OLEH: YUSRIZAL KW

Kanvas itu berlatar hitam. Tak menjadi legam karena, sesudut kecil di kanan bawah, ada lentera memendarkan cahaya kemerahan. Cahaya kecil itu, memang tak mampu mewarnai hitam yang luas, namun memberi suasana yang sunyi, kadang kalau lama menikmatinya terasa romantik. Kehadiran lentera itu seakan berpesan, betapa bermaknanya cahaya ketika kita memaknai kelam atau hitam dengan hakikat “syukur ada cahaya”. Sekaligus, hal itu, bisa pula kita siratkan, sebagai optimisme baru seni rupa Sumatra Barat: Ada cahaya harapan.

Demikian setidaknya bisa kita tafsir sebagai narasi deskriptif dari lukisan berjudul “Penerangan”, karya Sabri Marba (100x200cm), yang dipamerkan bersama 57 karya lainnya, di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumatra Barat, 6-12 Juli 2008.

Hal menarik, pameran kali ini, di ruang pameran yang cukup representatif untuk Sumatra Barat, dengan karya perupa usia muda yang juga (untuk Sumatra Barat) cukup mencerahkan. Setidaknya, dengan galeri seni rupa dan pameran perdananya ini, kita digerakkan untuk berpikir dan berharap positif. Rata-rata pelukis usia muda (terutama yang lahir tahun 80-an), menawarkan pencerahan gagasan dan narasi ucap pada pemaknaan kanvas tak sekadar ruang dua dimensi, tetapi memberi energi estetik dan upaya orisinalitas.

Lukisan “Shutdown”, Feriko Edwardi, dominan hitam, memperlihatkan sosok hitam bersila membelakang. Dominasi hitam membuat tubuh telanjang itu bagai bayang-bayang hitam nan kuat. Latar depannya, layar digital, di sudut kiri atas sebuah kursor panah menunjuk simbol “Turn Off”. Wacana yang digitalistik coba ditawarkan, pada lukisan ukuran 160×145 cm itu, seakan membisikkan, kehidupan sesungguhnya adalah kadang sosok “gelap” yang tengah terkoneksi pada percepatan teknologi dan informasi, melakukan pencarian untuk pengakhiran: shutdown! Atau, kita bisa tercekat dengan realita yang ditawarkan pelukis Hamzah, Mantekno dan Menteknoman (mixed media), yang intinya berbisik: kita sedang diteknologikan/digitalisasi atau sebaliknya.

Lukisan “Penerangan” dan “Shutdown”, memperlihatkan kekuatan ide dan eksplorasi sebagai sebuah pencapaian ruang estetik yang menawarkan tafsir tak berhingga. Rona-rona “kesenyapan”, pada pameran kali ini, cenderung dominan. Walau kita juga bisa melihat sebuah letupan pada pilihan bentuk dan warnanya, namun ketika kita juga mencoba “menaratifkan” ide, tema, dan pola eksekusi perupanya dalam bentuk pemaknaan, terasa ada pembebasan diri yang menyeret ke ruang lebih sepi dan kontemplatif.

“Tak ada sesiapa (kecuali kita)” setidaknya kita bisa mendapatkan dugaan kata tersebut pada lukisan “Nostalgia (140×160 cm) karya Muhammad Ridwan. Lukisan dengan kesan tekstur kulit kayu ini, menggambarkan dua anak kecil di ban pelampung, berpegangan tangan dengan ekspresi yang gundah. Begitu juga pada lukisan “Jalan Teduh” (145×185) karya Syahrial. Jejeran pepohonan memanjang (menjauh) di sisi kiri kanan dan jalan yang tampak gersang, adalah suasana yang mempertanyakan:seberapa pentingnya hidup dijalani kalau sunyi mencekam, atau seberapa pentingnya sunyi jika senyap adalah sebuah wadah kontemplatif untuk pencarian.

Wacana-wacana “imajinatif”, paling tidak demikian, kita bisa resapi dari upaya mengorisinilkan benda yang ditawarkan serta memberinya nilai, yang pada awal barangkali bermula pada bentuk yang sederhana dan remeh temeh dalam keseharian kita namun menjadi bermakna di atas kanvas, seperti apel (Tak semanis yang Dibayangkan) karya Harnimal, akrilik 140cmx200cm, kelapa muda (Di Atas Bayang) karya Khriz Atmaja 145×145, jamur (Parasit) karya Rajudin, 180×140 cm, dadu (Taruhan) karya Dwi Augustyono 145×145, Kardus (Ada Apa di Balik Kardus) karya Yunis Muler 140×160 cm, dan lainnya.

Artinya, kita dipertemukan realitas baru dari hal-hal keseharian kita, bisa saja menjadi pesan sosial, budaya atau hal yang filosofis sifatnya. Atau jempol kaki kita merasa “diinjak” oleh Zirwen Hazry melalui lukisan akrilik ballpoint di atas kanvas “Dream”, yang memaparkan dengan nakal, seorang anak menyodok bola bilyar dengan rokok terselip di bibirnya, sementara satu kakinya di dalam bingkai hamparan padangrumput dan satu lagi kakonya di bingkai kardus. Lukisan ini terasa menohok imaji sosial kita, sekaligus berpesan hidup adalah permainan yang posisi kita bisa di dalam (pelaku) atau di luar (penonton), atau senantiasa berganti posisi.

Nilai dan Penguatan Imej
Menikmati 48 lukisan yang dipajang dalam pameran ini, sebagaimana catatan kuratornya, Syafwan Ahmad, ada beberapa kecenderungan style dan bahasa visual. Pertama realis (minimalis), yang menggarap detail, baik figur manusia maupun alam benda. Kemudian corak naturalis, kaligrafi dan abstrak atau nonfiguratif.

Mereka yang mematok pada abstrak atau nonfiguratif, mengomunikasikan seperangkat nilai dan sarat makna. Komposisi bentuk, warna, bidang, tekstur dan lepasan garis, dibahasakan sebagai citraan imaji, yang sesungguhnya membangun ruang tafsir yang pemaknaanya lebih menukik kepada ide yang bersuara, tema yang menawarkan tafsir cerita atau deskripsi pesan tersirat.

Naturalisme, keterpesonaan pada panorama alam Minangkabau, adalah pesan hijau dan simbol budaya sebagai padu-padan, alam dan budaya sebagai ranah peradaban. Ada rumah adat / bagonjong. Setidaknya kehadiran lukisan tersebut menjadi melihat situasi lingkungan saat ini. Kita merasa tenang, kala misalnya mengingat global warming atau illegal logging, saat di depan kita disuguhkan lukisan “Menunggu Pulang” (140×200) Abdul Hafiz, “Peninjauan” ( 100×70) Armansyah Nizar, “Nagari Simpang Sugiran” (90×60) Firman Ismail, “Kampung” (80×120) Erinaldi, “Dharmasraya” (200×240) Nazar Ismail, “Pulang (50×60) Idran Wakidi dan Zainal Ahmad dengan Istana Pagaruyung (90×70).

Tentu ada catatan menarik dalam pameran ini. Setidaknya, untuk Sumatra Barat, kecenderungan kontemporer, keberadaan abstrak (minimalis), sebagai suatu yang tengah memikat, walau di Jakarta, Bandung dan Yogya hal demikian sudah lama. Dimana, perupa muda usia, sebagian masih kuliah, kekuatan ide, orisinalitas bentuk dan media, menjadi perhatian dan ruang yang dimaksimalkan eksplorasinya. Tak jarang kadang kita merasa tengah menikmati puisi, yang diksinya seakan baru saja keluar dari ranah intuisi.

“Ketika Berat Menjadi Ringan” (140x 140) karya Irwandi dan “Mencawan” (140×185) karya Syafrizal kita amati, imaji yang ditawarkan adalah penyulingan ide dan makna untuk diksi yang mengkristal. Tetapi bentuk yang ditawarkan sesungguhnya ingin citraan dari ruang tafsir penikmat, sebagaimana kita membaca letupan “Merah-merah yang Berkilau” (145×145) karya Indra, sebagai suasana ambigu, untuk menegaskan keberadaan ide, bentuk dan pesan sebagai sebuah suasana bagi temuan dan keberadaan intuisi atau imaji.

Dalam pameran ini juga ikut perupa penting lainnya seperti Amrianis, Amir Syarif, Amril M.Y. Dt. Garang, Alza Adrizon, Armen Nazarudin, Cornelis, Debby Nurbianto, Alberto, Dwi Augustyono, Erianto ME, Frans Nanda, FS Sutan, Harmonis, Hanafi, Hamid, Herisman Tojes, Henda Rotama, Hengki Romi Pozia, Ismandi Uska, Ismail Zulfikar, Jon Wahid, Minda Sari, Mislendri, Nofri Anton, Ramli Aziz, Romi Armon, Syafei, Tomi Halnandes, Yul Febrianto, dan Zulhelman.

Secara keseluruhan, lukisan yang dipamerkan, saling memperkuat citra individu sebagai pelukis, dan dunia seni rupa secara lebih substansi di Sumatera Barat. Pameran ini, jelas, juga bisa sebagai momen untuk saling menoleh, pelukis beda generasi, berkarya dengan tetap berkaca dan membaca, agar tak menjadi katak dalam tempurung.

Setidaknya, pameran kali ini, seperti apa yang ditegaskan Kepala Taman Budaya Drs. Asnam Rasjid, peeksposan perupa muda yang kuat dengan ide, bentuk dan pencapaian baru. Artinya, ruang pameran yang kata Asnam terbaik untuk level Taman Budaya se-Indonesia ini, memang harus mengetatkan kriteria kuratorial, agar kelak memang karya terpilih yang bisa tampil di sana. Karena, imej dan kekuatan apresiasi harus dibangun dengan acuan dan tantangan yang jelas.

Dimuat pada di Harian Pagi Padang Ekspres, Minggu, 13Juli 2008

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

4 responses »

  1. dodo mengatakan:

    memang seni tiu adalah titik terang, tak ada seni mana ada warna di dunia
    tanpa seni, dunia bak papan catur
    hitam putih
    bukan taman bunga yang warna warni

  2. NELFI Y...... mengatakan:

    T@npA seni hiduP bagaiKan hamBaR (bukaN sekeDar kata2 lho tapI coBa aj@ deH ra$akAn senDiRi)

    S3ni rupa, seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan.
    K3inGinanQ untuk m3mBaca daN meRasa hanYa Q yanG tau……….

  3. cahaya mengatakan:

    Ada harapan dengan hadirnya setitik cahaya di dalam kelam. Jangan sampai cahaya itu redup dan hilang. Pertahankan cahaya kecil itu supaya tetap bersinar dan menyinari pekat lainnya, menjadi terang.
    Tetap semangat anak nagari..

  4. paceko mengatakan:

    SENI mampu membawa manusia kepada rasa yang terdalam,.bahkan sampai kepada kebenaran (TUHAN)..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s