yogyakarta), Alexandra Crosby dkk (Australia), Ruangrupa (Jakarta), serta HMJ Seni Rupa UNP. Bentuk acara berupa deretan workshop-workshop, pemutaran film dokumenter, dan beberapa pergelaran kesenian.

Workshop yang diselenggarakan antara lain; Workshop boneka jerami oleh Taring Padi dan Belanak (2-3/12), Workshop sampah oleh Indra (Yogyakarta); Aplikasi internet bersama Alexandra Crosby (Australia); Workshop Zine b–ersama Cipikat Morgan dan Samuel (Australia); serta Workshop Video Art bersama Hafiz dan Mahardika Yudha (Ruangrupa Jakarta).

OPERA Art Day is Today juga menampilkan mata acara “Malam Budaya” pada pertengahn kegiatan. Antara lain: Teater KSST Noktah; Musik Eksperimental oleh Kelompok Bigau (Payakumbuh), UK Kesenian UNP dan Kuliek; Opera oleh Suzy dan Juadi; Puisi oleh Hendra Munur; Tari Payung, Tari Piring dan Modern Dance oleh Sendratasik UNP; Musik Akustik oleh Taring Padi dan Belanak.

Sebagai catatan, hal menarik dari kegiatan ini, komunitas kesenian di Sumatra Barat, dalam hal ini undangan dan masyarakat umum, mendapatkan pencerahan dalam menikmati karya seni. Kegiatan ini, membuka ruang apresiasi yang baru. Ruang gerak dan ekspresi seni rupa dalam kegiatan tersebut terlihat memiliki loncatan imaji dan kekuatan pengucapan yang barangkali masih asing bagi masyarakat di daerah.

Sebagaimana dikatakan Muhammad Ridwan, sesungguhnya kerjasama yang dilakukan KSB ini, semacam upaya mengembangan jaringan ide dan konsep berkesenian. Terutama dalam hal video art. Di Sumatra Barat, Padang khususnya, jenis dan wacana pemikiran atau ekspresi video art belum memarak. Setidaknya, dengan kegiatan ini, menurut Hafiz, salah seorang mentor, kegiatan ini juga bisa dianggap wadah untuk menyiasati ide dalam berkesenian secara cerdas dan kreatif. Soal teknik, dalam hal ini, perlu dikesampingkan dulu, Tetapi, memanej ide merupakan hal terpenting dan harus dipahami sebagai konsep yang harus disiapkan sedemikian rupa baiknya.

WORKSHOP

Mengingat workshop yang diberi oleh Taring Padi, terlihat lebih merakyat. Artinya, media ucap Taring Padi, bisa dipahami bahwa hal yang sepele dan tak berguna bagi sekalangan orang, sesungguhnya bisa memiliki makna dan filosofi yang mendalam jika dipikirkan dan digagas dengan pijakan pikiran yang kuat. Misalnya, membuat boneka dari jerami atau daur ulang sampah, plastik bekas yang diubah menjadi dompet sehingga memuncul citra baru. Pada apa yang digelar Taring Padi, kita diberi pesan tersirat, bahwa hidup perlu memberi makna pada hal yang secara kasat mata tak berguna. Semua bisa bernilai, ketika nilai dan falsafah yang ditiupkan ke hal yang dinamakan karya, memiliki pijakan pikir, gagasan dan filosofi yang kuat.

Sedangkan Workshop aplikasi internet yang menampilkan Alexandra Crosby (Australia), menekankan konsep pemikiran lebih kepada, bahwa keberadaan teknologi internet sesungguhnya bagi seorang perupa sangat penting. Selain untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak dan elemen budaya, juga sebagai media pemublikasian karya. Barangkali dalam hal ini, istilah sederhananya, internet bisa dijadikan media untuk publik relation seni rupa. Dari sana, pokok pikir membangun jaringan kerja tertaut dengan intens dan bersinegris untuk kepentingan yang barangkali beda, tapi makna dalam pencerahannya barangkali sama.

Alexandra Crosby menilai, untuk menggunakan internet bukan hal rumit. Tetapi, memanfaatkan media internet menjadi ruang lain seni rupa yang bisa saling akses, pola ini memerlukan gagasan dan pemikiran kreatif.

Labirin
LABIRINMasih dalam rangkaian Art Day is Today, iven pamungkas, menampilka seni instalasi Labirin, karya kolaborasi Belanak dengan HMJ Seni Rupa UNP.Pada karya Labirin, tema realitas kampus. Pesan yang disampaikan dalam Instalasi Labirin yakni, bahwa setiap simpang pada lorong, menawarkan realita kampus. Ketika mulut labirin dimasuki, artinya, sebuah dunia yang memiliki berbagai persoalan, yang tentu ada dunia estetik di sana, menjebak dalam kungkungan makna yang membebaskan. Setiap yang menelusuri labirin, bisa ditafsirkan, mereka tengah menjelajah dunia imajiner, yang bagi kalangan masyarakat awam, imajinasi kadang telah mati sejak sekolah tidak mempertimbangkan hal lain di luar eksakta.

Dalam Instalasi Labirin, terdapat karya-karya seni, baik berupa performance art dan bermacam-macam gambar serta coretan, yang dilahirkan secara spontan. Spontanitas di sini, jelas, setiap perupa yang menetaskan coretannya, disadari atau tidak, spirit estetik atau nuansa artistik telah berkelumun dalam imajinasi atau ruang bawah sadarnya.

Yang paling menarik dalam labirin, ketika dimasuki banyak orang. Ada nuansa rileks. Suasana bermain. Heboh. Kadang ada riuh rendah pasar malam ketika pengunjung atau tamu labirin memasuki lorong. Seseorang tiba-tiba terpekik, tertawa dan mengumpat karena ada yang mengagetkan mereka. Pasalnya di dalam labirin ada pertunjukan personal dengan wajah seperti topeng, tubuh bercat, penuh coretan. Tubuh sebagai media rupa, yang pada hakikat performance dengan daya gugah emosi yang melibatkan emosi pengunjung untuk menikmati rasa kaget, lucu, riang.

Karya-karya yang ditampilkan di dalam Labirin sebenarnya menyiratkan persoalan yang ruwet di kampus. Misalnya persoalan birokrasi, kebijakan dan perilaku dalam lingkungan kampus. Perupa dalam hal ini sesungguhnya memotret dan membahasakan kembali realita yang dilihat, dirasakan dan direnungkan dari lingkungan kampus. (*)

Dimuat pada halaman STRES! Lembaran Tawa dan Budaya-Harian Pagi Padang Ekspres (Minggu, 17 Desember 2006)

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.