OLEH: NASBAHRY COUTO

KISS (Keep it simple, and stupid)

Fenomena yang terdapat dalam dunia desain, perencanaaan pembangunan daerah atau strategi perang, bisa saja masuk ke dalam dunia seni. Kreatifitas seni dan desain dapat berorientasi kepada pemakai/pasar (user oriented), kepada peningkatan nilai visual dan fungsi seni (use oriented), yang ketiga adalah KISS. Yang terakhir ini menarik karena keunikannya.

Kreatifitas berdasarkan “KISS”, adalah praktik easy going, tanpa pikir panjang , dan bisa juga diartikan “tak perlu difikirkan”. KISS adalah strategi atau filosofi yang dipergunakan dalam perang Irak-Amerika, akibatnya sekarang Amerika mengalami depresi ekonomi. Dalam melaksanakan pemerintah daerah, jika tidak hati-hati maka RESTRA dan REPETADA yang direncanakan, akan terlihat seperti KISS sebagai dampak otonomi daerah (kultur meme: ingin meniru daerah lain), atau karena tidak punya pelaku profesional dalam pelaksanaannya. Apakah naiknya harga minyak tanah bukan praktek KISS ? Prinsip KISS, juga dipakai teroris dalam melakukan aksinya. Strategi yang dipakai programer komputer, dalam membuat sebuah sofware, juga harus KISS. Alasannya, adanya segudang masalah yang terdapat dalam membuat sofware, seperti: “sudah usang”, tidak terpakai atau laku, dibajak oleh orang lain, tidak disukai pasar, dan masalah lainnya, akan menyebabkan kefrustasian desainer sofware jika tidak memakai filosofi KISS. Jadi KISS itu ada baiknya, tetapi juga ada sisi buruknya.

Bentuk KISS, secara politik dan praktik diakui sebagai sebuah strategi, dia dapat terujud sebagai prinsip sebuah aksi. Secara psikologis dan kultural, KISS adalah akibat kultur meme atau “peniruan”. Namun secara ekonomi dan politik KISS adalah dampak dari masyarakat yang tertekan dan akibat otoritas dalam sosial. Dalam beberapa hal, praktik seni kontemporer dapat dilihat sebagai praktek KISS. Dalam bentuk lain, dapat dilihat dalam kehidupan manusia, seperti mode rambut, mobil, dan pakaian adalah hasil kultur meme dengan prinsip KISS. Terutama bagi para pelaku budaya yang ingin cepat cari duit dan gampang terpengaruh. Yang banyak mengadakan duplikasi seni di Indonesia adalah sinetron dan filem, lainnya adalah seni rupa dan desain. Apalagi jika tidak ada aturan organisasi profesi, manajemen, atau pakem seni yang mengerem aksinya agar tidak jatuh kepada KISS.

Seni perlu pakem ?

Para ahli umumnya sepakat bahwa seni dan desain itu harus memiliki pakem (aturan) tertentu, agar seni itu tidak hanya duplikasi, imitasi, peniruan (kultur meme). Pakem seni visual yang paling umum, adalah aturan bahwa praktik seni itu harus mengacu kepada dua pilar utama, pertama mengacu pada konsep yang berkenaan dengan inovasi (inovation) dan tampil beda (differentation), dan yang kedua adalah keberhasilan persepsi visual (deals with visual perception). Masalahnya adalah bagaimana audience dan aspek psikologi berbaur agar memperhatikan, bagaimana persepsi visuil dapat meningkatkan pemahaman tentang differentation. (Daniela Büchler, Staffordshire University, England) Keberhasilan visual estetika akademik diukur sebatas estetika komposisi (irama, balance, aksentuasi, harmoni, dsb), sedangkan estetika budaya memang beragam, namun semua berakar dari psikologi, apa yang menjadikan sebuah karya seni menarik ? Bukankah yang erotik, lucu atau mungil, mengagungkan (sublime), seram, mengerikan (horor), parlente bisa bermakna estetik bagi kultur tertentu. Pemanfaatan aspek psikologi dalam seni dan desain bukanlah hal yang baru, tetapi pada umumnya, apa yang dilihat adalah hasil dari keinginan psikologis, seperti perasaan, pilihan, kelembutan, keindahan adalah sebagian sisi subjektif manusia saat berhadapan dengan artefak seni. Dalam hal ini, manusia dipandang memiliki tolls seperti: persepsi visual sebagai penentu objektif atas skala penglihatan, dan atas perbedaan (differentation). Berangkat dari pandangan ini maka pengulangan, peniruan (imitasi) karya-karya yang telah muncul sebelumnya bertolak belakang dengan prinsip inovasi bahkan dengan prinsip seni itu sendiri.

Praktik seni kontemporer di Indonesia ada yang terjebak dalam KISS. Akar permasalahannya, tidak semata-mata kurangnya kecakapan praktik individu, tetapi oleh faktor lingkungan yang tidak mendukung inovasi dan differentation, seperti latar dunia pendidikan yang tidak menghargai kreatifitas seni, kemudian terpaku kepada produk seni yang sudah usang. Contoh yang populer dalam seni rupa, adalah pengulangan karya lama, seperti meniru pemandangan alam corak tertentu, atau meniru gaya seni yang sedang tren di tempat lain. Pengamat yang sadar dan mengamati seni bercorak KISS, akan cepat bosan karena disuguhi oleh praktik seni yang tidak inovatif. Prinsip ini justru bertentangan di alam seni kontemporer. Diakui atau tidak, satu sisi seni kontemporer adalah audience/market, dimana ada stimulan terhadap seniman, agar menyuguhkan sesuatu yang baru dan segar dengan prinsip perbedaan (differentation)

User oriented dan use oriented : praktik seni berbasis riset

Secara filosofis, praktik seni dengan prinsip use oriented, adalah seni untuk kepentingan peningkatan kualitas dan nilai seni itu sendiri, yang tidak banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Terus-menerus bermaksud untuk tampil beda (differentation), inovatif dan untuk keberhasilan persepsi. Prinsip ini dapat dilihat dalam berbagai paras, seperti seni untuk seni (dlm.bhs, Perancis Ll’art pour art’), Seni untuk ekspresi seni (abad ke 19), seni sebagai ide dan konsep (abad ke 20) seni sebagai sign dalam semiotika, dan sebagainya. Perkembangan ini seirama dengan kepentingan peningkatan nilai, dan pandangan terhadap sejarah seni, dan hasil hubungan (subjek /pelaku dengan objek (artifak) seni itu sendiri. Secara tradisional, seni dihubungkan dengan kecakapan seseorang ber-seni, dan ini adalah bagian dari pada filosofi use oriented, dimana berbagai hal tidak selalu dikomandokan oleh faktor eksternal (user oriented), seperti tren seni, kolektor, galery, komunitas seni, pembeli dsb. Dalam sejarah seni seni, seorang seniman dianggap penemu “inquary” dari inspirasi-inspirasinya sendiri. Sebaliknya filosofi user oriented, walau tidak bertentangan, namun sejajar dengan kepentingan use oriented, sebab seni murni juga bermuara kepada kepentingan sosial dan ekonomi. Prinsip ini belum lama usianya, namun secara historis, filosofi ini berasal tradisi budaya visual. Budaya visual umumnya hadir dalam berbagai imaji, terutama sekali yang berhubungan dengan humanisme –dimana melalui performance-nya – telah menyeretnya langsung ke situasi komunikasi visual, khususnya dalam hal audience sebagai market. Misalnya dalam bidang kartun, animasi, pertelevisian, perfileman dan grafis web. Umumnya, antara kreator dan audience atau peminatnya dapat saling mengkoreksi dan menilai secara langsung. Bidang budaya visual seperti audio-visual, perfileman dan pertelevisian, seni digital dan musik panggung adalah beberapa contoh dimana kreator dikendalikan, dan atau berkreasi berdasarkan riset – kalaupun tidak – dia akan melihat kecendrungan audience/pasar (kecuali budaya visual tradisional). Akhir-akhir ini, seni murni juga terseret masuk kedalam core ekonomi dan industri kreatif. Walaupun bukan hal yang baru, ada mata rantai yang menghubungkan seni dengan ekonomi atau industri. Memang istilah industri, atau ekonomi kreatif ini dapat memancing berbagai perdebatan bagi pelaku seni, komunitas seni, atau akademisi seni. Terutama dalam hal kesulitan terminologinya. (lihat. Barrett, Estelle, 2007) Bagi Barret, yang diperdebatkan adalah ‘berbedanya tujuan seni murni dan inovasi seni dengan tujuan market (pasar)’. Bahkan Christopher Scanlon dalam (The Age Review, 5 February, 2005:8), menjelaskan keberatannya:

This is underwriten by ‘ that certain indefinable even mystical quality’ described by, as any endeavour that results in ‘turning pretty much everything into something that can be bought and sold on the market’. Maintaining a competitive edge and economic relevance is undoubtedly a major challenge faced by university art departments.

Tetapi Barrett ( 2007), akhirnya mengakui bahwa seni adalah sebagai bagian dari cultural capital (modal budaya),dan sejak lama pula Hauser (1978:134-185) mengatakan seni sebagai bagian “intellegentsia”, bahkan “kekayaan”(property). Bagi yang ingin memperdalam pemahaman seni sebagai bagian ekonomi kreatif dapat melihat pada situs web. misalnya pada Creative Economy Programme website berbagai negara, termasuk, Singapura, Hongkong, Australia, Inggris (UK) dsb. Sebagai contoh, di negara Inggris misalnya, sebuah nilai ekspresi (expresive values), didefinisikan sebagai bagian dari industri kreatif, yang dimaksud nilai ekspresi itu adalah nilai estetik, nilai spirit, nilai simbol, nilai sosial, makna kultur dan nilai sejarah, dsb) (lihat : pasal 4, Definisi Ekonomi Kreatif, pemerintah Inggris), dan nilai ekspresi itu tidak hanya milik seni rupa, sebab dia ada pada semua jenis seni.

Latar seni berbasis riset: Pemikir Budaya Visual

Daripada berdebat, apakah seni itu bagian dari pasar/user (market) atau tidak. Atau apakah sebuah lukisan (bagian ekonomi kreatif) mesti di jual atau tidak, atau industri hanya sekedar pabrik “lap kaki” atau musik bukanlah industri, perdebatan ini hanya akan memancing kesulitan terminologi seperti contoh di atas. Dan juga saat orang mencoba memahami fenomena industri kreatif (lihat tulisan penulis terdahulu). Bagi penulis, akan lebih menarik, untuk sedikit membeberkan budaya visual itu sendiri – sebagai bagian telaah riset dalam seni dan sebagai disiplin ilmu yang sangat berkembang – antara lain pengembangan bahasa visual (visual language), komunikasi visual (visual communication), retorika visual, persuasi visual, semiotika, gaze, sublime, meme, intertekstual dan sebagainya (yang juga bagian dari seni kontemporer). Ilmu gaze misalnya, menyadarkan kita bahwa seorang pelukis wanita dan pria berbeda pandangannya dalam melukiskan objek yang sama, hal ini bukan hanya dipengaruhi oleh persepsi atau gender, tetapi oleh gaze (tatapan) wanita itu sendiri dengan latar psikologi analisa (lihat: Jacques Lacan, Griselda Polloc, Berger Rosalind Krauss, Bracha Ettinger, dsb.) Namun sayang, rincian mengenai budaya visual di atas belum dapat diuraikan satu persatu pada tulisan pendek ini.

Salah seorang pelopor pemikir budaya visual adalah Yohanes Petrus Berger (kelahiran 1926) di Inggris, yang rasanya perlu digambarkan dalam tulisan ini dan model bagi riset seni yang bersifat empiris (pengalaman pribadi). Terutama bagaimana dia merambah dan membuka dan masuk keberbagai wilayah seni dan profesi seni tanpa ragu-ragu dan dan mendapat pengakuan sebagai inovator dan kreator.Coba saja lihat, dia diakui oleh dunia sebagai seorang kritikus seni, novelis, pelukis dan pengarang sekaligus, bahkan sebagai penulis skrip filem. Dia terkenal karena menulis dan berkarya berdasarkan hasil riset, dia adalah adalah salah seorang pemenang Booker Prize tahun 1972, dan mengantarkannya untuk menulis kritik seni “Ways of seeing”, yang ditulisnya dalam rangka rangkaian acara BBC London, kumpulan karangan ini kemudian dibukukan dan dipakai sebagai teks book berbagai perguruan tinggi dunia.

Berger mengenyam pendidikan di St. Edward, kemudian pada Chelsea School Art dan Central School Art di London. Dia memulai kariernya sebagai pelukis dan hasil pekerjaannya terpajang pada sejumlah Galeri di London sejak akhir 1940-an, antara lain galeri seni di Wildenstein, Redfern dan Leicester London. Berger tetap berkarya sebagai pelukis sepanjang karirnya.Sejak dia memberikan pelajaran menggambar dari tahun 1948-1955), Berger mulai menulis dan menjadi kritikus seni, dia banyak menerbitkan esei dan review dalam pandangan yang baru. Awalnya, dia adalah seorang yang berpandangan humanis markis dan opini-opininya yang kuat dan kontroversial tentang seni moderen, dan mengesankan dirinya figur yang gemar bertengkar. Dia memberi judul beberapa koleksi karangan awalnya dengan nama Permanen Red, sebagai statemen dan komitmen politisnya, dan tulisan-tulisan seperti itu muncul sebelum Soviet mendapatkan kekuatan nuklirnya, yang dirasakan tidak akan menghambat kritik-kritiknya, namun pandangannya kemudian berubah terhadap Soviet setelah itu, dan dia menjadi lebih kritis.

Tahun 1958 Berger menerbitkan novel pertama nya, A Painter of Our Time, yang mengisahkan hilangannya Janos Lavin, yaitu seorang Pelukis Hungaria fiktif yang terkucil, kisah tentang penemuan buku harian pelukis ini oleh temannya kritikus seninya yang bernama Jhon. Buku ini bertendensi politis dan secara terperinci menggambarkan bagaimana sebenarnya proses kegiatan seniman itu. Esei ini dapat menjebak pembaca seakan kisah ini adalah true story. Setelah beberapa bulan buku ini kemudian ditarik peredarannya oleh penerbit, atas paksaan dan tekanan Congress for Cultural Freedom Inggris. Novel lainnya yang setara kesuksesannya dengan A Painter of Our Time adalah The Food of Clive dan Cooke’r Freedom, yang menggambarkan bagaimana keterasingan dan melankolisnya kehidupan kaum urban di Inggris.Tahun 1962, dampak dari tulisannya dia merasa gerah hidup di Inggris kemudian hijrah ke Perancis.

Sepuluh tahun kemudian, sejak tahun 1972 stasiun TV-BBC London mulai menyiarkan beberapa rangkaian karya esainya Ways of Seeing, yaitu sebuah pengantar tentang studi imaji. Karyanya ini sebenarnya adalah bagian dari esai–esai Walter Benyamin yaitu The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (karya seni di jaman reproduksi mekanis). Novelnya yang berinisial G., adalah sebuah fiksi romantik dengan setting Eropa tahun 1898, telah memenangkan baik hadiah James Tait Black Memorial Prize, dan Booker Prize tahun 1972. Ketika menerima penghargaan atas bukunya itu, Berger menganggap penting mendermakan separuh uang hadiah itu kepada Partai Black Panther di Inggris, dan menahan separuhnya lagi untuk mendukung penelitiannya tentang pekerja migrasi yang kemudian dibukukan sebagai A Seventh Man, hal ini dianggapnya penting sebagai bagian dari perjuangan politisnya. Kebanyakan tulisan-tulisannya, adalah studi sosiologis yang dipakainya untuk karangan fiksi dan puisinya, dan tentu saja syarat dengan berbagai pengalaman empiris.Tulisan sosiologis Berger’s lainnya adalah A Fortunate Man: The Story of a Country Doctor (1967) dan A Seventh Man: Migrant Workers in Europe (1975). Hasil eseinya yang berasal dari riset berjudul A Seven Man telah mendorong minat dunia untuk memperhatikan masalah para pekerja migrasi dan latar belakang masalahnya: yaitu adanya isolasi masarakat rural. Karyanya ini dilatar belakangi suatu pedesaan di Quincy, yaitu suatu desa di Haute-Savoie Inggris, dimana ia tinggal dan bertani sejak pertengahan tahun 70-an. Berger dan fotografer Mohr Jean sebagai teman sejawat dan kolaboratornya, mencari berbagai dokumen untuk memahami bagaimana keintiman dan pengalaman petani di tempat itu. Buku berikutnya Another Way of Telling mengisahkan dan mengillustrasikan bagaimana teknik pendokumentasian dan penerapan teori fotografi, kedua hal ini disampaikan dalam esei Berger berikut hasil karya foto Mohr.

Studi nya tentang seniman tunggal yang menonjol adalah The Success and Failure of Picasso (1965), karyanya ini adalah sebuah esei hasil riset tentang bagaimana kesuksesan dan kelemahan karir seniman moderen, masalah seni serta revolusi,. Kemudian tentang Ernst Neizvestny, Endurance, and the Role of the Artist, tentang bagaimana pertentangan yang terjadi antara pematung, politik dan estetik di Rusia. Tahun 1970 Berger bekerja sama dengan direktur filem Alain Tanner untuk pembuatan beberapa film; ia bertindak sebagai penulis skrip dan asisten penulis La Salamandre (1971), untuk filem The Middle of the World (1974) dan Jonah 2000 (1976). Karya fiksi utamanya tahun 1980, adalah tentang trilogi Their Labours ( yang diangkat dalam novel Pig Earth, Once in Europa, dan Lilac and Flag), yaitu yang berangkat dari kisah lingkungan petani Eropa yang dilandasi ekonomi, politik dan kemiskinan kaum urban Eropa kontemporer. Banyak dari Esei Berger yang berhasil mengisahkan kehidupan pedesaan ini adalah hasil riset sosiologis.Di dalam esei terbarunya Berger banyak menulis tentang fotografi, seni, politik, dan memoar; ia menulis The Shape dalam bentuk buku saku, dan menulis cerita pendek tentang kehidupan jalanan di suratkabar Threepenny Review dan The New Yorker. Dia menjual beberapa jilid puisi seperti Pages of the Wound, kemudian beberapa esei teoritis seperti And Our Faces, My Heart, Brief sebagai karya foto yang berisi puisi seperti halnya prosa.

Praktik Seni Berbasis Riset di Yogya

Salah satu model praktik seni berbasis riset di Indonesia adalah atas prakarsa Rumah Seni Cemeti, yang mengadakan pameran dengan tema Masa Lalu – Masa Lupa, 15 September – 8 Oktober 2007. Pameran ini diselenggarakan oleh enam seniman yogja yang ingin merefleksikan Sejarah Indonesia, antara tahun 1930 – 1960 antara lain Agus Suwage, Eko Nugroho, Irwan Ahmett, Prilla Tania, Wimo Ambala Bayang, Yuli Prayitno, adalah salah satu model dari praktik seni berbasis riset, dimana ranah seni dan pokok persoalannya digali melalui riset untuk merekonstruksi sejarah yang dianggap menyimpang. Melalui suatu tema tertentu kemudian seniman berkreasi. Domain-nya adalah riset sejarah (dimensi waktu), komunikasi (dimensi informasi) dan visualisasi atau representasi (bahasa rupa), dalam pengertian ingin mengungkapkan kebenaran sejarah republik Indonesia (1950-1960) melalui teks visual. Dalam situs web-nya, Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta menjelaskan bahwa :

Di kalangan masyarakat seni, pendekatan yang kritis terhadap sejarah telah menjadi wacana yang populer, baik sebagai basis penciptaan karya maupun sebagai gagasan kuratorial. Para seniman mempertanyakan kembali kepercayaan kita terhadap apa yang selama ini ditunjuk sejarah sebagai kebenaran. Metode-metode yang dilakukan oleh para seniman ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh, mengingat pendekatannya yang seringkali subversif dan cara presentasinya yang menekankan pada daya tarik visual.

Strategi yang dipakai oleh komunitas seni Rumah Cemeti adalah dengan memasang empat seniman dari Yogyakarta yaitu Agus Suwage, Eko Nugroho, Wimo Ambala Bayang dan Yuli Prayitno, satu seniman dari Bandung yaitu Prilla Tania, dan satu seniman Jakarta yaitu Irwan Ahmett. Setiap seniman memilih satu judul di antara tiga belas judul yang diperoleh dari Jurusan Sejarah UGM. Selain dipilih karena kekuatan visual dalam karya-karya mereka, para seniman ini juga menggunakan modus riset sebagai bagian dari proses kreatif. Selama proses berlangsung, para seniman berdiskusi dan berkomunikasi dengan para peneliti, saling bertukar data dan mengelaborasi gagasan. Para seniman juga melakukan riset di situs-situs sejarah yang dirujuk dalam penelitian, melihat keterkaitan antara peristiwa-peristiwa masa lampau dengan apa yang terjadi di masa kini. Tujuan pameran ini ingin merepresentasikan cara pandang yang beragam tentang pergulatan untuk “Menjadi Indonesia” pada periode 1930 – 1960. Kisah-kisah personal berbaur dengan fakta-fakta formal untuk menunjukkan bagaimana situasi kolonial menjadi bagian besar dalam usaha membentuk identitas Indonesia tersebut. Melalui bentuk-bentuk visual yang dihasilkan para seniman, dimanfaatkan belajar memahami masa lampau yang terlupa.

Praktik Seni Berbasis Riset dan Riset Praktek Seni di Perguruan Tinggi

Dalam dunia akademik, praktik seni berbasis riset dan riset praktek seni dipelopori oleh Universitas Wollongong dan UTS di Sydney Australia, yang dimulai pada tahun 1984. (Linda Candy Creativity & Cognition Studios, http://www.creativityandcognition.com ). Praktik seni tidak lagi berbasis kepada konsep-konsep studio tradisional yang selama ini dipakai, tetapi kepada dua corak riset praktik seni, pertama disebut dengan studio berbasis riset (Studio based-research) dan riset praktek studio (studio practice-led). Dimana yang pertama (studio based-reserch) memfokuskan diri dengan mengadakan riset sebelum berkarya dan memerlihatkan pengetahuan baru yang diperoleh baik melalui karya desain, musik, performance, media digital, maupun pameran. Sedangkan yang kedua (studio practice-led) memfokuskan studi teks yang mendalam tentang praktik seni itu sendiri tanpa dibebani membuat karya. Salah seorang pemikir studio berbasis riset di australia adalah G. Sullivan (2005) yang terkenal dengan tulisannya, dan bukunya menjadi buku teks praktik seni Perguruan Tinggi seni.

Pengalaman dan contoh praktik studio seni berbasis riset (Studio based-research) tergambar dalam proyek seni Annette Iggulden’ dari Universitas Deakin Australia. Dalam melaksanakannya, dia harus membedakan antara disposisi subjektif dan motivasi pribadi sebagai sumber inovasi dan pengetahuan, dalam proyek yang berjudul: (In The Space of Words and Images (2003). Dia meneliti produksi beberapa lukisan yang dipengaruhi oleh penyelidikannya atas naskah iluminasi (naskah buku kuno) dan embellishment (hiasan) biarawati, dari kelompok biara di Eropa abad Pertengahan.

Proyek ini dikembangkan sebagai tanggapan pribadi seniman, dimana dia merasa dan menempatkan diri sebagai seorang wanita di dalam masyarakat dan dalam pengalamannya sendiri yang merasa sunyi di masa kanak-kanaknya. Adanya motivasi subjektif dan perhatian pribadi atas riset ini, diakui sendiri oleh seniman. Dia menjelaskan bahwa mustahil untuk memisahkan penulisan dan penelitian dari keadaan hidupnya, tanggapan, serta emosi pribadinya terhadap pengalaman sehari-hari (Iggulden, 2002). Melalui proyek ini dia berangkat untuk memahami rasionalitas sasaran itu sebagai respon sekunder intuitif, dan akhirnya dilepaskannya kepada material dan kebutuhan sementara, yaitu bagaimana membuat karya, dan menemukan makna pernyataan psikologis, yang tak dapat dilukiskannya dengan kata-kata. Menurutnya praktek berbasis riset ini memberi peluang untuk memunjulkan aspek subjektif dan di respon oleh pengamatnya sebagaimana merespon praktik seni non-riset.

Pada awalnya Iggulden, terlibat dengan suatu penelitan tentang pekerjaan biarawati yang asing dan termasuk mengcopi dan membaca teks mengenai hal tersebut sebagai suatu alat estetik pada lukisannya, kemudian baru dia melukis. Studinya yang lain adalah tentang tulisan Mesir kuno’ atau sebuah studi kode semiotik visual, kemudian dalam praktiknya dikembangkannya melalui penggunaan format warna abstrak dan bentuk ruang atau yang termuat pada huruf skrip itu. Ini adalah ‘bentuk’ dan lain dari sebuah tanda/ simbol sering muncul di garis tepi naskah kuno, yang kemudian dipakai sebagai gagasan untuk sebuah lukisan dan, sebelumnya hanya dipikirkan melulu untuk hiasan. Riset Iggulden dan terutama praktiknya, sebetulnya lebih merupakan gabungan kegiatan intelektual dan estetik, dan dengan muatan naskah biarawati zaman pertengahan. Dia tidak hanya melakukan penelitian untuk mengungkapkan aspek isi naskah sendiri tetapi juga membuka mata tentang aspek baru tentang kehidupan dan aktivitas biarawati abad Pertengahan yang berhubungan komunitas biara, dalam hal ini juga dikaji aspek intelektual komunitas biara, keindahan, dan mungkin juga termasuk kegiatan ‘motivasi politiknya’. Informasi ini sampai sekarang tidak terdokumentasikan dan yang tak dikenal oleh sejarawan sebelumnya. Karya Iggulden telah membuka suatu arah baru bagi Sejarah Seni abad Pertengahan, dan riset lainnya yang berhubungan dengan naskah abad pertengahan ini. Dalam praktik dia mengembangkan pengamatannya dan mengarahkannya ke arah suatu keseragaman pikiran dan tindakan (Iggulden, 2004), Menurutnya proses kerja seniman adalah ‘interdisiplin’, baik metodologinya maupun dalam kebermaknaan hasil nya . Konteks praktik mencakup penyelidikan pekerjaan visuil yang dikawal baik oleh teks seniman pertengahan maupun yang baru. Kerangka konseptual dan teoritis bagi risetnya ditarik dari bidang filosofi, sejarah, sosiologi dan studi feminis. Hasil riset nya tidak biasa, hasil proyeknya juga tidak terbatas dan terhitung nilainya. Risetnya telah menambah dan mendukung terhadap pemahaman orang tentang pengetahuan historis naskah Pertengahan tertentu. Kemudian, dalam praktik seni disajikan seniman dengan suatu bahasa pribadi atau bentuk visual/verbal untuk berekploirasi dan berekspresi tentang identitas gendernya sendiri. Menurut cerita, pameran karya akhirnya dengan kanvas telah masuk ke Musium Seni Stables di Melbourne tahun 2002, dan banyak dari karyanya terjual kepada publik dan koleksi pribadi di Australia saat itu.

Catatan akhir : (kesimpulan)

Baik prinsip KISS, user oriented, maupun use oriented, bukanlah sebuah resep, aksioma atau dalil tertentu, yang hanya terpakai pada sebuah bidang pengetahuan. Sebab dia berada pada tataran filosofis, yang muncul, untuk menjawab pertanyaan tentang kebenaran (truth) etika (ethics) dan estetika (aesthetic). Dia tidak terbatas pada ‘will’ (keinginan) manusia seperti pada rancangan (design), perencanaan (planning), strategi, politik, atau will ekonomi, tetapi umumnya, dia adalah perilaku manusia (habitus), termasuk habitus dalam seni. Kenapa habitus ini perlu dikemukakan ?

Sebab, salah satu polemik yang berkembang dalam kebudayaan manusia abad ini, adalah kultur meme (lihat, Richard Dawkins, The Selfish Gene, 1976). Menurut Dawkins, semua kebudayaan manusia termasuk ilmu pengetahuan, seni dan teknologi, menyebar melalui peniruan yang kompleks (memepleks). Sebuah budaya apapun, adalah hasil dari evolusi meme, sama halnya dengan sebuah gen makhluk hidup, dimana munculnya makhluk baru, adalah hasil pembelahan dua gen induk, kemudian berjuta, untuk menjadi makhluk baru. Seperti yang dikatakan Glenn Grant dalam (What is meme ?): “Slogan-slogan individu, frasa kata, nyanyian, ikon-ikon, inovasi-inovasi, dan fashion adalah ciri khas atau tipikal dari memes. Sebuah ide atau pola informasi bukanlah sebuah meme sampai seseorang mereplikasinya, atau untuk diulang oleh berbagai orang dan berbagai budaya replikator”. Sebuah drama, filem atau sebuah lukisan, adalah replikasi dari yang asli (eksternal), atau dari dalam diri (internal). Sebuah lukisan, parodi, tragedi, drama, sastra, adalah meme. Sebuah lukisan pemandangan alam, virus komputer dan komputer itu sendiri adalah meme. Wisran Hadi, bicara mengenai budaya Minang adalah dalam rangka memepleks, dan bukan dalam rangka mengarang budaya Minang. Jadi melalui meme-lah sebuah informasi budaya itu terlihat, dan posisi meme-nya dalam budaya yang lebih besar. Bukankah wayang adalah memepleks dari India. Kenapa kita ribut kalau orang Malaysia memetics tari barong ? Bukahkah ini karena kekeliruan pakar budaya kita tentang meme? Selanjutnya dapat pula terjawab, untuk apa meme dilakukan. Semua pancaran ilmu pengetahuan (tidak terkecuali) adalah memetics”, dalam hal ini KISS dapat dilihat sebagai meme langsung (meme total). Filosofi user priented dan use oriented adalah dalam rangka inovasi. Replikasi akan terjadi kalau sebuah inovasi itu menarik bagi replikator lainnya, disini terlihat fungsi metoda ilmu pengetahuan (riset), agar tidak terjadi replikasi langsung. Tidak mungkin manusia bertindak autisme, memesin, atau merobot, seperti adegan komedi Charly Chaplin, mengenai manusia moderen di pabrik. Sebab lain adalah, meme langsung harusnya dapat menjawab, untuk apa replikasi itu ? Seperti sebuah gen kanker atau tumor, yang tiba-tiba mereplikasi diri secara luar biasa, dia malah dapat membunuh gen aslinya. Seperti, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, atau mereplikasi “suhu/guru” yang bodoh, adalah meme yang sia-sia dan ini adalah sebuah bom waktu. Apa kah KISS itu sebuah filsafat ? Apa beda ide dan konsep ? Apakah seni tertentu adalah bagian dari industri, jawaban pertanyaan ini tidak bisa dikarang-karang, kecuali melalui memepleks. Meme adalah sebuah kodrat ilahi, dan sebuah kodrat Tuhan pula, bahwa manusia diberi kemampuan untuk berfikir, merenung dan berekspresi liwat meme, tetapi, sebaiknya tidak hanya sekedar replikator. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menarik untuk pembaca.

Kompleks Melati Gunung Sari I, Air pacah, Padang, Maret 2008

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

2 responses »

  1. Qinimain Zain mengatakan:

    (Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

    Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
    (Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

    APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

    Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

    Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

    JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

    Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

    Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

    Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

    KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

    Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

    Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

    TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

    TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

    Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

    KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

    Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

    Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

    Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

    LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

    BAGAIMANA strategi Anda?
    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  2. pernikahan adat mengatakan:

    Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s