Aktivitas kesenian di Sumatera Barat (Sumbar) lima tahun terakhir disemarakkan oleh kehadiran komunitas-komunitas yang bekerja secara independen. Komunitas-komunitas tersebut pada intinya membuka ruang penafsiran yang semarak.

 Ini merupakan kabar gembira bagi pertumbuhan kesenian Sumbar ke depan. Untuk itu, diperlukan strategi pengelolaan komunitas yang jelas. Demikian diungkapkan Kepala UPDT Taman Budaya Sumatera Barat, Asnam Rasyid, ketika menyosialisasikan program bertajuk “Silaturahmi Dua Mingguan” (S2M), di Taman Budaya, 18 Maret 2007

Program ini diperuntukan bagi komunitas-komuitas seni yang ada di Sumatra Barat. “S2M diprogramkan Taman Budaya untuk mewadahi kreativitas kelompok-kelompok seni Sumbar ke depan. Kerjasama tersebut diawali hari ini, dengan peringatan satu tahun Komunitas Daun, sebuah komunitas yang bergerak di bidang penelitian dan penulisan kreatif,” kata Asnam.

Di depan puluhan pengelola komunitas seni Sumbar, Asnam meminta seluruh komunitas membangun jaringan kerja kreatif melalui program S2M ini. Bagaimana pelaksanaan teknisnya, Komunitas Daun dipercaya sebagai fasilisator yang akan bekerjasama dengan Taman Budaya dalam pembagian jadwal diskusi dan pementasan.

Membangun Jaringan

Acara setahun Komunitas Daun mengangkat diskusi yang sesuai dengan visi Taman Budaya, “Strategi Pengelolaan Komunitas”. Tampil sebagai moderator, Sondri BS (penyair); Pembicara, Sudarmoko MA (akademisi dan pemerhati sosial); Nurul Fahmi (Komunitas Daun); Ade Efdira/Ragdi F Daye (Komunitas Ilalang Senja); Yuka Faikna Putra (Komunitas Kanvas); dan Muhammad Ridwan (Komunitas Belanak).

Hadir dalam acara ini, Maestro Penyair Sumbar, Rusli Marzuki Saria. Menurut amatannya, komunitas seni harus profesional. Kegiatan seni tidak sebatas kerja amatiran. Sudah semestinya, ada yang diperjuangkan melalui komunitas dan para pejuang, sejatinya tidak takut melarat.

Pernyataan ini diperkuat budayawan, Muhammad Ibrahim Ilyas. Motivasi berkomunitas, menurut Bram, sepenuhnya didasari kebutuhan kolektif, bukan atas nama individu yang punya kepentingan di dalam komunitas yang digelutinya.

Untuk mewujudkan itu semua, Sekretaris Dewan Kesenian Sumbar, Nasrul Azwar menawarkan konsep membangun jaringan kerja antarkomunitas melalui kecanggihan internet. Diawali, misalnya dengan pembuatan website komunitas Sumbar. Dari situ, ke depan komunitas-komunitas diminta membiasakan merumuskan kegiatan, sehingga kerja kesenian itu terencana, tidak dadakan seperti yang cenderung terjadi selama ini.(mg14)

Dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres, edisi Selasa, 20 Maret 2007

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.