Dalam diskusi mengakhiri Pameran Lukisan Batara Lubis (almarhum) di Bentara Budaya Yogyakarta, 9 Juli tujuh tahun silam (1983), pelukis Affandi berkata: “Sekarang, sebaiknya, kita tidak perlu memitoskan orang. Saya juga jangan dimitoskan sebagai “pelukis besar”. Itu ndak perlu, hanya bikin celaka.”

 Lalu seraya menyulut korek api ke pipa cangklongnya yang kesekian kali, maestro yang telah menjadi duta-budaya di kancah internasional itu memberi alasan.

“Soalnya, orang yang memitoskan tidak akan pernah melebihi kemampuan tokoh yang dimitoskan. Karena saya menaruh harapan pada generasi berikut, agar mereka lebih pinter, lebih besar, dari saya, mitos-mitosan itu kita akhiri saja. Yang penting membentuk diri sekuatnya. Kalau harapan saya ini ndak bisa terwujud lebih baik saya mati saja sekarang. Hidup ndak ada gunanya lagi.”

(Dikutip dari tulisan Butet Kertaradjasa, “DR H Affandi Kusuma Pergi Selagi Tak Ditunggui” yang dimuat di tabloid Monitor edisi No. 213/IV, Minggu, 27 Mei 1990)

Jangan Lupa, 100 Seniman untuk 100 Tahun Affandi dalam pameran seni rupa “Boeng Ajo Boeng: Tafsir Ulang Nilai-nilai Manusia Affandi” di Bentara Budaya Yogyakarta, Museum Affandi, dan Taman Budaya Yogyakarta, 1-14 September 2007. Dibuka oleh Menteri Budaya dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E. pada hari Sabtu, 1 September 2007 jam 19.00 WIB di Bentara Budaya Yogyakarta. Pembukaan pada hari Minggu, 2 September 2007 di Museum Affandi oleh kolektor Dedi Kusuma, dan pada hari Senin, 3 September 2007 di Taman Budaya Yogyakarta oleh penikmat seni Oei Hong Djien.

Seniman: Abdi Setyawan, Ade Darmawan, Agapetus Kristiandana, Agung Kurniawan, Agus Burhan, Agus Kamal, Agus Leonardus, Agus Yulianto, Ahmad Gani, Ali Umar, Altje Ully, Amrianis, Amrus Natalsya, Andre Tanama, Anusapati, Arahmalani, Arie Dyanto, AS Kurnia, Asmudjo Jono Irianto, Ay Tjoe Christine, Bambang Pramudyanto, Bambang Soekarno, Bambang “Toko” Wicaksono, Cadio Tarompo, Didik Nurhadi, Didit Budi Karyawan, Djoko Pekik, Dona Prawita Arrisuta, Dyan Anggraini, Edi Prabandono, Edi Sulistyo, Edi Sunaryo, Edward ‘Edo’ Pop, Eko Nugroho, Eko Prawoto, Endang Lestari, Entang Wiharso, Erizal, Fadjar Djunaedi, Gusmen Heriadi, Hanafi, Hedi Hariyanto, Heri Dono, Heri Purwanto, I Gusti Ngurah Udiantara, Iriantine Kamaya, Irwan Ahmett, Ivan Sagito, Iwan Effendi, Januri, Julnaidi MS, Kartika Affandi, Komunitas Seni Belanak, Koni Herawati, Laksmi Shitaresmi, Lian Sahar, Made Toris Mahendra, Mella Jaarsma, Melodia, Mess 56, Nasirun, Nico Siswanto, Niko Rikardi, Nindityo Adipurnomo, Noor
Sudiyati, Nurkholis, Nyoman Gunarsa, Ojite Budi Sutarno, Oskar Matano, Pande Ketut Taman, Pramono Pinunggul, Putu Sutawijaya, Putu Wirantawan, Putut Wahyu Widodo, Riduan, Robi Fathoni, Ronald Manullang, Rosid, Ruangrupa, Rudi Mantofani, Rukmini Affandi, Slamet “Soneo” Santoso, S. Teddy D, Samsul Arifin, Setyo Priyo Nugroho, Sigit Santoso, Soeprapto Soedjono, Stefan Buana, Suatmadji, Sudargono, Sudarisman, Suklu, Syahrizal Pahlevi, Taufan St., Teguh Wiyatno, Terra Bajragosha, Tisna Sanjaya, Ugie Sugiarto, Ugo Untoro, Wara Anindyah, Wedhar Riyadi, Yani Mariani Sastranegara, Yuli Prayitno, Zirwen Hasri

Kurator: Kuss Indarto, Sudjud Dartanto, Hari Budiono

Dari milis Lintaseni (lintaseni@yahoogroups.com)

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.