OLEH: SUWARNO WISETROTOMO

Ikhwal Identifikasi
Dalam rangkaian denyut kegiatan seni rupa di Indonesia, saya kira hanya di daratan pulau Sumatera yang memiliki kegiatan dengan label “se Sumatera” seperti kegiatan kali ini, “Pameran Lukisan dan Dialog Perupa Se-Sumatera (PLDPS) X”. Sebuah kegiatan yang bertahan dalam rentang waktu yang panjang (kali ini yang kesepuluh). Kita semua tahu, menjaga kegiatan semacam ini agar tetap berkesinambungan, sungguh tak mudah. Kita bisa membayangkan sejumlah kerumitan penyelenggaraan; koordinasi, komunikasi, termasuk biaya. Dalam kaitan itu, kita pantas memberikan apresiasi yang tinggi pada “para penjaga perhelatan PLDPS” atas komitmen dan integritasnya. Bahkan di Jawa, tidak ada perhelatan yang secara spesifik disebut sebagai “pameran seni rupa se Jawa” misalnya (tentu saja segera bisa dijelaskan, bahwa hal itu belum tentu penting dan diperlukan untuk konteks Jawa, karena di Jawa dinamika dan ruang kompetisi begitu tinggi; baik yang dilakukan individu, kelompok, institusi seperti biennale, atau pameran-pameran berkala lainnya. Skala penyelenggaraannya juga beragam; dari yang lokal hingga internasional, semua dapat diakses dengan leluasa).

Kembali pada PLDPS, dalam pandangan saya, sebaiknya sebutan “se-Sumatera” jangan terjebak pada rutinitas yang tidak menawarkan (dan membawa) perubahan apa-apa. Akan tetapi harus dapat dioptimalkan dan diberdayakan, antara lain untuk mengidentivikasi diri, sembari melakukan semacam analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threats). Dengan pendekatan SWOT, akan terlihat keunggulan atau potensi (strenght), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunity), dan tantangan, ancaman, atau hambatan (threats). Pendekatan semacam itu akan membantu proses pemberdayaan menjadi lebih tertata. Hal semacam ini penting dilakukan, karena harus berhadapan dengan logika, bahwa Jawa – khususnya Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, atau Bali – sebagai pusat pertumbuhan pemikiran dan praktik seni rupa (bahkan juga pasar). Padahal fakta menunjukkan bahwa di setiap wilayah – entah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua – sesungguhnya menyimpan potensi, sekaligus kelemahan, juga memiliki kesempatan dan segala tantangannya.

Ikhwal potensi misalnya: bahwa lokalitas (budaya, tradisi, hingga detail-detailnya seperti adat, nilai-nilai kehidupan, motif, dll), adalah merupakan tema-tema – atau sebutlah sumber inspirasi – yang tak habis-habisnya diserap dan dieksplorasi, terlebih lagi ketika dihadapkan dengan masalah perubahan atau pergeseran budaya. Ikhwal kelemahan misalnya, dari aspek produk karya sering tampak pada miskinnya eksplorasi gagasan, material, dan teknik. Kekayaan lokal sering tak mampu dilihat dan diolah secara kritis. Kemudian dari aspek organisasi atau pilar-pilar penyangga, masih terhadap dengan profesionalisme dan miskinnya patronase (masih juga terdengar ‘ketidakkompakan, atau ketidakakuran’ antarinstitusi, hanya semata-mata karena prasangka dan komunikasi yang kurang bagus). Ikhwal kesempatan, sesungguhnya terbuka kemungkinan memberdayakan diri menjadi “pusat perhatian” – sejauh mampu mendorong kreativitas dan menumbuhkan patronase. Sedangkan ikhwal tantangan, adalah bagaimana mampu mengatasi titik-titik lemah itu menjadi G-Spot (menjadi titik rangsang yang menggairahkan).

Ikhwal Politik Identitas
Jika “se-Sumatera” berhasil menguatkan keberadaannya, maka sesungguhnya akan memiliki peran dalam membangun politik identitas. Dalam berbagai forum diskusi internasional, saya sering mendapatkan pertanyaan, “adakah atau seperti apakah seni rupa Indonesia?”, dengan persepsi dan pemahaman bahwa demikian ‘warna-warni’nya (baca: beragam, hiterogin, multikultur) Indonesia, “bagaimana mungkin Saudara menyebut seni rupa Indonesia?” tegas pertanyaan itu. Sesungguhnya pertanyaan tersebut lumayan usang dan tidak cukup menarik untuk dijawab. Akan tetapi, itulah fakta percakapan di lapangan (bahkan di fora internasional).
Dilihat dari perspektif yang lain, maka di dalam pertanyaan tersebut terkandung jawaban, yakni “keberagaman” itulah seni rupa Indonesia. Seni rupa yang membentang dari ujung Sumatera hingga ujung Papua, yang dengan lentur menyerap segala perubahan, pengaruh, ciri, dan sebagainya, dari berbagai gejala perkembangan seni rupa di dunia. Itulah saya kira pintu masuk kita untuk menguatkan “Politik identitas” melalui corak dan kecenderungan (visual) seni rupa Indonesia.

Membongkar Pesona Sumatera
Yang lokal, kemudian yang unik, yang spesifik, adalah sebuah pesona dan daya tarik. Seni rupa “se-Sumatera” – ataukah ia menjadi “seni rupa Sumatera”? – apakah memiliki itu ? Bagaimana membaca dan memahami karya-karya Zirwen Hasri, Amrianis, Herisman Tojes, Nasrul, Irwandi, Evelyna Dianita, atau karya-karya Komunitas Belanak, atau Pentagona (Padang), karya-karya Amran Eko Prawoto (Medan), Besta (Riau), Oon (Bengkulu), Dedi Junaidi (Palembang), Subardjo, Edi Fahyuni (Lampung), Joko Irianto, Ari Siswa Managisi (Jambi), dll. Atau secara khusus bagaimana membaca dan memaknai karya-karya yang terseleksi dan tampil dalam PLDPS X – 2007 kali ini?

Apakah “se-Sumatera” sudah mewakili ikhwal pesona tentang sebuah kekuatan, yang dengan gagah dan meyakinkan sebagai ‘seni rupa Indonesia’ ? Ouww… rumit amat ? Begini saja, peristiwa berkala seperti PLDPS memang dituntut menghadirkan ‘yang terkuat dan yang penting’ dalam suatu kurun atau pembacaan tertentu. Maka “Ragam Kekinian Seni Lukis Sumatera” (saya kira harus diperluas menjadi Seni Rupa Sumatera!) dalam pandangan saya, dikaitkan dan diposisikan dalam rangka dan kerangka “pesona Sumatera” dan sebagai bagian penting dalam upaya membangun politik identitas. Di dataran itulah tawar menawar posisi (bargaining position) dapat dimulai, agar selanjutnya terjadi mobilitas sentrifugal, mobilitas melenting dan meluas daya jelajahnya.

Bangkit dan Suarakan!!!
Saya akan meminjam jargon Tujuan Pembangunan Millenium atau MDGs (Millenium Development Goals) dalam hal mengatasi pemiskinan, yakni “bangkit dan suarakan”, untuk memprovokasi “seni rupa Sumatera”. Jargon tersebut dapat digunakan sebagai ‘daya dorong’ untuk perupa dan seni rupa Sumatera dalam kaitan memasuki ruang pergaulan yang meluas di segala level.

Dalam kaitan itu, maka perkara atau tema yang serius adalah mobilisasi – ke samping, ke atas, ke bawah, bahkan ke segala penjuru – agar ‘potensi tersembunyi’ serta segala tantangan dan kelemahan (eksplorasi teknis, gagasan, pesan, dsb) dapat diolah dan akhirnya berada dalam ruang pencarian dan kompetisi kreatif yang produktif.

“Bangkit dan suarakan” memiliki konsekuensi dan resiko yang tidak sederhana. Intinya adalah penguatan peran di seluruh lini, dengan capaian (goals) ruang kesetaraan. PLDPS seharusnya menjadi pemicu yang tepat dan efektif untuk menciptakan “pusat perhatian”. Jika “bangkit dan suarakan” ini menjadi jargon dan kesadaran bersama, jika capaian (goals) menjadi kesadaran bersama, saya percaya bahwa peristiwa tahunan “se-Sumatera” ini akan menjadi “pusat perhatian” yang sesungguhnya.
Jika… ya… jika…!!!

Suwarno Wisetrotomo, Kritikus Seni Rupa, Dosen Fakultas Seni Rupa & Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

Dari: PLDPS X JAMBI 2007

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.