OLEH: IBRAHIM

”Satu dalam Keberagaman” sebenarnya mengandung pengertian yang bisa membawa pada permasalahan individualisme, atau komunalitas yang dibentuk oleh kekuatan-kekuatan individualisme. ”Satu dalam Keberagaman” bisa juga dimengerti sebagai konsep-konsep tunggal yang telah menjadi dogma dalam menyikapi kesepakatan-kesepakatan komunal dalam membentuk kondisi personal lainya. Pada pendekatan yang lebih ekstrim adalah ketunggalan (satu) yang akan membunuh kekuatan-kekutan kolektif. Namun ada kalanya ”Satu dalam Keberagaman” bisa diperlakukan secara bolak-balik, atau dengan kata lain ”satu” bisa merupakan hasrat untuk kemerdekaan personal, atau sebagai tujuan dari kebersamaan dan membangun hasrat pembedaan antara ”satu” dengan yang ”satu” lainya dalam rangka menciptakan keberagaman

Apapun itu bahasan disini ”satu” bukan berbicara individu, melainkan mencoba melihat pada keberagaman yang besar (Indonesia) di antara kekuatan komunal/subkultur yang nantinya bisa disebut sebagai ”satu”. Biasanya kalau di dalam pemerintahan Indonesia, ”satu” ini lebih dikenal dengan sentralisasi alias terpusat. Begitu juga dalam hal ini, biar lebih gampang, ”satu” dianalogikan pada pengertian sentralisasi dan ”keberagaman” diartikan sebagai disentralisasi.

Melihat peralihan dari sistem terpusat (sentralisasi) ke sistem otonomi daerah (disentralisasi) di dalam berbagai bentuk, secara kultural dapat dijelaskan sebagai keterputusan historis (discontinuity) budaya masa lalu, khususnya budaya otoriter yang sentralistik dan meliteristik. Otonomi dapat dilihat dari konteks upaya pembangunan kembali rantai cultural yang pernah terputus, meskipun penyambungan kembali dan penelusuran historis tersebut memiliki problematika dan aspek-aspek kritis lainnya (Amir, 2004:275).

Ada yang menjadi perhatian dan sangat merangsang untuk dibuka lebar-lebar dalam menjelajahi permasalahan sentralisasi (satu) dan disentralisasi (keberagaman). Dalam dunia politik dan ekonomi Indonesia pascareformasi telah menggariskan kesepakatan untuk mengembangbiakkan yang namanya sistem otonomi daerah. Membekunya Orde Baru seolah-olah membuat semuanya menjadi lebih terbuka dan akan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan daerah dalam melahirkan kebijakan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia. Ini dapat dibaca dari menjamurnya lembaga-lembaga masyarakat, mulai dari organisasi politik, sosial, budaya bahkan seni. Mereka mencoba mengakomodasi setiap peristiwa yang menurut mereka merupakan konsekuensi dari sistem sentralisasi dalam rangka mentahtakan otonomi itu sendiri.

Jika perkembangan seni rupa di tanah air tercinta ini dikawinsilangkan dengan bahasan disentralisasi (discontinuity), maka satu hal klasik yang akan mencuat dan sudah sama-sama diketahui sebelumnya adalah masalah seni rupa moderen Indonesia merupakan seni sumpalan dari seni rupa Barat. Sehingga menjadikan perbincangan sejarah seni rupa Indonesia, termasuk seni rupa kontemporernya, tidak akan memberikan banyak makna tanpa meletakkannya pada konteks seni rupa Barat. Hibridanitas seni rupa modern Indonesia memang banyak disebabkan oleh berbagai gejala. Seperti kondisi pascakolonial, sebuah peradaban yang cukup lama didominasi peradaban Barat, dan terus berlanjut terutama pada neokolonialisme ekonomi komputer alias globalisasi.

Dengan kesadaran yang demikian, sentralisasi dunia seni pun mulai ”berbau”, yaitu sebuah kekuatan besar yang pada saat sekarang cukup menuai kontroversi. Salah satu yang ”berbau” itu adalah premis-premis impor yang digunakan untuk menginterpretasi dan melegitimasikan seni rupa Indonesia bahkan perkembangannya. Di satu sisi kondisi ini disadari akan melakukan penipisan terhadap penghargaan apalagi memposisikan konsep-konsep lokalitas sebagai ciri berkesenian mapan negeri ini. Disinyalir aturan yang ”berbau” itu juga telah mempola tiap sendi berkesenian dengan iming-iming pengakuan universalnya. Dengan kedok penggalian nilai-nilai tradisi sebagai titik pijak perkembangan ke depan, ”si busuk” tersebut juga tak lupa membagi-bagi dan mendefenisikan, memposisikan apa dan mana yang karya seni dan bukan karya seni, kemudian mana yang memiliki sejarah dan mana yang tidak. Mana yang seni tinggi dan seni rendah, walau semuanya sama-sama melalui proses.

Sebelum ”bau-bauan” ini mulai menyakitkan hidung, gejala sentralisasi (satu) pada dunia seni rupa Indonesia sebelumnya juga sudah pernah tumbuh dan berbunga-bunga. Kekuatan itu adalah sebuah ”kecenderungan” (Mooi Indie). ”Kecenderungan” ini merupakan kekuatan ”tunggal” yang membuat kekuatan lain (S.Sujojono/PERSAGI) ingin tumbuh subur dengan cara menolak dan mencari kelemahan ”kecendrungan” yang sedang ”merajai” tersebut. Dengan demikian, atas jerih payahnya mencairkan sentralisasi ”kecendrungan” seni rupa Indonesia saat itu, kini mereka mendapat anugerah sebagai ”tonggak” seni rupa Indonesia kendati masih perlu di pertanyakan.

Dari sisi pembangunan apresiasi dan wacana seni rupa, gejala sentralisasi juga mulai mendapat tempat yang subur dan berkembang biak di antara lemahnya kesadaran pihak lain untuk membangun hubungan dalam mengembangkan proses apresiasi itu sendiri. Namun sentralisasi dalam hal ini bukan masalah dari daerah mana dan siapa yang mengembangkan wacana dan apresiasi seni rupa itu sendiri. Melainkan apakah dalam menginterpretasi kondisi berkesesenian Indonesia saat ini, telah berangkat dari proses pengamatan terbuka atas keberagaman Indonesia, atau cukup diwakilkan beberapa realitas saja. Kemudian pertimbangan akan dampak dari pengembangan apresiasi itu sendiri jika sudah berada pada titik-titik tertentu. Cerita miring yang terselubung juga megandung gejala bahwa apresiasi telah menjadi komoditi ekspor-impor para ”pejabat-pejabat” seni rupa dan siap diberi label. Ini memang merupakan indikasi dan tidak ”haram”. Namun konsekwensi dari kondisi tersebut akan mempola pelaku seni sebagai alat transportasi dan perpanjangan tangan dari banyak titik ke arah satu titik alias sentralisasi.

Apresiasi Urban
Dengan perputaran waktu yang sangat cepat menjadikan perbincangan seni rupa makin menghebohkan walau belum terdengar bising. Dunia seni rupa makin terdengar keren dan tidak kalah pentingnya dalam pergulatan dan pengamatan kondisi sosial bangsa ini. Sehingga sebagai masyarakat yang ada di pelosok Indonesia seperti di sini, selalu melihat dan mendengarnya dari jauh sambil tercengang-cengang. Sepertinya apa yang dibicarakan dan dilakukan di sana sangat menarik dan bisa dikatakan tepat sasaran ketika dibawa pada permasalahan itu dilakukan.

Namun gema-gema kehebohan yang sampai ke pelosok, disengaja atau tidak telah mempola cara berpikir masyarakat yang masih menata kondisi sosial dan iklim berkeseniannya. Apakah latah atau tidak, sebagian mereka berlomba-lomba mencontohkan dengan rapi apa yang dihebohkan di sana tanpa memperhatikan kebutuhan kondisi sekitarnya. Kesamaan visi mulai tebagi-bagi. Selagi bisa beda mengapa harus sama telah diartikulasikan secara dangkal dalam menyikapi perbedaan visi tersebut. Memang tepat ketika berbicara lokalitas, itu menjadi tantangan bagi masyarakat seni itu sendiri dalam mengembangkan wilayahnya, namun ketika berbicara Indonesia ada baiknya ini merupakan hal yang harus dibenahi secara bersama-sama.

Kekhawatiran ini bukan tak beralasan bagi masyarakat seni itu sendiri, apa lagi mereka yang dibentuk untuk menjadi pelaku seni. Mereka sadar sekali telah tergiring menjadi kreator konsumeris apresiasi dan karakteristik karena enggan dikatakan ”katak dalam tempurung”. Sebab, seniman juga tak ingin apa yang ia lakukan menjadi hal yang sia-sia dan tenggelam digilas masa, kemudian mati berkangkang kanvas. Memang sebuah pilihan yang berat!

Efek samping sepertinya juga ditata rapi agar jauh dari badan selagi tak ingin dikatakan buta informasi dan apresiasi alias ketinggalan zaman. Premis-premis lokal dan sublokal tak mampu lagi tumbuh di negerinya sendiri dan siap untuk ”berangkat” menuju ke wilayah pengembangan apresiasi yang gencar dan ramai.

Ada benarnya seni bukanlah masalah daerah yang perkembangan berkeseniannya lambat atau cepat mendapat informasi, tapi masalahnya adalah seberapa dalam adabtasi kita menyerap informasi itu. Namun ini menjadi termarginalkan jika tidak ada sejenis institusi yang mengawasi perjalanan perkembangan seni rupa di negeri ini dalam konteks pemerataan dan pembangunan apresiasi.

Kendati demikian apa yang disepakati merupakan hal yang sangat esensial ketika sarana pembelajaran turut melegitimasi dalam rangka membangun apresisi itu sendiri. Apa saja peristiwa dalam dunia seni rupa, alangkah ”gaulnya” jika dijadikan proses apresisi reguler dengan ubdate yang berkesinambungan dalam konteks yang lebih luas serta terbuka. Sehingga dunia seni rupa mampu menjadi media elastis dan bisa merasuki segala sisi-sisi kehidupan.

Ingin Beda atau Sama
Walau tidak semuanya, pameran kali ini sebenarnya juga mengandung indikasi eklektis yang dieksplorasi dari kecenderungan yang terjadi pada perkembangan seni rupa Indonesia secara umum. Apapun adanya, di sini juga terdapat usaha untuk menilik kebutuhan-kebutuhan lokalitas yang mengkerucut pada pencarian identitas personal. Hal ini tak lepas dari kondisi kelabilan dan tak lepas dari kontinuitas proses berkarya. Karya yang disuguhkan pada pameran kali ini juga rata-rata dihadirkan oleh perupa yang masih mengecap dunia pendidikan seni rupa. Namun tidak hanya mereka yang memiliki latar belakang dunia seni rupa saja, dengan segala keterbukaan kegiatan ini, telah memberikan kesempatan bagi yang tertarik untuk berpameran, namun bukan kacangan.

Pameran indoor dan outdoor kali ini bisa dikatakan beragam dan lebih berani. Mulai dari kaya konvensional seperti lukis.grafis, fotografi dan patung. Kemudian karya-karya alternatif seperti instalasi, performance art, happening art, video art dan karya konseptual lainya.

Dapat juga dilihat keberagaman teknik dan medium tanpa melumpuhkan daya nalar dan kemampuan kritisi penikmat. Penyampaian-penyampaian pesan, argumen, kemarahan, kegelisahan, serta harapan-harapan juga tertuang sebisanya. Keberagaman yang diangkat tergambar keinginan untuk memberikan atau pun membagi kesadaran tentang banyak hal. Sehingga sepenggal kisah atau cerita bisa dilihat sebagai ekspresi kondisi metaforis atau sebagai representasi dari rasa dan pikiran.

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.