Sabtu 23 Agustus menjelang sore hari, sebuah atraksi orkestra ditampilkan dengan begitu sempurna di Taman Budaya Padang, pada pembukaan pameran lima tahun komunitas Belanak. Pameran tersebut mengangkat tema Apresiasi Urban. Anak-anak usia sekolah dengan piawai memainkan berbagai alat musik biola, terompet, lira, flugel, talempong gitar, drum band dan lainnya. Penampilan musik itu dibawakan orkestra Kota Padang, yang umumnya anak-anak usia sekolah dasar. Mereka dengan seksama menggesek dawai biola, agar musik yang dimainkan sempurna dan mampu menggugah penonton.

Baru saja musik itu mengalun, penonton memberi apresiasi melalui tepuk tangan yang meriah. Mamad, salah seorang pelatih musik mengatakan hanya butuh waktu satu bulan mempersiapkan konser musik ini. Apa lagi musik tersebut digabungkan dengan pameran lukisan yang berbeda aliran satu sama lainnya.

“Kolaborasi musik dengan lukisan ini muncul karena saya ingin pencinta musik, juga bisa menikmati karya lukisan seniman kita. Kan tidak ada salahnya dua seni dicintai sekali jalan, musik dan lukisan,” kata Mamad kepada Singgalang di sela-sela pembukaan pameran.

Dikatakannya, dengan menampilkan dua atraksi musik dan lukisan akan mendatangkan penonton yang lebih banyak dari sebelumnya, apalagi hal ini sangat jarang terjadi di Sumbar.

Hal itupun diakui wartawan senior asal Sumbar yang hingga kini berkiprah di media media nasional, Yurnaldi.

“Pembukaan pameran yang dibarengi musik ini pertama kalinya dilakukan di Sumbar dan ini patut mendapat apresiasi dari penonton. Apalagi grup orkestranya kebanyakan dari anak-anak sekolah dasar. Ini benar-benar sebuah kemajuan yang bagus dalam dunia seni kita,” sebut Yurnaldi.

Arrifa, 7,5 tahun sebagai salah seorang pemain biola mengaku puas dengan atraksi yang mereka tampilkan.

“Saya senang tampil dalam pembukaan pameran ini, apalagi pembukaan pamerannya dibarengi musik. Hal ini sebuah pengalaman baru buat saya,” papar pemain termuda dibanding pemain biola lainnya dalam grup orkestra Padang.

Kecintaan Arrita, pada musik terutama biola berawal dari sebuah konser di televisi. Waktu itu ia baru berumur lima tahun. Lalu orangtuanya memberi support agar dia eksis dalam musik, yakni biola.

“Ada rasa kagum dalam hati saya ketika pemain biola memainkannya di televisi. Sejak saat itu saya jatuh cinta pada biola, mama dan papa pun memberi support pada saya. Hingga sekarang saya masih mencintai biola tapi bukan berarti saya akan menjadi pemain biola selamanya,” jelas murid SD Kartika I/II Padang itu.

Untuk tampil dalam konser orkestra tersebut butuh persiapan yang matang. Selama satu bulan penuh dia bersama teman-temannya yang lain berlatih dengan giat, agar konser tersebut tidak mengecawakan penonton.

Para pemain biola yang duduk di sekolah dasar itu umumnya datang bersama keluarga, dengan gagah mereka duduk di atas kursi di panggung mini yang telah disiapkan panitia. Para orangtua anak yang tampil itupun bangga karena anak-anak mereka menampilkan musik yang memukau dihadapan para undangan, yang berasal dari berbagai kalangan.

Setelah orkestra Kota Padang selesai menggelar atraksinya, orkestra INS Kayu Tanam pun, tampil dengan tak kalah bagusnya dengan orkestra dari kota bingkuang itu. Okestra INS Kayu Tanam membawakan beberapa lagu populer, lagu Minang dan Hyme INS Kayu Tanam karya Bachtiar Said dengan aransemen Siswandi, SPd.

Okestra Kota Padang anggotanya tergabung dalam tiga komunitas (grup musik Savero, Bintang dan mahasiswa sendratasik), sedangkan orkestra INS Kayutanam adalah siswa jurusan musik.

Sementara, pameran lukisan Komunitas Belanak tersebut dibuka Pimpinan Harian Padang Ekspres, Sutan Zaili tersebut menampilkan sekitar 53 karya Komunitas Belanak, dan karya undangan, seperti pelukis ternama Sumbar.

Ibrahim, kurator mengatakan pameran Apresiasi Urban itu menceritakan tentang perguliran infromasi yang bersifat interpolasi secara besar berjalan dari satu titik ketiti-titik lainnya. Penampakan yang dimaksud tentu bukan karena mayoritas dipresentasikan dari daerah ke pusat. Namun lebih kurang seperti melihat jejeran toko-toko yang beraneka ragam yang menjual produk-produk yang sama.

“Acara ini kami gelar untuk merangsang aktivitas kesenian, sehingga kian menantang para seniman untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya. Pembuktiaan ini tidak hanya secara personal namun juga secara komunal kompetitif,” jelasnya.

Masing-masing karya Komunitas Belanak tersebut sudah dihargai kolektor minimal Rp5 juta/lukisan sedangkan nilai tertingginya mencapai puluhan juta rupiah. Setiap lukisan tersebut memiliki makna tersendiri, yang didapat dari pengalaman pelukis itu sendiri. Pameran yang digagas komunitas Belanak dan difasilitasi UPTD Taman Budaya Sumbar itu akan berlangsung hingga Jumat 29 Agustus mendatang.

Dimuat pada di Harian Singgalang, Senin, 25 Agustus 2008

About Komunitas Seni Belanak

Komunitas Seni Belanak

5 responses »

  1. Biola Jakarta mengatakan:

    Ok Biola Padang, apa kabarnya Dun Sanak …
    http://www.kursusbiola.blogspot.com

  2. bobby mengatakan:

    kren abizzz mat

  3. eta mengatakan:

    maju terus kesenian Indonesia

  4. Ramliong mengatakan:

    Kami dari desa yang menikmati seni rupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s