OLEH: NASBAHRY COUTO

Dalam tulisan ini saya bermaksud meretrospeksi wacana seni di daerah, khususnya di Sumatera Barat atau Padang. Segala aspek tentang seni, bisa dibicarakan, dari saya dan untuk saya.

Penanya (P): Bagaimana menurut anda perkembangan seni, khususnya seni rupa di Sumatera Barat, atau Sumatera?

Penjawab (J):Ah, saya kan orang yang termarginalkan, bagaimana pula saya bisa bicara soal seni di Sumatera atau Sumatera Barat ? Buktinya sudah sepuluh (X) kali diadakan PLDPS (Pameran Lukisan dan Dialog Perupa Se Sumatera), apalagi dalam kancah seni Minangkabau, saya kan tidak pernah diundang, apalagi untuk angkat bicara. Mungkin ada anggapan sementara orang saya tidak tidak pintar ngomong di forum semacam ini, namun saya berpendapat bahwa ada orang yang berperan dan pintar bicara, isinya hanya komentar-komentar yang subjektif, bukan sebuah penjelasan berdasar ilmu pengetahuan seni. Kalau anda tidak percaya coba buka katalog-katalog pameran yang ada, seniman sendiripun banyak yang memberikan komentar terhadap karyanya sendiri. Dan, berdasarkan komentar seniman tentang idenya, kurator memberikan komentar pula. Jadi katalogus pameran adalah komentar atas komentar ide seniman. Dalam praktek seni, hal ini seperti memindahkan posisi seniman, dari posisi individual kreatif ke posisi sosial, dari posisi kreator (seniman) ke posisi komentator (kritikus). Sebenarnya posisi seniman tidak boleh mengambil posisi kritikus, seniman hanya berhak memberikan penjelasan (explanation), misalnya tentang subjek matter seninya. Jadinya, ajang PLDPS atau bahkan seni rupa Minangkabau atau yang semacam ini bisa jadi ajang adu mulut dan otot, ketimbang adu otak. Dan yang bisa bicara hanya orang-orang itu saja. Tradisi semacam ini harus diubah, jika inginkan pembaharuan

P: Ya, saya tahu, anda itu jarang berkarya (melukis maksudnya), kegiatan anda kan beberapa kali menulis di SK Singgalang mengenai seni visual dan selebihnya hanya mengajar. Terakhir kami ketahui anda memberikan semlok kritik seni yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat (bulan Januari 2007) dan menyinggung mengenai Sosiologi Seni, sebelumnya juga anda pernah membahas “Pengaruh ragam Budaya Dalam Pendidikan Seni” dalam Seminar Nasional Pendidikan Seni Rupa 23-24 Juli 2006 di kota Padang.

J : Tokoh yang ikut menyuarakan seni sumatera, sdr. Mamman Noer, baru-baru ini meninggal, saya ikut prihatin dengan hal ini dan ikut belasungkawa. Salah satu yang sedikit mengenali seni sumatera adalah sdr. Suwarno Wisetrotomo. Di tingkat lokal ada sdr. Adi Rosa dan Akhyar Sikumbang, yang rutin mengikuti even ini, tetapi yang terakhir ini saya belum pernah melihat tulisannya yang representatif membahas mengenai seni. Diskursus mengenai seni Sumatera nampaknya, hanya sampai pada tradisi lisan.

P: Bagaimana sebenarnya tradisi seni moderen sumatera, jawa atau daerah lainnya menurut anda?

J: Selintas saya melihat bahwa tradisi seni moderen Sumatera, Jawa atau lainnya sama-sama berangkat dari tradisi seni Barat. Tradisi aslinya di Barat adalah tradisi berfikir tentang artefak/benda buatan (material thinking), paling tidak sudah ada sejak jaman Plato, dan dikembangkan sejak Renesan (abad ke 14) (Lihat: Paul Carter, (2004) Material Thinking), Jhon A.Walker, 1989, atau Clark (1998); jadi bukan semata tradisi ketrampilan. Tradisi ini di Indonesia, legal formalnya, ditularkan melalui institusi pendidikan tetapi umumnya sudah tereduksi, (misalnya INS kayu tanam yang melihat sebagai tradisi ketrampilan), dan sebelumnya melalui komunitas sanggar-sanggar seni, sebelum kemerdekaan RI. Pengetahuan ini secara sosial diperoleh melalui media majalah, koran atau brosur pameran atau even seni. Tradisi pendidikan sanggar pernah saya ikuti melalui pelukis Wakidi (Alm), pendidikan non-formal seperti ini hanya menularkan diskursus teknis dan gaya seni, anehnya tradisi semacam ini juga masuk ke Pendidikan Tinggi seperti di Seni Rupa UNP. Akibatnya tradisi ilmiah seni umumnya tereduksi (dimiskinkan), dibandingkan dengan ilmu lainnya seperti matematika atau IPA. Perkembangan pada level SD sampai SMA hanya sebatas ketrampilan, dan terakhir sebatas pengalaman kelas (class-room experience). Jadi sebenarnya ada dua koridor produk seni visual, satu artefak atau materi, satu lagi litereratur sebagai produk tradisi berfikir tentang seni, keduanya harus seimbang dan terjalin antara satu dengan lainnya. Jika pendidikan formal tidak mendukung, maka yang mati adalah sejarah seni lokal, atau menurut istilah Jhonson, matinya modal budaya lokal (cultural capital)

P: Jadi bagaimana hakekat seni itu, dan bagaimana membahas dan menulis seni itu menurut saudara?

J: Tradisi Barat dalam berfikir tentang seni, ada dalam 4 (empat) tingkat diskursus, coba anda baca buku Jhon A.Walker, 1989, (“history of design and design history), atau buku Clark (1998) Moderen Asian Art, level pertama adalah tingkat kuratorial, dialog seni, kritik seni, penulisan seni di SK, majalah; level dua adalah di jurnal seni yang menjaga kekonsistenan ilmiah seni; level tiga adalah di rancangan sejarah seni; level empat adalah sejarah seni (History of Art) yang dapat dipakai sebagai sumber acuan. Jadi dapat di dipastikan dialog seni se sumatera selama ini hanya ada di level pertama (dasar). Dan apakah level ini dan hasilnya dapat dipakai sebagai acuan (referensi), wallahualam ? Jadi harus ada pengkajian lanjut sampai ke level sejarah, kemampuan menuliskan ini tentu bukan sembarangan, harus oleh pakar seni, dan bukan oleh pakar atau kurator seni karbitan, yang tidak punya latar belakang ilmiah seni yang memadai (multi disiplin).

P: Tulisan-tulisan Suwarno Wisetrotomo, tentang seniman sumatera menurut saya juga baru di level dasar, yang berbicara tentang politik seni, identitas, dan kekuatan diskursus, yaitu semacam peta diskursus seni di pulau Jawa-non Jawa, pusat–non pusat, hal ini sudah lama disebut oleh Clark (1998) sebagai kekuatan diskursus, ekstrimnya sebagai kekuatan politik diskursus, namun ada juga tulisan Suwarno yang mampu menggali proses dan dasar artistik praktek studio, seperti pembahasan tentang lukisan Entang Wiharso, 1996, Konstruksi, Konflik, Mimpi dan Tragedi, (bunga rampai) dan tulisan lainnya.

Mengenai seni, dan hakekat seni memang banyak yang bertanya kepada saya. Seni itu apa? Sebenarnya jawaban mengenai pertanyaan ini harus dikembalikan ke sifat dasar manusia (humanisme), dan sifat universalitas seni. Paling tidak harus dikembalikan kepada seniman, sebab dia yang dapat merasakan ( power of sense) dan apa dasar tindakan aksi subjektifnya dalam kegiatan seni (power of action). Seni itu menurut Barret bukanlah hanya pengetahuan yang eksak (exact knowledge), tetapi juga oleh pengetahuan yang terpendam (tacit knowledge) Barrett, Estelle, “Creative Arts Practice, Creative Industries Method and Process as Cultural Capital”, http:// www. gu.edu. au/ school/ art/text /speciss /issue3 /barrett .htm , Desember, 2007. Jadi seni itu adalah peristiwa subjektif, individual yang mensosialisasi.

Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa pengetahuan terpendam (tacit knowledge) dan praktik logika alternatif adalah tiang semua penemuan ilmu pengetahuan, namun operasi logika ini sering dilihat berlebihan karena digolongkan ke dalam logika rasional, yang tidak terkait dengan produksi artistik. Lihat, Bourdieu, Pierre (1990). The Logic of Practice, Oxford, Polity Press. Pengetahuan ini, boleh jadi hanya dapat dipahami sebagai operasi kognitif atau ‘aktivitas sensasi’ yang memperlihatkan hubungan antara subyektifitas individu dan fenomena objektif, termasuk gejala mental (mental phenomena), gejala pengetahuan dan gagasan–gagasan/ide-ide) (Grenfell & Yakobus, 1998). Bourdieu menjelaskan bahwa, karena pengetahuan tentang kondisi penciptaan ini muncul sesudah adanya fakta, dan terjadi dalam ranah komunikasi rasional, “ produk yang sudah jadi, dari sebuah gejala operasi (the opus operatum), dan rahasia maksud tertentu (modus operandi)” (Bourdieu, 1993) Seni dan desain adalah alat (agent) yang memiliki kekuatan untuk menjadikan sesuatu yang tidak ada (nothing) menjadi ada (thing), dan alat agar ide menjadi aksi (action). Pendidikan seni dan desain bukanlah untuk mengulangi apa yang telah ada (craft, handycraft, atau reproduction), tetapi inovasi (inovation) dan produksi (production) dan akhirnya menjadi modal budaya (cultural capital)

P: Anda melihat kebingungan penulis, misalnya Erianto Anas dalam artikel Belanak, 23 September 2007, tentang adanya klaim bahwa karya Stevan lebih hebat dari pada yang lain pada pameran pa.no.ra.ma (bulan agustus 2007), bagaimana pendapat Anda?

J: Saya kembali kepada konsep di atas, level diskursus seni ini sebenarnya ada di level dasar, dan sebelum membahasnya perlu pula untuk dicatat bahwa tokoh panutan yang populer sekarang tentang pendidikan dan penelitian seni adalah G., Sullivan, yang orang Australia itu, yang menulis buku (2005) Art practice as research dan uraiannya ini sekarang telah menglobal. Sullivan membuka mata tentang fenomena seni yang dilihat secara komprehensif yang berfokus pada praktek studio. Apa sebenarnya tindakan (action) seniman itu, sehingga sebuah material dapat disebut karya seni. Jadi kalau sdr. Arianto ingin mencari kebenaran, berarti menginginkan pembahasan ini ada di level pengetahuan (knowledge) seni, dilemanya adalah, peristiwa yang terjadi ada di ranah sosial, dan dari segi diskursus berada di level dasar, dan bersifat multi disiplin (ekonomi, politik, sosial, budaya). Jadi terdapat dualisme disini, satu pihak ingin melihat ukuran-ukuran pengetahuan artistik dalam dimensi pengetahuan praktek seni (mono-disiplin), dipihak lain ingin melihat dalam dimensi ilmu pengetahuan sosial khususnya sosiologi seni (yang multi disiplin). Barangkali kita dapat merenungi apa yang dikatakan oleh Rowe, (Rowe, 2003) tentang dongeng ilmuan solitary (terpencil) mencari kebenaran, yang menyalahi jaman (anachronistic) dan absurd (mustahil), jika dia berusaha untuk memecahkan masalah dengan peralatan yang tidak cukup, dalam mengemudi dan bergerak ke arah pendekatan lebih terintegrasi kepemahaman ilmu pengetahuan tetapi melebihi disiplin ilmu tradisionalnya.

Saya bukan ingin mengecilkan arti tulisan Erianto (Padang) maupun Suwarno (Yogya), tetapi ingin membayangkan semacam ranah diskursus seni. Kurator maupun publik sering mencampur adukkan kepentingan seniman dan kepentingan sosial seni, pada hal keduanya berbeda. Sering terjadi komentar-komentar yang menimbulkan kesan bahwa apa yang dikatakan kurator sah mewakili ilmu pengetahuan praktik seni (art practice), pada hal bukan. Penilaian dan ukuran hanya sah sebagai peristiwa seni pada ranah sosial budaya lokal dan level diskursus dasar. Bukankah lahirnya kelompok “independent” di Jogya, karena kepusingannya tentang diskursus seni ? Ini sebuah pertanda bahwa tradisi berfikir dan menulis seni itu bukan milik kita? Bukankah ini sebagai akibat negatif dari isu ekonomi kreatif yang kurang dipahami ? Ayoo, buatlah karya seni dan jual ke pasar dan jangan pusing dengan pemiliki galery maupun kurator seni

P: Anda kan pernah memberikan ceramah mengenai sosiologi seni, apa sebenarnya inti ceramah ini dalam konteks pendidikan seni ?

J: Nah ini, barangkali yang menjadi kunci pembicaraan kita, dalam uraian saya mengenai sosiologi seni dijelaskan bahwa, praktik seni memang peristiwa subjektif, individual dan merupakan “tacit knowledge” (ilmu pengetahuan yang terpendam), tetapi hasil praktek seni juga dapat dilihat sebagai modal budaya (cultural capital), Dikatakan oleh Johnson bahwa nilai modal budaya ini tidak semata bergantung pada bidang produksi, tetapi juga melalui konteks sosial dan kelembagaan, dimana dia diterima dan diedarkan. Dia mengidentifikasi beberapa kategori modal budaya: yaitu objek budaya yang mengacu pada artefak peradaban dan produk, seperti lukisan, buku, pertunjukan, film dan even-even lainnya; institusi modal budaya yang mengacu kepada artefak kuno dan aktivitas yang diterbitkan, dibiayai, disponsori, dikuasakan dan disebarkan oleh pemerintah dan institusi lainnya.

Seni itu dimulai oleh subjektifitas individu, dan secara sosial melalui proses resepsi atau penerimaan, dan akhirnya menjadi kekayaan komunitas (Hauser, 1982). Jadi secara teoritik, penilaian individual tidak sama dengan penilaian sosial. Itulah alasannya dalam rangka resepsi seni, yang berlaku adalah penilaian bersama dan diakhiri oleh kesepakatan (convention) komunitas. Tetapi sebagai sebuah fenomena seni sifatnya masih temporer dan lokal, sebab hanya pada level sejarah/history yang merupakan kesepakatan mutlak komunitas yang lebih besar (walaupun sejarah juga bisa diubah). Hauser bahkan membuat sebuah peta sosilogi seni bahwa yang berperan dalam menilai seni tidak hanya sebatas seniman tetapi juga, penilaian dari komunitas seni, kritikus, kurator, museum, institusi pendidikan seni (lokal) dan sebagainya. Penilaian seni yang benar, setidaknya mewakili semua pihak, atau setidaknya oleh pakar seni. Disini kita berbenturan dengan diskriminasi dan pandangan Barat, bahwa seni Indonesia itu sambungan seni Barat, dan ekstrimnya bahwa seni Indonesia itu tidak ada ( bukankah ini juga sebuah penilaian dan pandangan komunitas yang lebih besar)

Jika dikaitkan dengan pendidikan, kita sebenarnya sudah ketinggalan jauh dengan negeri maju seperti Eropah dan Jepang. Program pendidikan seni di negeri kita masih konservatif dan berhenti hanya pada “pengalaman kelas” ( Classroom art experience), dan dibatasi pula oleh kurikulum terpusat. Teori pengalaman seni di kelas ini sebenarnya dipelopori oleh Jhon Dewey yang di politikkan di Amerika, sehingga masuk ke dalam program seni sekolah. Tetapi di Amerika sejak tahun 1980-an, program ini sudah lama ditinggalkan diganti dan beralih kepada program pendidikan seni yang terintegrasi dengan program museum. Artinya belajar seni mulai dari tingkat TK, SD, SMP-SMU umum dilaksanakan bukan semata pada pengalaman kelas, tetapi melalui program Museum seni, galery dan pusat dokumentasi perkembangan seni. Dan patut di catat, siswa umumnya dilatih untuk bukan hanya untuk praktik seni liwat media museum seni, tetapi juga menulis tentang karya seni yang dilihatnya (hal ini sangat dipentingkan) yang disebut dengan “visual literacy project”, dan sebuah catatan lagi : kemampuan menulis dan membaca apa saja yang dipelajari adalah kunci dari sebuah negara maju. Mungkin keterangan ini yang tertinggal dalam uraian saya dalam semlok kritik seni yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat bulan Januari 2007, bahwa menulis tentang seni di negara maju sudah dilatihkan sejak dini yaitu sejak di tingkat TK. Dan sekali lagi saya ingin berucap, museum penting sebagai bagian pendidikan pengembangan kreatif seni, tetapi sayang sekali kebanyakan museum kita adalah museum antropologi budaya dan waktu seakan berhenti, dan kita juga berhenti berfikir hanya sebatas seni tradisional/ lokal.

Catatan: diskursus = diskusi, pembicaraan, dialog

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.