OLEH: IBRAHIM

Kebosanan merupakan ungkapan yang sangat baik disingkirkan ketika berhadapan dengan permasalahan budaya lokal. Apalagi yang namanya Minangkabau, satu ini memang sebuah peradaban yang tergolong keren abis dan sangat blo`on kalau manusia mana saja tidak menyerap pemikiran-pemikiran yang di tawarkannya. Salah satunya perjalanan bermakna yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Negeri Padang, tepatnya dari jurusan Pendidikan Seni Rupa FBSS. Mereka adalah Drs. Syafwandi, M.Sn, Drs. Zubaidah, M.Sn dan Drs. Ariusmedi, M.Sn. Tim ini mencoba menelusuri kembali sejarah masyarakat Minangkabau yang berangkat dari peninggalan benda-benda terutama pengkajian bahasa rupa atau simbol.

Penelitian yang di bungkus dengan Bahasa Rupa Motif Hias Menhir di Kabupaten 50 Kota dan Kesinambungan Dengan Ragam Hias Tradisional Minang Kabau ini, telah mengapungkan beberapa permasalahan. Tim ini meneliti apakah motif hias pada menhir merupakan perlambangan tentang filosofi hidup masyarakat, kemudian hubungan ungkapan rupa motif hias dengan prilaku kehidupan dalam struktur masyrakat Minang, serta mengkaji apakah fungsi dan makna unsur-unsur rupa yang terdapat pada menhir merupakan titik tolak dari falsafah ragam hias tradisional Minangkabau.

Yang lebih menarik lagi adalah hasil dari penelitian ini tidak hanya tampil dalam lembaran-lembaran tertulis saja. Disini terdapat sebuah usaha untuk menghadirkanya kedalam sebuah film yang mengarah pada karya fiksi ilmiah. Film yang di sutradarai oleh Drs. Syafwandi, M.Sn ini mencoba memadukan cerita dan dokumenter tentang peninggalan zaman batu di Luhak 50 Kota Sumatera Barat tersebut. Film yang di rencanakan berdurasi selama 45 menit ini akan di kerjakan oleh mahasiswa dan dibimbing oleh dosen dari program Studi Diskomvis (Desain Komunikasi Visual) FBSS UNP serta di bantu oleh kelompok penggiat alam Artevac. Adapun daerah yang menjadi wilayah pembuatan film tersebut adalah Jorong Belubus, Batu Manda, Batu Manggia, Batu Bakoca, Sati, Batu Giliak dan Gedung Teater FBSS.

Sinopsis film ini berawal dari sekelompok mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Sumbar, tepatnya Universitas Negeri Padang. Mereka melaksanakan sebuah penelitian tentang peninggalan kebudayaan megalitikum di Jorong Balubus Kanagarian sungai Talang Kecamatan Guguk Kabupaten 50 Kota. Penelitian ini dilakukan oleh sebuah tim yang diberi nama Expedition of megalithic dan beranggotakan 7 orang. Penelitian tersebut bertujuan untuk menyibak makna simbol yang terdapat pada batu tagak (menhir) serta hubungannya dengan kebudayaan dan prilaku sosial masyarakat Minangkabau.

Setelah beberapa hari melakukan penelitian salah seorang peneliti sangat terobsesi dengan aktifitas masyarakat purba, sehingga akirnya ia bermimpi berada di zaman batu. Disana ia menyaksikan kehidupan masyarakat purba dengan berbagai ritual yang berlaku pada waktu itu.

Kecintaan team ini akan peninggalan zaman megalitikum semakin bertambah, saat anggota team yang awalnya tidak begitu tertarik karena mereka menganggap batu-batu yang terdapat di situs megalit itu hanyalah batu biasa saja. Sehingga, suatu ketika saat mereka mendapatkan ada sekelompok orang sedang menggali sebuah megalit di kaki bukit, kondisi ini telah menghadirkan situasi pertengkaran serta perkelahian diantara team peneliti dan kelompok tersebut.

Pengalaman ini semakin membawa mereka untuk mendalami seluk beluk megalit serta pengkajian tentang makna simbol yang terdapat pada badan menhir sampai menghasilkan sebuah kesimpulan.

Setelah penelitian berakhir mereka kembali ke kampus dan melaksanakan sebuah seminar dengan topik Makna Simbol Pada Menhir di Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat. Disaat seminar itu berlangsung salah satu anggota ekspedisi terkejut karena melihat wajah dari peserta seminar sangat mirip dengan seseorang yang ada di zaman batu seperti dalam mimpinya.

Menilik EXPEDITION OF MEGALITHIC yang di mulai tanggal 15 Februari 2007 dan direncanakan selesai pada tanggal 30 Februari 2007 ini telah menghadirkan sebuah gejala akan keinginan untuk membuat alternatif lain dalam menanamkan nilai-nilai budaya Minangkabau. Apakah film ini didasari oleh kecemasan akan pengaruh dunia entertement, atau ini merupakan sebuah implementasi dari disiplin ilmu para kreatornya, atau lagi ingin menampilkan wajah Minangkabau dalam sebuah film terserah, yang jelas usaha yang di lakukan disini akan membangun ruang yang selama ini remang-remang, yaitu ruang pembuatan film. Sebab kalau kita mau jujur masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang selalu menjadi komunitas pengkonsumsi dunia perfilman, sehingga masyarkat hanya mengenal dan menyaksikan realitas yang terkadang bertolak belakang dengan lingkungan sosial Minagkabau itu sendiri. Jadi dengan kehadiran film ini di harpkan menjadi tonggak kreatifitas bagi generasi untuk menghadirkan wajah Minangkabau dalam sebuah film.

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.