OLEH: IBRAHIM

Minangkabau bisa menjadi neraka bagi para seniman ketika mereka hanya bisa meratapi keadaan, dan Ranah Minang bisa berubah menjadi surga apabila kesadaran akan merubah keadaan selalu menggerogoti kemalasan yang ada. Yang tak kalah penting adalah semangat kebersamaan harus terus dibuktikan dengan cara menawarkan gagasan-gagasan serta proses pencerdasan pemikiran dalam pengkomunikasian karya-karya ke hadapan publik.

Seperti pameran yang bertajuk Koor yang diselenggarakan oleh pihak Taman Budaya Padang pada tanggal 4 s.d. 9 Juni 2007 dengan memamerkan karya seniman Pentagona+. Event yang mengandung hasrat pembuktian keberadaan serta menciptakan iklim yang kompetitif di kalangan pelaku seni di Minangkabau, ini juga merupakan sebuah pertanggungjawaban moral seniman ke hadapan publik.

Pentagona yang berdiri pada tahun 2003 merupakan kelompok yang di huni oleh lima orang pelukis yaitu, Zirwen Herzi, Nasrul, Harisman Tojes, Amrianis, Dwi Agustyono, dan Irwandi. Namun seiring perjalanan dan perkembangan kelompok ini, maka pada pameran yang bertajuk Koor mereka mencoba menampilkan hal yang berbeda dengan melibatkan/menambah personilnya (Nasrul). Dengan demikian evolusi substansi yang berawal Pentagona doang bergeser menjadi Pentagona+.

Terlepas dari pernyataan eksplisit kelompok ini, Pentagona+ juga tergolong unik atau bisa jadi aneh. Dengan perbedaan kecendrungan dan karakter karya yang ada mereka mampu hadir secara bersamaan dan saling mengisi. Apakah mereka berkumpul dengan wadah yang diberi nama pentagona+ ini berdasarkan kesamaan visi atau karena kesejajaran popularitas. Apapun itu dengan hadirnya Pentagona+ dalam percaturan seni rupa Ranah Minang, juga mengandung harapan agar kelompok yang mereka bentuk dapat dipertimbangkan dalam pergulatan seni rupa Indonesia. Sehingga nantinya keadaan di Ranah Minang sendiri menjadi terangsang untuk terus berkompetisi dan berkontribusi.

Menilik Koor yang dikuratori oleh Erianto Anas dan Syafwan Ahmad bisa dikatakan proses analog yang diadobsi dari mereka yang berkecimpung di wilayah musik. Di sini Koor diartikulasikan atau usaha mencaplok spirit pada kelompok paduan suara (vocal group), yang para pesertanya saling melantunkan suara, nada, rasa, bahkan gerak bila perlu, secara bersama. Di sini juga melakukan pendekatan pada ungkapan senada kendati karya yang ada memiliki kecenderungan yang berbeda. Tetapi koor juga tidak melakukan pemisahan bahkan meniadakan ”satu rupa tunggal”, apalagi saling melabrak, melainkan pengelolaan pluralisme dan kebebasan kreatifitas.

Begitu juga yang diantar oleh Syafwan Ahmad dalam pameran ini bahwasanya Koor merupakan produk kontemplasi atau semacam manifest kebudayaan. Sebuah manifes dan pilihan yang tak mudah dalam tingkat implementasinya, mengingat Minangkabau dan iklim berkesenian yang pada umumnya belum kondusif, dalam pengertian masyarakat maupun pihak terkait masih bersikutat dalam upaya pemenuhan kebutuhan pokok dan penekanan aspek dan prioritas lainnya. Sehingga paradoks yang bersimpul pada permasalahan menghidupkan seni, bukan seni yang memberi penghidupan, juga tak lepas dari isu-isu yang mengukur langkah dari pameran Koor ini. Indikasi yang mencuatkan proses seni yang dilakukan seperti layaknya sebuah ibadah yang bermuara pada kepuasan intelektual dan spiritualitas belaka.

Sejauh yang diutarakan baik oleh kurator maupun peserta pameran Koor, secara alamiah juga terjadi persaingan dalam konteks merebut perhatian publik. Ini jelas tak terlepas dari tingkat eksplorasi teknis dalam mengolah bentuk-bentuk. Namun hal yang cukup mempengaruhi karya-karya pada pameran kali ini adalah bias-bias dari kecenderungan karya-karya yang sedang hit di belantika seni rupa Indonesia. Namun beberapa dari mereka tetap konsisten melaluai tahap-tahap perkembangan yang mereka jalani, alias tidak melompat-lompat ke sana ke mari dalam mencari identitas kekaryaannya.

Di samping itu, juga tidak mengherankan di antara personal yang ada mengejala pembedaan kesadaran yang kentara dalam pengayaan pada konteks pengembangan wacana. Sebagian dari mereka dengan penuh kesadaran menyatakan baik secara implisit ataupun eksplisit pentingnya pemikiran yang tentunya nanti akan membantu mereka sendiri agar lebih cerdas dalam menawarkan gagasan. Namun sebagian kecil dari kelompok ini juga memperlihatkan dan bahkan dengan percaya diri mengatakan secara terang-terangan bahwa tak ada yang penting selain penghargaan finansial. Namun hebatnya mereka, perbedaan pemahaman yang kontras antara sesama mereka tersebut, tidak menjadikan semua itu sebagai bumerang dalam proses perkembangan berkelompok. Sebab hanya satu yang ada di benak mereka, yaitu saya berbuat bukan karena siapa-siapa, dan saya, kami ada karena kami berkarya. Dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam pameran ini, hal terpenting yang ingin mereka bangun adalah untuk melahirkan motifasi dan pengkondisian pemahaman terhadap kebutuhan personal mapun berkelompok serta masyarakat.

Dimuat di majalah Visual Art edisi Agustus – September 2007

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.