OLEH: ERIANTO ANAS

Secara harfiah panorama berarti pemandangan alam atau tamasya. Ini adalah pengertian yang terdapat dalam Kamus Inggris-Indonesia, WJS Poerwadarminta (1974: 123). Sedangakan dalam pengertian sehari-hari panorama kadang identik dengan sebuah tempat yang posisinya tinggi (bisa berupa bangunan tempat istirahat/rekreasi), dimana dari situ kita bisa melihat pemandangan alam yang terbentang luas. Tetapi apa pula yang dimaksud dan ada apa pula dengan Panorama Sighi Art Gallery?

Panorma dalam tulisan ini sebenarnya merupakan sebuah tema pameran lukisan yang akan diadakan di Sighi Art Gallery pada tanggal 21 Juli – 3 Agustus 2007 mendatang. Sighi Art Gallery sendiri merupakan sebuah gallery seni rupa yang baru berdiri di Bukittinggi, yang didirikan oleh 3 orang sekawan, tiga serangkai: Novi Dyanisiar (photografer dan pengusaha), Ihksan Attariq (Pengusaha) dan Hendra Sardi (Pelukis). Di samping pameran lukisan, pada grand opening (peresmian) gallery ini juga akan diadakan serangkaian acara seperti Seminar Nasional Pendidikan Seni Rupa, Dialog Seni Rupa, Lomba Menggambar/Melukis, Workshop Kreativitas, Peformance Art, Atraksi Kesenian dan Hiburan.

Sebagai tema pameran, panorama di sini memang tidak beranjak dari pengertian dasarnya, namun ada pengembangan tafsir dan penekanan pada hal-hal tertentu. Penulisannya pun sengaja dipisah dengan titik: pa.no.ra.ma. Ini sebagai simbol yang berarti ada keterpisahan, perbedaan, dan keragaman dari berbagai daerah (serta suku dan budaya) yang terbentang di seantero tanah air. Bagi peserta pameran (perupa), keterpisahan ini memberi spirit akan keragaman sudut pandang, persepsi dan penghayatan mereka secara pribadi dalam melihat bentangan alam dari posisi mereka masing-masing. Bagi pengunjung (penonton) pameran, ini bisa memberi efek kejutan dalam menikmati, menghayati dan menafsirkan bentangan alam/pemandangan yang mereka lihat melalui karya-karya yang dipamerkan.

Konsep kuratorial ini menyiratkan bahwa pameran ini diajukan sebagai sebuah gambaran kecil mengenai satu irisan modal geografis yang ada di tanah air, yaitu Sumatera Barat. Dari situ, diharapkan ditemukan satu dari sekian rangkaian cerita, kisah dan sejarah perkembangan seni lukis pemandangan yang terjadi di Indonesia, meskipun bukan dalam pengertian yang melulu konvensional apalagi tradisional, melainkan dalam pengertian yang terbuka dan berkembang, baik teknik maupun konsep penggarapan.

Pameran ini akan diikuti oleh perupa asal Sumatera Barat, baik yang berdomisili di daerah maupun yang berada di luar daerah. Hingga saat ini tercatat 51 perupa yang telah terdaftar sebagai peserta, yang merupakan hasil seleksi dari kurator pameran Mikke Susanto (kritikus dan kurator Nasional dari Yogyakarta). Para peserta ini adalah: Amrianis, Alza Adrizon, Darvis Rasyidin, Dwi Agustyono, Erianto MD, Evelyna Dianita, Hanafi, Harnimal, Herisman Tojes, Ismail Zulpikar, Irwandi, Iswandi, Muzni Ramanto, M. Ridwan, M. Zikri, Nasrul, Romi Armon, Syafrizal, Yasrul Sami B. Batubara, Zirwen Hazry (Padang); Armen Nazaruddin, Hamzah, Zulherman (Padang Panjang); Asril, Hendra Sardi (Bukittinggi); Besta, Metrizal, Roni Sarwni (Pekan Baru); Afdhal, Ahmet Zafli, Antoni Eka Putra, Asnida Hasan, Budi Eka Putra, Denny Susanto, Erizal AS., Hamdan, Hendra Buana, Iqrar Dinata, Herianto Maidil, Ismed, Julnaidi MS, M. Irfan, Masriel, Nico Ricardi, Stevan Buana, Tomi Wondra, Yon Indra, Yunizar, Yetmon Emier, Zulkarnaini (Yogykarta).

***

Ada beberapa hal menarik sehubungan dengan tema pameran ini. Secara etimologis, istilah panorama sebenarnya berasal dari bahasa asing. Namun dalam kehidupan sehari-hari , terutama bagi masyarakat Bukittinggi dan sekitarnya, disadari atau tidak, kata ini sudah menyatu dan seakan sudah menjadi milik masyarakat itu sendiri. Di Bukittinggi, malah ada suatu daerah yang lazim disebut panorama, kebetulan daerah itu juga tinggi, berada di atas Ngarai. Artinya, secara psikologis, bagi masyarakat Sumatera Barat, bila mendengar kata panorma seolah mereka mendengar sesuatu yang memang bernuansa kebukittinggian. Karena itu pilihan panorama di sini tampaknya jadi mengena, karena relevan dengan kondisi relief tipografi kota Bukittinggi yang banyak lembah, bukit dan gunung, dimana memang banyak tempat yang tinggi yang bisa menjadi lokasi sebagai panorama, tempat meninjau pemandangan alam yang terbentang di berbagai posisi.

Namun ditinjau dari peserta pameran, yang merupakan perupa asal Sumbar yang tersebar di berbagai daerah, maka makna panorama di sini akan menjadi sesuatu yang lebih dari kerangka harfiah, bisa jadi amat simbolik. Artrinya perbedaaan, keragaman wilayah dan posisi mereka, dengan segala pengaruh yang melingkupinya, tentu juga akan membentuk keragaman sudut pandang dan bahasa ungkap mereka, sehingga disadari atau tidak, pada intinya ini juga identik dengan sebuah eksplorasi kekayaan kreatifitas perupa atau sebutlah semacam perhelatan kreatifitas. Inilah panorama dalam pengertian yang lebih luas, yakni sebuah keluasan perspektif, cara pandang, ideologi dan sejenisnya.

Berangkat dari sini, maka tema ini sebenarnya justru bisa dipahami bukan sebagai bingkai apalagi belenggu yang mengikat kreativitas, melainkan bisa jadi sebuah keluesan yang menantang, yang bisa dikembangkan ke berbagai arah, sebagaimana bebasnya mata memandang pada saat berada di puncak ketinggian. Ini lebih pada soal pemaknaan, yang ujungnya tentu sangat mempengaruhi pada pilihan bentuk dan bahasa ungkap. Bagi yang cendrung konvensional misalnya, bisa jadi akan memaknai panorama ini secara harfiah. Sebalikny bagi yang progresif, yang bergelora, mungkin lebih menangkap spirit panorama ini ketimbang istilahnya, sehingga dirasa bisa lebih leluasa dalam memandang dan mengeksplorasi kreativitasnya. Tetapi bagaimana pun, berbagai kemungkinan tentu bisa dan sah-sah saja, karena pada intinya panorama ibaratnya memang bukan sebuah ruang tertutup, melainkan adalah sebuah cakrawala, sebuah keluasan dan keleluasaan, yang dalam konteks pameran ini selayaknya memang memaklumi keragaman kreativitas.

***

Melihat komposisi peserta pameran, tampaknya antara yang berada di daerah dengan yang di luar daerah (terutama Yogyakarta) cukup berimbang. Ini menggambarkan bahwa pameran ini cukup diminati oleh peserta. Secara umum, nama-nama yang muncul tampaknya tergolong perupa yang sudah aktif berkarya dan pameran di berbagai kota di tanah air, baik secara individu maupun kelompok. Sebagai gallery baru, ini tentu bisa menjadi kebanggaan bagi Sighi Art Gallery. Namun di sisi lain agaknya ini juga sebuah tantangan, bagaimana agar even ini bisa berjalan sesuai harapan. Mulai dari kondisi ruang pajang, display, katalog, seremonial pembukaan, pelayanan dan seterusnya tentu mesti menjadi perhatian yang serius.

Keberadaan Mikke Susanto, sebagai kurator pameran ini, agaknya juga menjadi sebuah kemudahan dan tantangan. Pengalaman dan kredibilitasnya sebagai kritkus dan kurator Nasional bisa menjadi penunjuk jalan, pembina dan pembangun citra pameran ini. Juga mungkin diharapkan, melalui usaha dan terobosannya, pameran ini hendaknya juga diramaikan oleh para seniman, kritikus, kurator dan kolektor dari Jawa, terutama Bandung dan Jogja. Namun sebaliknya konsekuensi dari semua ini jelas: sebuah kerja yang optimal. Jika tidak, bukan tidak mungkin ini bisa menjadi bumerang. Sebab, sebagaimana kata pepatah: kesan pertama memang sangat menentukan.

Tetapi bagaimana pun, yang jelas, Pameran Lukisan Pa.no.ra.ma ini, yang merupakan pameran perdana dan sebagai peresmian Sighi Art Gallery ini tentu patut diapresiasi oleh semua pihak, terutama bagi komunitas dan publik seni Sumatera Barat. Labih jauh bukan tidak mungkin juga terselip harapan agar even ini dapat menjadi sebuah momentum baru bagi seni rupa Sumatera Barat, paling tidak sebagai perluasan medan berkesenian yang selama ini cendrung terpusat di kota Padang? Apalagi bila membaca iklim seni rupa nasional, yang hingga hari ini masih cendrung terkonsentrasi di Jakarta, Bandung Jogja dan Bali. Padahal jika iklim yang kondusif terbentuk, bukan tidak mungkin dunia Seni Rupa Sumbar juga tumbuh berkembang setara dengan daerah-daerah tersebut.

Mungkinkah pameran ini bisa menjanjikan lebih dari sekedar bentangan panorama (karya) yang digelar? Tentu saja sulit menjawab pertanyaan ini dengan pasti. Sebagai langkah awal, bisa jadi Sighi Art Gallery justru lebih mengharapkan dukungan ketimbang sebuah ramalan yang ditebak-tebak..

Dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres edisi Minggu, 15 Juli 2007

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.