JAKARTA, KOMPAS – Animo masyarakat menyaksikan Manifesto, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia sekaligus peresmian Tangan Patung Ruang Publik Penanda Baru Galeri Nasional Indonesia, Rabu (21/5) malam, relatif besar. Lebih 500 masyarakat dalam dan luar negeri, memadati arena pameran. Pameran yang dikuratori Jim Supangkat, Rizky A Zaelani, Kuss Indarto, dan Farah Wardani itu menampilkan 354 seniman (karya) dari 15 provinsi yang masih eksis dari angkatan 60-an hingga saat ini. Karya yang ditampilkan cukup beragam, ada karya berupa lukisan, patung, grafis, multimedia dan instalasi, hingga karya-karya seni media baru (video art, fotografi, dan lain-lain).

Jim Supangkat mengatakan, pameran ini adalah manifesto artistik yang sekaligus membawa kesadaran nasional dalam bingkai persepsi dan ekspresi “art” sekalihus “seni”. Tajuk Manivesto pameran ini, sambungnya, tidak dimaksudkan untuk menampilkan suatu konsep seni rupa Indonesia atau suatu pemikiran seni yang menelurkan formulasi seni beridentitas Indonesia.

“Pameran Manifesto ini mengangkat pengertian ‘seni’ dan ‘seni rupa’ yang subversif dari dunia ‘bawah tanah’ ke permukaan dan menjadikannya keyakinan utama dalam praktik seni rupa dan pembacaan karya seni rupa,” katanya.

Para perupa yang berpameran kali ini antara lain Zirwen, Sigit Santoso, Ivan Hariyanto, Eduard, Misbach Tamrin, Teguh Ostenrik, Nasrul, Chusin Setiadikara, M Yatim, dan Joko Sulistiono.

Bersamaan dengan pembukaan pameran Manifesto, juga diresmikan patung ruang publik penanda baru Galeri Nasional Indonesia yang berjudul “Tangan” (Hand) karya Prayitno Saroyo, seniman kelahiran Semarang, 12 Januari 1957.

Menurut Kepala Galeri Nasional Tubagus ‘Andre’ Sukmana, patung Tangan terpilih dari 58 karya dari 53 pematung. “Setelah melalui proses penjurian telah terpilih salah satu karya patung terbaik dari empat karya nominasi. Kemudian pada akhir tahun 2007 rancang patung pemenang utama tersebut telah berhasil didirikan menjadi sebuah patung monumental, penanda baru Galeri Nasional Indonesia,” katanya.

Menurut Tubagus, patung monumental Tangan diperlukan dalam rangka mempertegas Galeri Nasional Indonesia sebagai salah satu landmark yang berada di kawasan budaya di Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta.

Galeri Nasional Indonesia yang mempunyai koleksi 1.700 karya mulai dari karya Raden Saleh hingga seniman setelah itu, adalah salah satu lembaga kebudayaan yang menangani perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan koleksi seni rupa modern dan kontemporer, serta mengelola kegiatan seni rupa, baik nasional maupun internasional.

Lima juri untuk menentukan karya patung monumental penabda baru Galeri Nasional Indonesia tersebut adalah Wiyoso Yudhosepurto sebagai ketua, bersama Rita Widagdo (wakil ketua), Yuswadi Saliya, Iriantine Karnaya, dan Asikin Hasan masing-masing sebagai anggota.

Pada acara pembukaan pameran Manifesto dan peresmian patung Tangan, juga ditampilkan performance art Lebur: Akin & Amity, karya kolaborasi SS Listyowati, Rewind-Art dab Sakit Kuning Collectivo.

Dari: Kompas.com

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

2 responses »

  1. rewind art community mengatakan:

    coollll,salam kenal ya (rewindartcommunity.blogspot.com)

  2. iwan ismael mengatakan:

    pengen lagi ke padang…kapan ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s