OLEH: IBRAHIM

Hasrat pemenuhan kebutuhan dengan karya seni tidaklah keliru jika dipandang sebagai kondisi alamiah bahkan suatu yang didambakan. Seiring dengan perkembangan di segala aspek kehidupan, seni juga turut aktif memengaruhi kondisi sosial ke sebuah peradaban modern yang ditandai pada pemanfaatan seni itu sendiri dalam memenuhi dan membentuk kebutuhan-kebutuhan yang semakin kompleks. Ini bisa kita baca dari proses penciptaan kebutuhan-kebutuhan ”baru” yang dimanifestasikan melalui karya seni, baik dalam bentuk produk maupun pencitraan. Begitu juga halnya ketika berbicara komoditi yang sarat dengan pemanfaatan seni rupa sebagai produk komoditi maupun untuk pencitraan. Sehingga ini menjadikan pembicaraan akan seni rupa juga semakin luas dan tak terbatas. Untuk lebih lebih lanjut ada baiknya dilihat dulu sebisanya apa kira-kira kriteria dari komoditi.

Berbicara komoditi tidak ada ubahnya seperti kita melihat sebuah objek. Dalam masalah yang lebih konkret objek di sini adalah objek yang dapat mempengaruhi subjek. komoditi juga tidak bisa dilepaskan pada keterkaitannya dengan manusia sebagai subjek. Keterkaitan antara objek dan subjek ini, mau tidak mau harus melalui hubungan-hubungan tertentu yang berperan sebagai predikat, sehingga objek/komoditi nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tertentu subjek, entah kebutuhan itu bersifat fisik maupun psikologis.

Kondisi di atas dapat dilihat dari persoalan yang sederhana. Katakanlah saat seseorang membuat pembersih telinga dengan tujuan untuk ia pakai sendiri, jelas ini tidak dikatakan komoditi. Akan tetapi, ketika ia membuat pembersih telinga dengan tujuan untuk dikonsumsi oleh orang lain maka itu bisa menjadi komoditi beserta asas pemindahan tangan yang biasa disebut jual beli (predikat). Tidak lepas dari hal tersebut, dalam penciptaan komoditi tergambar juga usaha untuk melakukan penelusuran kegunaan. Dengan kata lain, apa yang akan ditawarkan memiliki nilai guna bagi orang lain. Seperti dari sisi produsen, bagaimana komoditi yang akan ia hadirkan dapat memenuhi kebutuhan bahkan keinginan konsumen, sehingga dalam menguasai atau menghadirkan komoditi, kebutuhan atau keinginan merupakan sasaran yang harus selalu dijungkirbalikkan dengan bermacam tawaran kegunaan (pendekatan antropologis). Peran seni di sini bisa berfungsi ganda alias menjadi objek komoditi, dan lebih ekstrem ia sekaligus sebagai kekuatan yang bisa menciptakan kebutuhan dan keinginan akan komoditi itu sendiri (sebagai media pencitraan).

Seni rupa, jika dihubungkan dengan masalah komoditi tidak heran ia dinamai seni terapan atau seni kerajinan dan industrial, sebab kegunaannya jelas sangat dekat dengan transposisi penunjang aktivitas fisik serta pemenuhan hasrat dan pasar. Di samping itu, seni terapan juga menjadikan keindahan objektif sebagai ciri ”wajib” tanpa mengenyampingkan nilai-nilai kegunaanya. Sehingga dalam membaca seni kerajinan lebih kurang berda dalam wilayah profan atau seni yang siap di sulap menjadi komoditi. Lebih lanjutnya, dalam seni kerajinan juga tak tertutup kemungkinan menghadirkan karya-karya yang berda pada tataran yang lebih ”tinggi” dari seni industrial/kerajinan lainya yang di kenal dengan High craf. Namun ciri yang tak lekang dari seni ini adalah keberadaanya dalam wilayah kerajinan/carf, sehingga kedekatannya dengan persoalan komoditi tidak dilihat terlau ektrem.

Menilik persoalan diatas berdasarkan pertimbangan pada persepsi lain, kontroversi bisa saja muncul ketika kondisi antropologis yang digunakan untuk menciptakan komoditi dan pasar telah berlaku untuk seni rupa yang lebih menekankan pada realitas metafisik. Ini menggejala ketika seni rupa yang hobi berbicara nilai-nilai, pesan sosoial, atau makna-makna, dan pembentukan kondisi metaforis (bahasan pribadi), malah melakukan pendekatan antropologis komoditi. Apa kira-kira akan yang terjadi dengan kondisi ini? Apalagi ketika karya tersebut telah diproteksi oleh kebutuhan dan keinginan dari kekuatan eksternal lainya.

Keadaan yang di paparkan tersebut bisa menjadi bumerang saat terjadinya kekaburan atau kesalahfahaman pembedaan pendekatan antropologis karya seni rupa (seni murni-seperti lukis, patung, grafis dengan seni terapan/komoditi). Sebab salah satu oposisi yang terkonstruksi dalam pemahaman seni (seni murni) tidak akan setara secara hakikatnya ketika nilai/makna yang akan menjadi pembentuk kondisi metaforis telah menjadi komoditi. Di sini tentu bukan masalah baik atau tidak baik, benar atau salah, namun untuk mengurai persoalan komoditi di tubuh seni rupa dan pembedaan pendekatan demi memposisikan wilayah bahasan serta pemahaman akan seni rupa itu sendiri.

Kendati demikian, dalam praktek seni rupa pembedaan masalah seni anti komoditi atau seni yang dikomoditaskan sampai kini tetap masih menuai kontroversi di antara proses kreativitas yang terus berjalan. Ini dimulai dari seniman yang tidak setuju jika karya-karya yang pada hakikatnya lebih mengutamakan perwujudan nilai-nilai atau makna berubah menjadi komoditi apalagi kejar pasar. Reaksi kecurigaan juga bisa saja muncul pada seniman yang karya-karyanya tidak dikomoditikan oleh pihak yang bisa menggeser karyanya menjadi komoditi, katakanlah galeri komersil atau balai lelang dan kolektor. Sehingga menjadikan momen ini sebagai ajang pergulatan atau lebih gawatnya untuk saling menjatuhkan dalam mengarungi dunia seni yang sebenarnya multi-interpretasi.

Kolektor dan Kepentingan
Kalau diamati secara terbuka adakalanya bicara kepentingan akan berhadapan dengan konsekuensi perbedaan kepentingan. Baik kepentingan–kepentingan yang selalu mengitari proses berkesenian maupun kepentingan dalam pemanfaatan karya seni itu sendiri. Begitu juga menilik fungsi dan tujuan seni rupa, jelas tidak lepas dari kepentingan yang kalau tidak salah selalu berkembang. Pun demikian, juga tidak bisa dielakkan dengan perkembangan kepentingan menjadikan perbincangan tentang seni rupa itu sendiri turut (harus) berkembang hingga ke wilayah politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Katakanlah dalam penciptaan sitem ekonomi/pasar yang nantinya seniman akan berhubungan dengan kolektor. Bagi kolektor karya seni jelas suatu yang penting dan harus dimiliki. Kemudian, pentingnya karya seni bagi kolektor tentu diintegrasikan juga dengan kepentingan lainnya. Apakah itu untuk memenuhi kebutuhan spiritual, intelektual, transendental, atau untuk kepentingan investasi/pasar.

Dalam pembacaan pasar seni rupa, kepentingan sepihak (kolektor) seperti diatas memang sering terabaikan saat di proyeksikan bersamaan dengan kepentingan seniman, sehingga bagi sebagian yang mengamati dan menjalani proses kesenian, melihat kepentingan akan karya seni terkadang menuai kebingungan atau dihadapkan pada persimpangan. Salah satunya adalah kecemasan pada penciptaan komoditi yang disinyalir masih dilihat sebagai dampak pemerosotan nilai dari karya seni. Kecemasan lain terhadap kolektor juga tampak dari potensialitasnya dalam mengarahkan perkembangan kesenian itu sendiri. Seperti apa pengaruh kolektor dalam mengarahkan perkembangan kesenian akan dibahas setelah ini.

Kritisnya pandangan terhadap kolektor disadari sebagai realitas yang telah berjalan di dunia seni rupa Indonesia. Kondisi ini lebih menonjol sejak booming-nya seni lukis Indonesia sekitar tahun 1980-an, dengan ditandai terjadinya transaksi jual beli di hampir setiap pameran seni rupa di beberapa kota, terutama Jakarta. Saat itu juga, mulai membiak kolektor-kolektor atau kolektor yang berstatus kolekdol dan broker. Pemalsuan karya seni dengan modus pengelabuan kolektor yang memang pada saat booming tersebut sangat minim akan pengetahuan tentang seni rupa juga marak terjadi. Babak inilah yang menjadikan kolektor sebagai paradoks di setiap perbincangan dan pencitraan kesenian itu sendiri. Tidak hanya sampai di situ, persaingan yang sangat ketat antara seniman juga mulai berkecamuk. Baik itu sesama seniman Indonesia maupun dengan seniman mancanegara terutama seniman Cina.

Sampai saat sekarang, kritisnya penilaian terhadap sosok kolektor tidak ayal menelurkan salah satu pernyataan “melacurkan kesenian” “woow…bisa tuuuh?!”. Pernyataan yang jauh dari kebenaran ini tentu akan mencari tempat dalam pemahaman seni ketika karya seni yang lahir dari kreativitas disamakan seperti memaknai kehormatan kodrat manusia. Kendatipun pembedaan pemaknaan seni seperti ini bisa ditampakkan ke permukaan, hal lain yang akan muncul setelah itu adalah pembenturan kepentingan-kepentingan akan proses dan pemanfaatan karya seni itu sendiri. Katakanlah seni yang diwarisi dengan pemahaman pada penghargaan kebutuhan psikologis atau intelektualitas dibedah atau dibenturkan dengan seni yang ditarik untuk kepentingan pemanfaatan material (pasar) yang hanya sekadar menjual hasil dari kreativitas seniman. Apa yang kira-kira terjadi? Apalagi benturan yang telah ada tersebut dibenturkan lagi dengan segerombolan orang yang memanfaatkan dan membela seni untuk kepentingan alat komunikasi komersial kapitalis, tentu ini akan semakin seru lagi.

Di manakah posisi kolektor dalam masalah tersebut? Di antara benturan segitiga tersebut jelas kolektor menjadi salah satu gunjingan dan dituduh berperan dalam mengonstruksi benturan pemahaman di atas. Seperti dikatakan sebelumnya, kolektor cukup berpotensi menggeser arah perkembangn kesenian itu sendiri. Alasan yang bisa menopang pernyataan ini bisa dilihat ketika seniman sebagai pembuat karya seni telah berlomba-lomba “mengekori” selera kolektor dalam menawarkan gagasannya. Apalagi kolektornya hobi investasi dan memiliki mekanisme pasar yang bersifat substansif. Kolektor semacam ini tentu tidak sembarangan dalam memilih karya seniman yang akan ia koleksi, alias yang dicari adalah karya yang banyak digemari pasar seni. Konsekuensinya adalah karya-karya yang akan terbaca di sini tak lain adalah karya-karya yang telah berjalan di “rel-rel semu” buatan kolektor. Sehingga proses kreativitas metaforis terindikasi telah berjalan di luar kealamiahan proses perkembangan kesenian itu sendiri, matinya gagasan personal, menguapnya identitas, dan hilangnya terobosan. Inilah dampak pengaruh kolektor dalam mengarahkan proses kesenian yang saya maksud.

Bagaimana Sumbar?
Bagaimana Sumbar? Maksudnya bagaimana di sini jangan-jangan Sumbar (Sumatera Barat) khususnya Padang, apakah terlibat dalam meracik bumbu untuk membangun jalur penuh benturan “indah” tersebut atau hanya sekadar mendengar dari kejauhan tanpa merasakan langsung benturan tersebut? Yaa…, awalnya sih demikian, tapi sejak booming dunia seni lukis tahun 1980-an yang diwakili secara simbolis oleh beberapa kota di Indonesia, jelas keadaan di Sumbar tidaklah sekompleks yang terjadi di Jakarta misalnya. Oleh sebab itu, bagi sebagian seniman Sumbar, kolektor terkadang sangat dinanti-natikan kedatangannya.

Jika persoalan ini kita lihat secara lebih terbuka, mungkin pertanyaan yang pas untuk Sumbar saat ini adalah apakah kolektor atau pecinta seni sudah tumbuh di Sumbar? Mengapa ini harus dipertanyakan? Yaa…, kalau masalah kolektor yang mengoleksi karya seniman Sumbar jelas praktek tesebut sudah berjalan hingga tulisan ini selesai. Namun anehnya, yang meminati karya seniman Sumbar itu bukanlah kolektor lokal (masyarakat Sumbar) yang telah sadar bahwa praktek simbolis yang dilakukan seniman Sumbar harus diinventarisasi agar tidak kehilangan karya seni yang suatu saat bisa saja menjadi artefak penting. Sehingga di masa mendatang, masyarakat Sumbar tidak perlu repot-repot pergi ke Belanda atau kemanalah untuk melihat karya nenek moyang mereka saat ingin membaca sejarah. Lalu, siapakah yang telah membawa karya seniman Sumbar sekarang? Jawabannya jelas kolektor yang datang dari luar Sumbar yang tanggap melihat proses krativitas di Sumbar. Sehingga mereka dengan “leluasa” menjelajahi proses kretivitas seniman Sumbar di antara keterlenaan masyarakat Sumbar yang siap terperangah karena suatu saat akan merasa kehilangan.

Dalam hal ini, kenapa Sumbar seperti memosisikan kolektor sebagai sesuatu yang penting dan harus ada? Ya, seperti yang belum saya tulis diatas, di beberapa sisi kolektor memang sangat terasa memberikan dampak “positif dan negatif”. Namun pengaruh lainya di dunia seni rupa adalah perannya dalam membantu rumah seniman agar tidak menjadi tempat tumpukan karya seni. Kemudian, kolektor mampu memperlancar roda perekonomian seniman dalam perwujudan kreativitas. Namun, hal yang sangat substansial, kolektor juga merupakan bagian dari infrastruktur seni rupa di antara infrastruktur lainya seperti galeri, museum, kurator, atau kritikus dan institusi pendidikan. Dengan demikian, tinggal bagaimana masyarakat meletakkan dan memosisikan kepentingan dalam mengafirmasi (melakukan penguatan) pilihannya untuk memaknai realitas. Disamping itu seniman juga tidak kehilangan ekspresi sosial dan kemampuan kritisnya ketika telah berada dalam simulasi pasar seni. Dengan kata lain tidak merasa nyaman, adem ayem dengan “pra prestasi” yang di capai. Sehingga melihat pasar seni yang telah merambah ke wilayah Sumatera Barat tidak menjadikan pembacaan akan kondisi kesenian Sumbar seperti melihat jejeran toko yang hanya menjual karya seni. Sebab jika terjadi kekeliruan dalam mensiasatinya akan berdampak negatif untuk genersi selanjutnya.

Catatan kecil, jika kita ditarik kembali benturan diatas, jelas akan tetap menjadi benturan jikalau kepentingan yang berbeda masih saling dihadapkan. Persoalan ini sama saja dengan main perang-perangan ideologi dalam memaknai realitas. Di samping itu, hal yang mungkin selama ini menuai perbedaan yang kadang tidak berkeselesaian adalah ketidakmampuan mengenyampingan idealisme. Dengan kata lain, saat kita mengatakan, mendengarkan, menerima, atau mengerjakan sesuatu pandangan atau persepsi orang lain, seolah-olah kita menuduh idealisme kita telah terjajah. Ketakutan inilah yang sebenarnya menegakkan jejeran “pagar-pagar tinggi” dan menghalangi pemahaman akan pendapat lain. Hal yang mungkin bisa dicoba adalah bagaimana mencari ruang gerak di antara perbedaaan kepentingan tersebut dalam rangka mengembangkan diri (idealisme) yang kalau bisa diintegrasikan pula dengan kondisi sosial. Dengan begitu, keselarasan proses kreativitas seniman dengan kepentingan lainnya (kolektor) bukan menghadirkan bumerang, tapi berjalan selaras dan berkontribusi pada kultur sosial.

Padang, 26 februari 2008

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

Komentar ditutup.